Hadapi Udara Kering, Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Diimbau Disiplin Pakai Masker
SR, Surabaya – Fokus pada kesehatan jemaah haji kini menjadi prioritas utama di Embarkasi Surabaya seiring dengan keberangkatan ribuan jemaah menuju Tanah Suci. Memasuki hari kelima operasional, para petugas terus menekankan pentingnya persiapan fisik, terutama dalam menghadapi perbedaan iklim yang sangat kontras antara Indonesia dan Arab Saudi.
Berdasarkan laporan terkini dari lapangan, cuaca di Arab Saudi saat ini terpantau masih dalam kondisi normal karena berada pada masa transisi dari musim dingin ke musim panas.
Meskipun suhu udara belum mencapai level ekstrem seperti tahun-tahun sebelumnya, kondisi ini tetap memerlukan kewaspadaan tinggi bagi jemaah asal Indonesia yang belum terbiasa dengan iklim gurun.
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya, Moh. As’adul Anam, menyampaikan bahwa jemaah patut bersyukur karena suhu di Madinah saat ini masih cukup bersahabat. Ia menekankan bahwa kondisi sekarang jauh lebih baik dibandingkan musim haji tahun lalu yang suhunya sempat menyentuh angka 45 hingga 50 derajat Celsius.
“Alhamdulillah tahun ini belum sampai di sana, sehingga masih dalam cuaca yang memungkinkan untuk jemaah kita berada di Madinah,” tuturnya dalam sesi evaluasi harian.
Namun, tantangan utama yang dihadapi jemaah bukanlah suhu panas semata, melainkan tingkat kelembapan yang sangat rendah. Perbedaan mencolok terasa karena udara di Indonesia cenderung sangat lembap, sementara di Arab Saudi udaranya sangat kering. Ketidaksiapan saluran pernapasan dalam menghadapi udara kering inilah yang seringkali memicu gangguan kesehatan bagi jemaah haji.
Sebagai upaya antisipasi, PPIH Embarkasi Surabaya menginstruksikan seluruh jemaah untuk disiplin menggunakan masker selama beraktivitas di Tanah Suci. Penggunaan masker ini memiliki fungsi spesifik yang sangat penting, yaitu sebagai alat bantu untuk melembapkan udara yang masuk ke dalam sistem pernapasan jemaah agar tidak langsung terpapar udara kering yang tajam.
Humas kemenag jatim, Faiz, memberikan penjelasan teknis mengenai mengapa jemaah haji sering kali mengalami batuk saat berada di Arab Saudi. “Kondisi iklim di Arab Saudi itu kan sangat berbeda jauh dengan di kita. Kalau di kita ini sangat lembap, kalau di sana sangat kering. Oleh karena itulah, jemaah kita minta memakai masker untuk melembapkan udara yang masuk ke tubuh kita,” jelas Faiz.
Lebih lanjut, Faiz mengingatkan bahwa tanpa penggunaan masker, udara kering tersebut akan membuat tenggorokan mudah iritasi. Gejala “batuk haji” yang legendaris sering kali bermula dari masalah kelembapan ini. “Cenderung jemaah haji kita itu batuk karena memang di sana udaranya kering,” tambahnya menekankan pentingnya tindakan preventif sederhana tersebut bagi kelancaran ibadah.
Komitmen PPIH dalam menjaga kesehatan jemaah ini diharapkan dapat menekan angka jemaah yang sakit selama berada di Arab Saudi. Dengan pemahaman yang baik mengenai strategi menghadapi udara kering, diharapkan 4.940 jemaah yang telah berangkat maupun kloter-kloter berikutnya dapat melaksanakan seluruh rangkaian rukun haji dalam kondisi fisik yang prima dan terhindar dari gangguan pernapasan. (js/red)
Tags: ibadah haji, Masker, superradio.id, udara kering
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





