Balada Nasib Pawang Ular Piton Keliling di Masa Pandemi

Yovie Wicaksono - 13 December 2020
Abdul Mukti disamping kandang ular peliharaannya. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Mendekati senja, tepatnya pada 16.00 WIB, Abdul Mukti tidak juga beranjak dari tempat duduknya. Pria 65 tahun asal Jalan Veteran, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu terlihat serius mengawasi empat ekor ular berukuran besar yang diletakkan di dalam kandang teralis besi yang dimodifikasi mirip kereta dorong atau gerobak.

“Saya sedang memberi makan empat ekor ular peliharaan saya. Ini saya beri makan kepala ayam, sehari terkadang habis 5 sampai 7 kilo gram. Empat ekor ular peliharaan ini saya beri makan setiap hari Jumat,” kata duda tiga anak ini.

Abdul Mukti menilai sangat wajar, apabila setiap minggunya jatah makan yang diberikan kepada hewan berkategori jenis melata itu sangat banyak, mengingat disesuaikan dengan ukuran panjang dan berat badan yang dirasa sesuai. Empat ekor ular yang dimiliki oleh Abdul Mukti adalah jenis Piton Kembang dan Piton Pari.

“Ular jenis Piton Pari panjangnya 4 meter, sementara ular  Python Kembang mencapai 6 meter beratnya kurang lebih 1 kwintal, Jadi wajar kalau saya beri makanan dalam jumlah banyak,” ujar pria berbadan kekar ini.

Empat ekor ular itu, dirawatnya sejak 6 tahun lalu. Dimana dua ekor ular dibeli dari temannya dengan harga antara Rp 550 – 800 ribu. Kemudian satu ekor pemberian teman dan satu lainnya merupakan hasil tangkapannya di Jalan Veteran yang tidak jauh dari rumahnya.

Adapun piton yang berhasil ditangkap itu terjadi pada 15 Januari 2015 silam. Menurutnya malam itu sekira 23.00 WIB, ia diberitahu temannya jika ada ular Piton Kembang berukuran panjang 6 meter keluar dari selokan pinggir jalan.

“Ular itu keluar dari selokan untuk mencari makan. Dipinggir selokan itu, setiap harinya kan selalu dibuangi kulit telur oleh pedagang martabak. Kemungkinan ular itu keluar mau mencari makan.  Karena tidak ada yang berani, akhirnya saya memberanikan diri menangkapnya seorang sendiri. Saya pegang kepalanya,” ujar pria yang keseharianya berprofesi sebagai pengayuh becak ini.

Lantaran belum memiliki tempat, ular Piton Kembang hasil tangkapannya itu sementara waktu ditaruh di kandang kucing belakang rumahnya. Abdul Mukti kemudian berinisiatif memesan kandang berukuran lebar 1 meter dan panjang 2 meter.

“Saya pesan untuk dibuatkan kandang, waktu itu biaya yang harus saya keluarkan kurang lebih Rp 7 juta,” katanya.

Karena setiap minggunya ia harus mengeluarkan biaya untuk merawat keempat ular ini, muncul gagasan untuk mengkomersialkan hewan peliharaan itu. Setiap ada kegiatan atau keramaian, ia selalu datangi. 4 ekor ular berukuran raksasa ini dipertontonkan ke masyarakat dengan biaya sukarela. Banyak warga yang datang untuk melihat, hanya  sekedar untuk memfoto atau selfie dengan ular. Pemasukan yang didapat cukup lumayan kala itu.

“Biasanya tempat yang didatangi kalau hari Minggu di Gelanggang Olahraga Jayabaya dan Car Free Day Jalan Dhoho. Namun karena ada corona, Gor ditutup tidak boleh ada kegiatan keramaian termasuk juga Car Free Day,” katanya.

Biasanya dalam setiap kali datang di tempat keramaian, Abdul Mukti mengaku mendapatkan pemasukan antara  Rp 300 – 584 ribu. Uang yang terkumpul kemudian ia pergunakan untuk biaya pemeliharaan serta kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun menginjak Maret 2020 lalu, disaat awal pandemi, Abdul Mukti sempat mengalami kesulitan untuk mencari uang. Sejumlah tempat keramaian mulai ditutup. Tidak mau berpasrah diri, ia lantas memilih tempat untuk mempertontonkan hewan peliharaanya itu di perempatan lampu lalu lintas di Jalan Kawi

Di tempat barunya itu terkadang ia mendapatkan penghasilan Rp 200.00 ribu. Tetapi pernah juga sampai tiga hari tidak ada pemasukan sama sekali.

“Kalau mangkal di jalan tidak seramai mangkal di Gor dan Car Free Day Jalan Dhoho. Kalau dijalan, kebanyakan yang memberi pengendara, pengguna jalan kebetulan melintas. Kalau mangkal di jalan terkadang tidak dapat uang sampai 3 hari, sedangkan setiap minggunya saya harus memberi makan 4 ekor ular ini,” kata Abdul Mukti.

Setiap kali para pengguna jalan melintas, rerata mereka memberinya uang Rp 1000 – Rp 2000. Menginjak sore, uang yang terkumpul disimpan, digunakan untuk membeli makanan ularnya. Pada Jumat, ia memilih untuk libur, tidak keliling. Waktu libur satu hari tersebut sering dimanfaatkan untuk memberi makan ular. Selain itu jika ada warga yang membutuhkan jasanya sebagai pengayuh becak.

Dijuluki pawang ular raksasa, yang mencintai binatang 

Abdul Mukti memiliki keberanian yang tidak dimiliki oleh sembarang orang,  terkadang jika ada warga yang ingin berfoto dengan ular. Ia harus mengeluarkan ular Piton Kembang hasil tangkapannya seberat kurang lebih 1 kwintal itu. Tubuhnya yang kekar, ia biarkan terlilit  ular hanya demi menghibur warga yang ingin berfoto Karena aksi nekatnya, banyak orang yang menjulukinya sebagai pawang ular.

“Saya nggak punya keahlihan sebagai pawang ular, bekal saya cuman berdoa. Agar selamat setiap kali salat atau mau berangkat selalu saya baca ayat kursi,” kata pria yang dikenal religius ini.

Abdul Mukti mengemukakan alasannya suka memelihara ular, yakni karena merasa kasihan banyak orang yang memburu dan membunuhnya.

“Saya pernah lihat sendiri, jika ada yang menemukan ular, warga sering memukulinya. Karena kasihan timbul keinginan untuk memelihara ular. Karena kalau dibunuh kan pasti musnah,” ungkap pria lulusan SMEA jurusan Akuntansi ini.

Karena keadaan pandemi seperti sekarang, Abdul Mukti mengutarakan keinginannya untuk menjual 4 ekor ular peliharaannya itu seharga Rp 100 juta.

“Saya jual Rp 100 juta jika ada yang mau membeli, plus saya kasih bonus kandangnya. Ya kalau ada yang nawar nggak papa, pas Rp 90 juta,” katanya.

Dari hati kecilnya, Abdul Mukti sebenarnya tidak ingin menjualnya, namun karena keadaan ia terpaksa mengambil keputusan itu.

“Andai kata setiap orang yang melihat ular, mau menyisihkan rejekinya seribu aja tentu saya senang. Tetapi ya, terkadang ada yang melihat saja nggak ngasih. Tapi ya nggak papa saya ikhlas,” katanya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.