10 Pelukis Tafsirkan Hitam Putih Metafora Tokoh Pewayangan

Rudy Hartono - 23 November 2025
Pelukis Lies Rahayu di depan karyanya berjudul Who is The Real Wayang, di Galeri Prabangkara, Gedung Cak Durasim, Kamis (19/11/2025) (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Pameran lukisan bertema “Bayangan Kehidupan” resmi dibuka pada Rabu (17/11/2025) di Galeri Prabangkara UPT Taman Budaya Jawa Timurjalan  Gentengkali 85 Surabaya,  dan berlangsung hingga Selasa (23/11/2025).

Pameran ini mempertemukan sepuluh pelukis yang masing‑masing menafsirkan kembali tokoh, simbol, dan narasi wayang melalui palet monokrom. Mereka adalah Didik Hari Purnomo, Iklas Baktiar Handoko, Lies Rahayu, Lukman Nul Chakim, Lukman Hidayat, M. Zaki Amrullah, Muhammad Naufal Kurnia, Matarsov, Ramadhan Suryo Hardanu, dan Zulfikar Alwiansyah.

Karya‑karya yang ditampilkan merupakan beragam pendekatan dari alegori sejarah,  kritik sosial hingga refleksi identitas. Adapun standar kecantikan kontemporer yang disepakati yakni memanfaatkan kontras hitam‑putih untuk menegaskan pesan visual.

Kurator lukisan, Agus ‘Koecink’ Sukamto menjelaskan bayangan dan cahaya dalam wayang dalam lukisan itu menjadi metafora dualitas kehidupan suka dan duka, benar dan salah, serta kekuatan dan kerentanan.

Pelukis Didik Hari Purnomo dalam lukisannya Daendels pun Menangis di Galeri Prabangkara, Gedung Cak Durasim, Kamis (19/11/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

“Pameran lukisan wayang ini bukan semata tontonan, melainkan cermin pengalaman manusia. Dan, para pelukis mengajak pengunjung merenung tentang peran, pilihan, dan makna eksistensi manusia dalam dunia kontemporer,” tutur Agus kepada Super Radio, Rabu (19/11/2025).

Beberapa karya lukisan yang menonjol,  menambah dimensi tematik pameran di antaranya lukisan berjudul Who is The Real Wayang karya  Lies Rahayu dan Deandles pun Menangis karya Didik Hari Purnomo.

Lies Rahayu menghadirkan sebuah tafsir kontemporer terhadap wayang.  Di atas kanvas hitam-putih berjudul Who is The Real Wayang, ia menata tiga figur sebagai panggung cerita: dua sosok di tepi yang melambangkan kutub moral –baik dan buruk– serta satu figur di tengah yang mengenakan topeng.

Lukisan Karya Lukman Nul Chakim berjudul Hidayat Pitutur Eyang Semar, di Galeri Prabangkara, Gedung Cak Durasim, Kamis (19/11/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

“Figur bertopeng itu bukan sekadar hiasan, ia adalah simbol realitas sosial dimana banyak orang memainkan peran sesuai kepentingannya sendiri,” ungkap Lies kepada Super Radio. Selain  Who is The Real Wayang, karya lukis Lies Rahayu yang juga dipamerkan, yakni: Cangik a Standard Beauty dan Shadow of Sumadra

Sementara itu Didik Hari Purnomo dalam lukisannya Daendels pun Menangis mengekspresikan kontradiksi status moral dan peran historis yang kompleks pada peristiwa kerja rodi pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sosok Daendels diposisikan sebagai Yudhistira –figur yang diasosiasikan dengan kejujuran, ketegasan, dan kebijaksanaan — namun berpakaian jas ala Belanda.

Di kubu yang lain, figur Duryudono muncul sebagai representasi pejabat pribumi yang serakah, simbol kolaborasi dan eksploitasi yang memanfaatkan posisi untuk kepentingan pribadi. Dan, Sengkuni hadir sebagai pembisik di balik layar, ilustrasi dari jaringan pengaruh, intrik, dan manipulasi yang memperburuk penderitaan rakyat. “Karya lukisan itu menantang penonton untuk membaca ulang siapa yang sebenarnya menangis: korban, pelaku, atau sistem yang memungkinkan keduanya,” kata Didik.

Atas karya-karya itu, Agus menerangkan bahwa  pameran juga menekankan fungsi pedagogis wayang sebagai media nilai dan refleksi. Agus menegaskan bahwa melalui simbol, cerita, dan bayangan, maka wayang menawarkan panduan spiritual dan filosofis yang mendorong penerimaan diri, transformasi, dan keseimbangan antara sisi terang dan gelap kehidupan.

Dua Lukisan karya Zulfikar Alwiansyah bernama Acceptance (sisi kiri)dan metamorfosis Antaboga(sisi kanan), di Galeri Prabangkara, Gedung Cak Durasim, Kamis (19/11/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Selain Lies dan Didik, pelukis hitam putih yang juga pajang karyanya adalah Iklas Baktiar Handoko berjudul Avanelium 1-3; Lukman Nul Cakim hadirkan Cinta Rahwana, Hidayat Pitutur Eyang Semar Murko Triwikromo, Demokrasi Gelap, Gatut Koco Pancung Celeng, dan The New Colonialisme); kemudian  Ramadhan Suryo Hardanu tampilkan lukisan berjudul Piyik; pelukis mastarsov pamerkan Kegunungan As dan Spirit Of Techno, dan Zulfikar Alwiansyah dengan karyanya Acceptance dan Metamorfosis.

Pameran terbuka untuk umum sepanjang jam kunjung  setiap hari antara pukul 08.00–21.00 di Jl. Gentengkali 85 Surabaya. Pengunjung dan kolektor dapat melihat langsung interpretasi kontemporer terhadap warisan wayang yang dihadirkan dalam bahasa visual hitam‑putih.. (js/red)

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.