Wisma Jerman Hadirkan Seniwati Instalasi Berbahan Kain Tenun Gedog

Yovie Wicaksono - 31 October 2025
Pengunjung mengagumi seni instalasi berbahan kain tenun dan akar pohon beringin karya Uzzaer Ruwaidah di Aula Wisma Jerman, Kamis (30/10/2025). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Wisma Jerman Surabaya tak henti menggaungkan komitmennya dalam mendukung seniman lokal. Bertempat di aula, Wisma Jerman memamerkan seni instalasi pameran tunggal karya seniman Tuban, Uzzaer Ruwaidah, bertajuk “Entah Dalam Koma”.

Berlangsung mulai 31 Oktober-2 November, kegiatan yang terbuka untuk umum tersebut, memadukan tenun dan akar beringin yang sontak mengundang kagum pengunjung. Total ada 7 karya instalasi yang bisa memanjakan mata.

Sang seniman, Uzzaer Ruwaidah menyebut, karya yang dipamerkan merupakan hasil pemikiran liar atas keresahan. Seperti namanya, pameran tersebut memiliki makna daur hidup. Dimana kehidupan harus tetap berjalan, bergerak, dan berproses.

Seniman Uzzaer Ruwaidah memberikan lukisan pada Direktur Wisma Jerman Mike Neuber sebagai tanda dibukanya pameran Entah Dalam Koma, Kamis (30/10/2025). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

Salah satunya pada karya bertajuk Terdampar yang menceritakan kisahnya yang berpindah tempat tinggal demi mengikuti sang suami. “Tema entah dalam koma itu menceritakan daur hidup, artinya hidup itu tidak titik, tapi koma koma berkelanjutan berulang,” ujarnya, saat ditemui di pembukaan pameran, Kamis (30/10/2025).

Bahan yang digunakan pun unik. Ida, sapaan akrabnya, mengkolaborasikan kain tenun gedog tuban yang motifnya dilukis unik. Dipasangkan dengan akar beringin yang dibentuk sedemikian rupa, menyerupai bentuk pakan dan lungsi. Yakni dua komponen benang horizontal dan vertikal yang saling bersilangan membentuk kain.

“Akar beringin adalah media untuk menjelaskan kesederhanaan tenun, tenun itu terdiri dari pakan dan lungsi. Lungsi yang vertikal, pakan horizontal. Dan kebetulan filosofi beringin juga pas dengan tema yang saya angkat,” sebutnya.

Pengunjung mengagumi seni instalasi berbahan kain tenun dan akar pohon beringin karya Uzzaer Ruwaidah di Aula Wisma Jerman, Kamis (30/10/2025). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

Perempuan yang sudah berkecimpung di dunia seni sejak 2011 tersebut berharap, karya-karyanya bisa membawa kedamaian, rasa tenang yang bermakna untuk pengunjung.

“Ini pameran tunggal kelima saya. Yang ingin saya sampaikan ke penikmat seni adalah, segalanya harus diawali dengan cinta, dan tetaplah bergerak,” tuturnya.

Sementara itu, sebagai fasilitator, Wisma Jerman turut mengapresiasi pameran. Direktur Wisma Jerman Mike Neuber menyebut, ide kolaborasi sudah terpikir sejak lama.

Sebagai pusat kebudayaan Jerman di Surabaya, pihaknya sangat mendukung perkembangan seni dan budaya lokal. Menjadi ruang yang inklusif bagi seniman, peneliti, dan masyarakat luas untuk saling bertukar ide, bereksperimen dan memperkuat dialog.

“Ide ini sebenernya muncul sudah lama, dan akhirnya 7 september hari nasional tenun namun karena jadwal lain dari kami harus ditunda, tapi kami sangat bersyukur dan senang akhirnya bisa dilakukan hari ini,” ucap Mike dalam sambutan pembukaan pameran.

Ia pun berharap kegiatan ini bisa menginspirasi dan meninggalkan kesan positif untuk para pengunjung.

“Ini adalah kehormatan bagi kami untuk kerja sama sebagai tuan rumah pameran ini. Karya karya beliau tidak hanya menampilkan keindahan visual tapi juga mengajak merenungkan hidup dan hubungan antara alam, manusia, dan tuhan,” pungkasnya. (hk/red)

 

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.