Mapping Video 360 Derajat Memudahkan Siswa Belajar Sejarah di Museum 10 November

Rudy Hartono - 1 December 2025
Salah satu pojok di Museum 10 November tampilkan manekin pejuang berikut rekaman suara orasi bung karno yang menggelegar, Minggu (30/11/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Museum 10 November Surabaya menggelar pameran imersif Cross Musea BAJAWARA pada 20–30 November 2025. Pameran ini menghadirkan teknologi video mapping 360 derajat yang menghidupkan kembali detik-detik heroik Pertempuran 10 November 1945.

Pameran ini tidak hanya menampilkan tayangan multimedia, tetapi juga koleksi sejarah berupa dokumen perjuangan, foto-foto bersejarah, senjata bambu runcing, artefak pribadi pejuang, hingga rekaman pidato Bung Tomo. Semua dipadukan dengan proyeksi visual dan audio yang membuat pengunjung seolah berada di tengah pertempuran.

Salah seorang pengunjung mencermati miniatur bangunan bersejarah berikut perincian denah dan peristiwa yang terjadi di Museum 10 November, Minggu (30/11/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Antusiasme pengunjung terlihat jelas. Pelajar tampak terpaku pada layar dan memberi tepuk tangan setelah tayangan selesai. Masyarakat umum menilai sejarah terasa lebih mudah dipahami, sementara keluarga dan wisatawan menikmati pengalaman edukatif sekaligus rekreatif yang menjadikan museum sebagai destinasi budaya menarik.

Rini, siswa SMK Surabaya, mengaku kagum dengan pengalaman baru tersebut.

“Saya merasa kaya lagi berada di tengah vibes perjuangan gitu. Kita lihat pameran ini membuat kami lebih memahami perjuangan pahlawan , bukan hanya dari buku tapi langsung terasa nyata, karena ada miniatur dan manequeennya..” ujarnya.

Pengunjung menikmati berbagai dokumen perjuangan, lukisan dan foto foto bersejarah pameran imersif Cross Musea BAJAWARA di Museum 10 November, Minggu (30/11/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Selain siswa, guru pendamping juga menilai pameran ini penting untuk pendidikan sejarah. Bu Tien, guru SMP Muhammadiyah Surabaya, menjelaskan tujuan rombongan siswanya menghadiri pameran adalah untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap perjuangan bangsa.

“Kami ingin anak-anak belajar sejarah dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Dengan teknologi seperti ini, mereka bisa lebih mudah menangkap makna perjuangan dan menumbuhkan rasa nasionalisme,” ucap sang guru

Patung perjuangan arek-arek Suroboyo melawan kolonial di Museum 10 November, Minggu (30/11/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Pameran BAJAWARA dinilai berhasil mengubah cara belajar sejarah dari sekadar membaca teks menjadi pengalaman visual mendalam. Museum 10 November pun direvitalisasi, bukan hanya sebagai ruang koleksi, tetapi juga ruang pengalaman sejarah yang hidup.

Dengan pendekatan kreatif ini, generasi muda diharapkan semakin bangga dan terhubung dengan perjuangan bangsa. Pameran Cross Musea BAJAWARA menjadi bukti bahwa teknologi dapat menjadi jembatan antara sejarah dan masa kini, menghadirkan pengalaman yang inspiratif bagi semua kalangan. (js/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.