Rupiah Melemah Rp 18.000, Jatim Fokus Amankan Stok Pangan
SR, Surabaya – Nilai rupiah kian melemah dalam kurs dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) fokus menjaga harga pangan untuk mengatasi dampaknya. Nilai tukar rupiah sempat berada di level terendah Rp 17.949,00 per dollar AS. Dampaknya, sangat dirasakan oleh masyarakat terutama di sektor perekonomian. Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, menyebut bahwa peternak ayam petelur mengeluhkan harga pakan jagung tinggi salah satu faktornya karena kondisi global. “Jagung memang banyak didapat dalam negeri. Tapi efisiensi logistik dalam negeri penting untuk memitigasi kondisi global, jangan dua-duanya terjadi goncangan,” kata Emil Dardak, dikutip Rabu (3/6/2026).
Selain itu, dampak lain dari naiknya nilai mata uang asing khususnya dolar yakni barang-barang impor seperti barang elektronik yang mengalami kenaikan harga. “Tentu banyak sekali variabel dan yang punya kendali terhadap masing-masing variabel itu juga berbeda-beda,” ujar Emil Dardak.
Fokus pada Pengendalian Harga Pangan
Emil Dardak tidak menampik bahwa sejumlah barang khususnya impor mengalami kenaikan akibat lemahnya rupiah. Tapi, Pemprov Jatim sekarang fokus terhadap harga pangan.
“Fokus kami adalah bagaimana yang ada di wilayah kita ini optimalkan, jadi pangan adalah prioritas. Yang di pangan ini masih harus bisa dijaga seoptimal mungkin,” katanya.
Menurut Emil, pangan menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian global. Sehingga, Pemprov Jatim akan mengecek langsung fluktuasi harga pangan ke pasar tradisional.
Apabila ditemukan kenaikan harga pada bahan pokok, Pemprov Jatim akan mengintervensi supaya harga bahan pokok tetap stabil sesuai dengan patokan pemerintah. “Beberapa waktu lalu juga ada aturan yang diberlakukan untuk kendaraan-kendaraan yang mengangkut logistik dijamin mendapat BBM dengan harga normal di SPBU. Langkah ini bagian dari komponen yang sangat nenetukan harga di level konsumen,” ujar Emil Dardak.
Mantan Bupati Trenggalek ini juga akan memastikan kelancaran produksi di sektor pertanian di Jatim. Mulai dari perencanaan, masa tanam, panen hingga distribusi. “Jadi itu juga menjadi fokus dari sisi suplay side, bagamana dari sisi pasokan ini bisa kita jaga agar tekanan terhadap inflasi tidak mengepung dari semua sisi gitu,” pungkasnya. (*/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





