Rocky Gerung: Marhaenisme Bung Karno Relevan Atasi Masalah Gen Z
SR, Surabaya – Acara bedah buku “Marhaenisme – Dalil Baru untuk Gen Z” di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Sabtu (27/6/2026) berjalan lancar, interaktif, dan sesekali pecah gelak tawa. Penulis buku Airlangga Pribadi Kusman PhD (dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga) dan Rocky Gerung (akademisi dan intelektual) tampil rileks dengan pakaian casual santai tapi keduanya memaparkan gagasan dengan cerdas dan tangkas.
Dihadapan lebih dari 400 peserta bedah buku, Rocky dan Airlangga menjelaskan relevansi Marhaenisme dengan kehidupan Gen Z (Genzi) maupun masyarakat secara umum saat ini. Sementara sejak lama ideologi Marhaenisme ditutup-tutupi oleh rezim orde baru (Orba) maupun reformasi. “Rezim Orba maupu Reformasi menakut-nakuti warga akan Marhaenisme yang menjadi gagasan Bung Karno yakni mengkaitkan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) atau Marxisme,” kata Rocky.
Padahal dengan pemikiran Marhaenisme itu Bung Karno dapat mengkonsolidasikan semua elemen yang lemah menjadi satu kekuatan melawan kolonialisme dan imperialisme sehingga akhirnya mengantarkan bangsa Indonesia menuju proklamasi kemerdekaan Indonesia. “Marhaenisme itu otentik temuan Bung Karno di tengah pertentangan ideologi proletarisme dan liberalisme. Bung Karno memahami konsep konsep itu tapi tidak memakan mentah-mentah tapi diperdebatkan, dikritisi, dianalisa komprehensif hingga dia menemukan Marhaenisme untuk membatalkan pikiran-pikiran kolonialisme dan imperialisme,” papar Rocky
Airlangga menambahkan Marhaenisme adalah sebuah etos, semangat, ide, dan sapaan ideologis. Nalar berpikir kritis inilah yang dibutuhkan oleh para pemikir di Indonesia saat ini untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Konsep Marhaenisme sudah diselipkan Bung Karno pada tahun 1932 dalam bukunya “Mencapai Indonesia Merdeka”.

Diuraikannya dampak buruk kedatangan kaum imperialis yang hanya mengeruk keuntungan. Diungkapkan realitas sosial saat itu ada kepala keluarga yang terpaksa gantung diri karena malu tidak bisa memberi makan anaknya, atau keluarga yang terpaksa menjual anak mereka sendiri demi bertahan hidup.
Ironisnya, apa yang digambarkan Bung Karno pada tahun 1932 itu masih terjadi saat ini. Diberitakan ada orang-orang yang mengakhiri hidupnya karena depresi dan malu akibat terjerat pinjaman online (pinjol). Di sisi lain, kapitalisme digital dan kapitalisme finansial terus bekerja menyerap data serta mengeruk informasi-informasi pribadi kita.

“Di sinilah bangsa ini membutuhkan imajinasi sosiologis untuk menghubungkan antara keresahan analisis Bung Karno di masa lalu dengan fenomena penindasan modern yang sedang terjadi saat ini, sekaligus mencari berbagai jalan keluar menghadapi krisis demi krisis yang dihadapi saat ini dan mendatang,” timpalnya.
Republik Mengambang
Di salah satu bagian buku “Marhaenisme – Dalil Baru untuk Gen Z” memberi sub judul Republik Mengambang, sebuah pilihan kata yang berinsinuasi yang menggambarkan ketidakstabilan. Dalam diskusi itu, Airlangga mengaku realita yang terjadi di Indonesia yang carut marut menjadi alasan ia dan Rocky Gerung menyusun buku itu.
Keduanya mendapati kondisi yang banyak anak muda yang memiliki alat produksi modern—seperti ponsel dan kuota internet—tetapi secara ekonomi posisinya tetap rentan, bahkan tidak tahu besok harus makan apa. Kondisi tersebut sangat kontras dengan fakta bahwa perbincangan para elite politik kita sama sekali tidak ada hubungannya dengan persoalan riil rakyat di bawah. Saat mereka merancang suatu program kerja, yang dipikirkan hanyalah seberapa besar keuntungan, komisi, atau rente yang bisa mereka ambil untuk kelompok mereka sendiri.

“Itulah alasan kuat mengapa kami menulis buku ini. Kami ingin membuat kita semua mulai sadar dan terbangun terhadap problem Republik kita yang benar-benar sedang goyah saat ini. Negara kita sedang kehilangan semangat dan harapan. Sebuah Republik hanya akan bisa naik kelas jika rakyatnya memiliki harapan. Melalui diskusi ini, meskipun prosesnya panjang, kita harus percaya bahwa dengan kesadaran dan ketajaman pikiran, kita akan bisa melangkah ke arah yang lebih baik,” urai Airlangga.
Sementara itu esensi Marhaenisme yang dicetuskan Bung Karno sebenarnya berbicara tentang manusia Indonesia yang berhadapan dengan kondisi hidupnya yang membuat mereka tidak berdaya atas hasil kerjanya sendiri. Dalam sejarah atau di masa lalu, kaum Marhaen memiliki alat produksinya sendiri tetapi tetap tidak bisa hidup layak.
“Di sinilah relevansi pemikiran Bung Karno terus bergerak bagaikan hantu yang membayangi, karena kita belum pernah bisa menyelesaikan atau melampaui ketidakmerdekaan ekonomi tersebut. Kita memiliki narasi emas tentang dasar-dasar perkembangan bangsa, tetapi kita perlu mengujinya dengan alam berpikir kritis, bukan sekadar membayangkan Marhaenisme sebagai kumpulan kelas sosial yang lemah dan dilemahkan,” papar Airlangga.

Dalam bukunya, Airlangga mencoba menggambarkan konsepsi Marhaenisme secara sederhana dengan mencontohkan cerita film “Kungfu Panda”, sebuah film animasi yang digemari banyak anak muda.
Dalam film itu dimunculkan figur hewan panda yang bisa mengalahkan macan tutul yaitu penjahat nan kejam. Padahal sosok panda itu bukanlah pendekar sakti, bahkan cenderung malas berlatih.
Hingga suatu momen panda bisa menghimpun teman senasib direpresentasikan oleh hewan-hewan belalang, ular, bangau dan kera untuk melawan penjahat macan tutul. Singkat cerita aliansi dari Kumpulan kekuatan dari kelas lemah bisa menaklukan macan tutul yang pongah, merasa berkuasa dan sewenang-wenang. Dengan beraliansi itu dia bisa membangkitkan kekuatan besar.
Lebih jauh Airlangga mengatakan buku “Marhaenisme – Dalil Baru untuk Gen Z” ini memuat poin-poin penting mengenai relevansi Marhaenisme bagi Gen Z. Selain itu buku ini juga menguji berbagai perspektif tentang cara pandang Marhaenisme terhadap masalah struktural anak muda saat ini. “Harapan kami kepada generasi muda Indonesia adalah menyalakan kembali api Marhaenisme demi menjawab tantangan dan problem struktural yang dihadapi masyarakat saat ini,” harapnya.
Sedangkan Rocky berharap para Gen Z membaca pemikiran dan tindakan Bung Karno yang telah mengajarkan etika lingkungan untuk mengikis keserakahan. Kaum Marhaen adalah mereka yang mampu menghidupi diri sendiri secara mandiri tanpa menjadi buruh yang tereksploitasi (proletar), tetapi sistem di atasnya tidak boleh memeras mereka. ”Tugas kita, anda dan saya, sekarang adalah mencari kaitan epistemik antara Marhaenisme dengan gerakan lingkungan (environmentalism) serta hubungan etis antara Marhaenisme dengan Feminisme. Buku ini diumpankan untuk diperdebatkan, bukan sekadar dipamerkan,” kata Rocky.
Hadir dalam diskusi bedah buku itu Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya Armuji berikut para pengurusnya, Ketua DPRD Kota Surabaya Syaifuddin Zuhri, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya Budi Leksono, anggota DPR RI dari Dapil Surabaya-Sidoarjo Indah Kurnia, dan Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Legislatif dan Eksekutif DPD PDI Perjuangan Jatim Didik Presetiyono. (ton/red)
Tags: airlangga pribadi, bedah buku, Gen z, marhaenisme, rocky gerung, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





