Bupati Gresik Lepas Ekspor Massal Komoditas Rajungan ke Amerika

Rudy Hartono - 30 June 2026
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi (baju putih) saat memberikan keterangan kepada awak media Gresik Perkuat Peran Pusat Hilirisasi Hasil Perikanan. (sumber: rri)

SR, Gresik – Satu kontainer rajungan olahan kembali diberangkatkan dari Gresik menuju Amerika Serikat, Senin (29/6/2026). Ekspor yang dilepas Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Menteri Transmigrasi RI Viva Yoga Mauladi di CV Kudatama Mas, Kawasan Industri Gresik (KIG), menjadi penanda semakin kuatnya peran Gresik sebagai pusat pengolahan hasil perikanan dari kawasan transmigrasi.

Rajungan yang diekspor berasal dari hasil tangkapan nelayan di kawasan transmigrasi Sorong, Maluku, Maluku Utara, Pasangkayu, Sulawesi Barat, serta wilayah pesisir Gresik dan Lamongan. Seluruh bahan baku kemudian diolah di Gresik sebelum dikirim ke pasar Amerika Serikat melalui kolaborasi Kementerian Transmigrasi, Pemerintah Kabupaten Gresik, Aruna Indonesia, dan CV Kudatama Mas.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan sinergi tersebut menunjukkan bahwa kawasan industri mampu menjadi penghubung antara potensi daerah dengan pasar global. Menurutnya, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, keberhasilan produk lokal menembus pasar ekspor menjadi kabar yang patut disyukuri.

“Di tengah situasi ekonomi global yang penuh tantangan, kita patut bersyukur karena produk unggulan daerah, termasuk dari kawasan transmigrasi, mampu menembus pasar dunia. Hari ini kita melepas satu kontainer. Mudah-mudahan ke depan jumlahnya terus meningkat menjadi lima kontainer atau bahkan lebih,” kata Gus Yani, dalam keterangan tertulisnya.

Ia menjelaskan, keberhasilan industri rajungan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku dari kawasan pesisir dan transmigrasi, tetapi juga oleh kualitas tenaga kerja. Industri pengolahan rajungan, menurutnya, masih bertumpu pada keterampilan pekerja, terutama perempuan, dalam menghasilkan produk yang memenuhi standar ekspor.

“Nilai utama industri ini bukan teknologi yang tinggi, melainkan keterampilan tenaga kerjanya. Karena itu kualitas sumber daya manusia harus terus ditingkatkan,” ujarnya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Pemerintah Kabupaten Gresik membuka peluang kerja sama dengan pelaku usaha melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi bersertifikat. Langkah itu diharapkan dapat meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus mendukung daya saing industri pengolahan.

Gus Yani juga melihat keberhasilan ekspor rajungan dapat menjadi pintu masuk bagi hilirisasi komoditas lain dari kawasan transmigrasi. Menurutnya, Gresik memiliki infrastruktur industri yang memadai untuk mengolah berbagai produk unggulan, seperti kakao maupun kopra, sehingga memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.

Sementara itu, Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan ekspor rajungan membuktikan bahwa kawasan transmigrasi kini berkembang menjadi sentra penghasil komoditas bernilai tinggi, tidak hanya sektor tanaman pangan. “Rajungan menjadi salah satu produk unggulan kawasan transmigrasi. Melalui kemitraan dengan Aruna, hasil tangkapan nelayan dapat masuk ke pasar ekspor dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Viva Yoga, pembangunan kawasan transmigrasi saat ini diarahkan pada pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal melalui hilirisasi. Setiap daerah didorong mengembangkan komoditas unggulannya agar mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia mengungkapkan permintaan rajungan dari Amerika Serikat masih tinggi. Saat ini ekspor dilakukan dua kali setiap bulan dengan volume sekitar 16 ton per kontainer dan nilai mencapai Rp14 miliar hingga Rp15 miliar.

Selain menghasilkan devisa, industri pengolahan rajungan juga dinilai memiliki dampak sosial yang besar karena menyerap banyak tenaga kerja. Hampir seluruh proses produksi masih dilakukan secara manual sehingga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Industri ini bukan hanya menghasilkan devisa, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan yang luas. Kami akan terus memperkuat kolaborasi agar semakin banyak nelayan di kawasan transmigrasi yang memperoleh manfaat dari rantai nilai ekspor ini,” kata Viva Yoga.

Ke depan, Kementerian Transmigrasi akan memperkuat kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk meningkatkan produktivitas kawasan pesisir transmigrasi, mulai dari pemberdayaan nelayan hingga penguatan rantai pasok. Jika pasokan bahan baku terus meningkat, bukan tidak mungkin fasilitas pengolahan juga akan dibangun di kawasan transmigrasi sehingga nilai tambah industri dapat dinikmati lebih dekat oleh masyarakat setempat.

Ekspor rajungan dari Gresik itu pada akhirnya bukan sekadar pelepasan satu kontainer komoditas perikanan. Di baliknya, tersambung mata rantai panjang yang menghubungkan nelayan di wilayah timur Indonesia, industri pengolahan di Gresik, hingga pasar internasional—sebuah kolaborasi yang menunjukkan bahwa hilirisasi dapat menjadi jalan untuk memperluas manfaat ekonomi bagi daerah-daerah penghasil. (*/rri/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.