Pocong dan Keranda Mayat Ingatkan Masyarakat agar di Rumah Aja

Yovie Wicaksono - 25 May 2020
Pocong dan Keranda mayat di Jalan Melon, Dusun Tondomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Sejak dua hari terakhir ini, di media sosial ramai diberitakan adanya penampakan gambar foto  maupun video tentang sosok pocong dan keranda mayat yang ditempatkan di depan gapura Jalan Melon, Dusun Tondomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.

Pocong dan keranda mayat itu ditempatkan di sana sejak Minggu (24/5/2020). Tidak hanya replika pocong dan keranda, disana juga ada bunga tabur dan payung. Kemudian di portal gapura, ada sebuah peringatan bertuliskan dalam bahasa Jawa “ojo rono rene dek omah ae, nek gak pengin numpak kereto jowo”.

Ahli IT staff desa setempat, Heru mengatakan, sebelum ramai beredar di media sosial, sebenarnya waktu itu dirinya bermaksud mengambil foto untuk dijadikan story di WhatsApp. Kemudian ada salah satu temannya yang merasa tertarik dengan foto tersebut dan dikirimkan ke salah satu admin media sosial hingga akhirnya menjadi viral.

“Awalnya saya posting di WhatsApp, kok sama teman saya di repost di Instagram awalnya seperti itu,”  ujar Heru, Senin (25/5/2020).

Pembuatan replika pocong dan keranda mayat dilakukan secara spontan oleh sejumlah pemuda RT setempat, sehari sebelum hari raya atau malam takbir.

Awalnya mereka hanya membuat keranda saja, namun kemudian berkembang membuat pocong. Dana yang digunakan untuk membuat replika tersebut diperoleh secara swadaya. Agar terlihat berisi layaknya pocong, didalamnya diisi rumput kering.

“Spontan dari lingkungan pemuda RT, pertama cuman keranda akhirnya tambah ide lagi. Bunga itu sumbangan dari penjual bunga sebelah. Kita nggak ngitung semuanya berasal dari gotong royong warga,” ujarnya.

Heru menjelaskan, maksud dan tujuan dibuatnya hal itu adalah untuk mengedukasi warga atau sekedar mengingatkan agar tetap di rumah saja di tengah pandemi virus corona (Covid-19) ini.

“Sifatnya kan mengedukasi sekaligus menghibur masyarakat, tujuannya kan supaya warga ingat bahayanya seperti itu,” ungkapnya.

Ia mengaku, setelah sempat viral, muncul pro dan kontra di lingkungan setempat, beberapa pihak tidak setuju adanya pembuatan pocong tiruan tersebut. Sementara lainnya menganggap hal itu biasa saja, karena tujuannya untuk mengedukasi masyarakat dalam penanggulangan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Tapi itu timbul pro kontra, sesuai kesepakatan ada rencana nanti dibongkar,” katanya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.