Serba-serbi Tradisi Tedak Siten dan Maknanya

Yovie Wicaksono - 21 June 2023

SR, Surabaya – Dikutip dari laman Peta Budaya Kemdikbud, Tedak Siten adalah salah satu tradisi yang bersifat ritual dalam masyarakat Jawa yang berkaitan dengan lingkaran kehidupan manusia. Tradisi Tedak Siten dilakukan pada anak ketika pertama kali menginjakkan kaki ke tanah.

Upacara tedak siten dilakukan ketika seorang anak berusia 7 lapan. Karena 1 lapan sama dengan 35 hari, jadi umur anak saat mengadakan tedak siten yaitu berusia 245 hari (7 x 35 = 245 hari). Hal ini karena pada usia ini, perkembangan anak sudah berada pada tahap berdiri, dan di momen ini kaki anak sudah bisa menginjak tanah.

Perlu diketahui juga bahwa ada lima hari Pasaran (pasar) dalam satu Selapan: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Oleh karena itu, setiap hari diberi nama berbeda dalam satu periode Selapan. Satu periode dari Minggu Legi hingga Sabtu Kliwon adalah 35 hari.

Menurut buku ’70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia’ oleh Fitri Haryani NasuXon, arti Tedak Siten adalah menginjak tanah. Tedak Siten berasal dari kata Tedhak artinya turun atau menginjak dan Siten berasal dari kata ‘siti’ yang berarti tanah. Jadi, tradisi Tedak Siten artinya tradisi yang dilakukan saat anak belajar menginjak kaki ke tanah.

Tradisi Tedak Siten adalah penggambaran persiapan seorang anak sejak kecil hingga dewasa untuk menjalani fase kehidupannya dengan baik dan benar. Tradisi ini diselenggarakan dengan tujuan membuat anak tumbuh kuat, mampu menghadapi setiap godaan dan rintangan serta menjadi anak yang mandiri.

Sejarah Tedak Siten

Dilansir dari laman Peta Budaya Kemdikbud, sebagai sebuah tradisi, upacara Tedak Siten bersifat anonim, artinya tidak dapat diketahui dengan pasti siapa yang pertama kali melaksanakan atau menciptakannya. Namun, tradisi Tedak Siten ini telah berlangsung secara turun temurun dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. 

Para leluhur melaksanakan upacara Tedak Siten sebagai bentuk penghormatan kepada bumi tempat anak mulai belajar menginjakkan kakinya ke tanah dengan diiringi doa-doa dari orangtua dan para sesepuh.

Pada umumnya masyarakat yang masih melaksanakan tradisi Tedak Siten adalah masyarakat Jawa yang tersebar mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Maka dari itu, persebaran tradisi Tedak Siten biasanya mencakup tiga wilayah tersebut.

Upacara Tedak Siten

Tedak Siten adalah tradisi yang dilaksanakan dengan berbagai perlengkapan dan tahapan. Perlengkapan yang dibutuhkan dalam Tradisi Tedak Siten yaitu jadah (tetel) tujuh warna, jenang bluwok, nasi tumpeng dan ingkung pitik (ayam kampung utuh), jajanan pasar, tangga (ondho), kurungan ayam dan perlengkapannya, dan kembang setaman.

Tahapan dalam Upacara Tradisi Tedak Siten dan Maknanya

Tahap pertama: anak akan dilatih berjalan maju dengan menginjak bubur beras ketan tujuh warna. Tiap warna melambangkan pengharapan orang tua untuk keberhasilan anak dapat melewati fase kehidupan hingga dewasa dengan pertolongan Tuhan.

Tahap kedua: anak dituntun menaiki tangga yang terbuat dari tebu. Menurut masyarakat Jawa, makna tanaman tebu agar anak mempunyai kemantapan hati dalam menjalani kehidupan.

Tahap ketiga: setelah turun tangga, anak dituntun menuju onggokan pasir dan dibiarkan mengais pasir dengan kakinya. Maknanya anak diharapkan bisa mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya kelak.

Tahap keempat: anak dimasukkan dalam kurungan ayam yang sudah dihias. Dalam kurungan tersebut dimasukkan beberapa benda, seperti buku, ponsel, bola, raket, dan lain-lain. Kemudian anak dibiarkan memilih barang yang ada dalam kurungan. Maknanya barang yang dipilih anak akan menggambarkan kehidupan anak kelak.

Tahap kelima: menyebar udhik-udhik atau uang logam yang bercampur dengan berbagai macam bunga. Ini menyimbolkan harapan agar anak kelak memiliki sifat dermawan, gemar bersedekah dan rezekinya lancar.

Tahap keenam: tubuh anak dibasuh dengan kembang setaman dengan tujuan agar anak memiliki jalan kehidupan yang bagus dan bisa membanggakan keluarganya kelak.

Tahap ketujuh: anak diberi pakaian bagus dan bersih lalu didandani, agar anak memiliki jalan kehidupan yang bagus dan bisa menjaga nama baik keluarganya kelak. (*/vi/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.