Sembilan Perupa Rayakan Kebebasan Melalui Ragam Visual Lintas Generasi
SR, Surabaya – Galeri Prabangkara di Taman Budaya Jawa Timur resmi membuka pameran seni rupa bersama bertajuk “Persona Kelana” pada Sabtu (15/8/2026). Eksibisi yang diikuti oleh sembilan perupa dengan latar belakang profesi beragam ini menyuguhkan perayaan visual yang emosional sekaligus reflektif dalam bingkai semangat kemerdekaan.
Koordinator pameran sekaligus perupa, Budi Bi, menjelaskan bahwa pameran ini sengaja tidak mengusung tema tunggal demi memberikan ruang kebebasan berekspresi sepenuhnya bagi para seniman untuk menampilkan karakter mereka secara utuh.

Pameran ini menampilkan total 50 lukisan, dua karya instalasi, serta ratusan karya kartu pos yang akan berlangsung hingga 22 Agustus mendatang.
“Kali ini kita untuk menyambut semangat Agustusan, jadi kita ambil ‘Bebas Merdeka’. Kita tidak pakai tema (tunggal), kita serahkan ke masing-masing perupanya untuk memajang karyanya sesuka-sukanya,” ujar Budi dalam sambutan pembukaannya.
“Nanti teman-teman di sini bisa melihat karya-karya itu sebagai hasil karya dan jati diri para perupa masing-masing. Semoga di Agustusan ini kita selalu bersemangat untuk tetap berkarya demi kemajuan bersama,” tambah Budi.

Salah satu sorotan dalam pameran ini adalah karya dari Lies “Aliet” Rahayu, seorang perupa asal Surabaya yang mengawali jejaknya sebagai pecinta seni sebelum serius menekuni dunia lukis sejak 2015.
Aliet menampilkan seri “Animal Kingdom” dengan sub-tema “Beast, Bold, and Beautiful” yang unik karena menggunakan teknik daur ulang dari buku komik rusak.
“Ini sebenarnya menyelamatkan buku-buku yang hancur karena kelembapan tinggi di rumah. Ada komik Donald Duck hingga Detektif Conan. Makanya judulnya ‘Daur Hidup’, dari yang hancur dibuat lagi menjadi hidup dalam bentuk seni,” ungkap Aliet saat menjelaskan proses kreatifnya yang memakan waktu sekitar dua hari per karya.

Nuansa arsitektural juga kental terasa melalui karya Henry Siswanto, seorang Insinyur Arsitektur yang memiliki kecintaan mendalam pada detail objek rumit.
Henry yang juga anggota komunitas urban sketcher ini memamerkan sketsa-sketsa kelenteng di Surabaya, seperti Sanggar Agung dan Kampung Duku, yang dibuatnya secara langsung di lapangan.
“Saya suka arsitekturnya dan warna-warnanya, makanya saya milih tema kelenteng yang ada seni naganya. Kalau bikin sketsa tanpa warna biasanya cepat, 5 sampai 10 menit jadi, tapi kalau mewarnai bisa jam-jaman,” kata Henry yang juga dikenal sebagai seniman patung logam.

Perspektif unik lainnya datang dari dr. Inge W. Benjamin, seorang dokter sekaligus pemilik ruang komunitas Omah Pojok di Surabaya. Ia mengusung konsep “LuPuis” atau Lukisan berPuisi, di mana setiap lukisannya merupakan manifestasi dari narasi puitis yang ia tulis sendiri.
Dr. Inge menceritakan bahwa ide karyanya sering muncul dari imajinasi terhadap alam, seperti jaring laba-laba atau filosofi buah Mojo. “Saya bikin puisi, lalu saya berimajinasi menjadi lukisan. Kadang lukisannya dulu baru puisinya,” jelasnya mengenai proses penciptaan karya-karyanya yang kerap membawa pesan filosofis “Urip Elok”
Dalam salah satu karyanya yang bertajuk “Topeng Diri”, dr. Inge memberikan kritik sosial yang tajam mengenai realitas kehidupan modern. Ia merenungkan bagaimana manusia seringkali menutupi kelemahannya dengan berbagai topeng kepura-puraan. “Zaman sekarang ini orang terlalu banyak pakai topeng, pura-pura baik padahal sebetulnya dia itu pakai topeng untuk menutupi lemahnya. Pertanyaannya, adakah manusia yang tidak bertopeng? Saya rasa tidak ada, semua pakai seolah-olah baik padahal tidak di dalam,” tuturnya secara mendalam.

Eksibisi ini juga mempertemukan berbagai generasi perupa, mulai dari tokoh senior seperti Rasmono Sudarjo, S.H., M.H., seorang profesional hukum yang juga menyandang gelar kehormatan di bidang fotografi seni. Di sisi lain, pameran ini menjadi panggung bagi talenta muda berbakat, Evolet Faith Shamayim, remaja kelahiran 2009 yang mulai serius berkarya saat pandemi tahun 2020. Faith dikenal karena dedikasinya dalam kegiatan kemanusiaan, di mana hasil penjualan ratusan lukisannya pernah digunakan untuk mendonasikan nasi bungkus bagi pengemudi ojek daring.
Filosofi Identitas dan Perjalanan Hidup
Lebih lanjut Budi Bi mengatakan tajuk pameran “Persona Kelana” membawa filosofi mendalam tentang identitas dan perjalanan hidup. Persona dimaknai sebagai karakter yang ditampilkan kepada dunia. Sementara Kelana merepresentasikan perjalanan panjang dalam mencari jati diri.

Meskipun pameran berpusat di Surabaya, semangatnya melampaui batas geografis. Arik Siswoyo, perupa asal Banyuwangi yang kini bermukim di Taiwan, tetap turut memamerkan karyanya meski berhalangan hadir secara fisik.
Arik dikenal sebagai seniman otodidak yang aktif mengangkat isu sosial dan lingkungan di kancah internasional, termasuk pameran di Amerika Serikat dan Spanyol. Keberagaman ini semakin lengkap dengan kehadiran karya realis-impresionis dari arsitek Yulistianto (Joel) serta karya multimedia dari seniman purnawaktu Ami Tri yang aktif sebagai live event painter.
Masyarakat dapat mengunjungi pameran “Persona Kelana” setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 18.00 WIB di Galeri Prabangkara.
Pameran ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang unjuk karya bagi sembilan perupa, tetapi juga menjadi pemantik diskusi dan apresiasi seni bagi warga Surabaya dan sekitarnya. Melalui 50 lukisan dan ratusan kartu pos yang dipajang, pengunjung diajak merayakan keberagaman perspektif dan perjalanan kreatif yang saling melengkapi dalam satu ruang pameran bersama.(js/red)
Tags: Cak Durasim, pamerani seni rupa, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





