Ratusan Warga Kota Kediri Terkena Chikungunya

Yovie Wicaksono - 7 January 2021
Giat fogging untuk mencegah chikungunya. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Dalam waktu satu tahun terakhir, ratusan warga Kota Kediri mengeluhkan gejala demam disertai linu di bagian persendian. Gejala rasa sakit ini disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Data dari Dinas Kesehatan Kota Kediri menyebutkan, sejak Januari – Desember 2020 ada sekira 406 warga Kota Kediri terjangkit penyakit chikungunya.

“Nyamuknya sama jenis Adyes Agepty cuman beda virus.  Kalau demam berdarah virusnya Dengue, kalau ini virusnya Chikungunya. Munculnya juga sama pada saat musim penghujan,” ujar Kasi Pencegahan dan Pengendalian penyakit menular (P2PM) Dinkes Kota Kediri, Hendik Supriyanto.

Lantaran jenis nyamuknya sama dan keluar disaat musim penghujan, maka dilakukan  penanganan yang sama yaitu segera melaksanakan giat fogging dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). 

“Kalau orang yang sakit chikungunya, jarang sampai menjalani opname. Paling banyak cuman obat jalan dirawat di rumah. Gejalanya demam disertai linu-linu. Gejalanya sama dengan asam urat. Pengobatan cuma dikasih Paracetamol dan penghilang rasa nyeri,” ujarnya.

Hendik menambahkan, meski jenis nyamuknya sama, tetapi virus dengue (demam berdarah)  yang ditularkan melalui gigitan dinilai lebih berbahaya karena bisa menyebabkan kematian. Tetapi untuk penyebaran virusnya, chikungunya dinilai lebih masif. 

“Kalau demam berdarah lebih ganas, tapi chikungunya lebih banyak menyebar. Seminggu berangsur pulih, terkadang ada yang sembuh 2 sampai 3 minggu, tiap orang tidak sama tergantung daya tahan tubuh dan usia si penderita,” ungkapnya. 

Jika dilihat dari data laporan yang masuk, chikungunya trendnya lebih banyak jika dibandingkan demam berdarah. Untuk itu, fogging terhadap suatu wilayah segera dilakukan apabila Dinkes telah  mendapat laporan dari Puskesmas setempat. 

“Itu kan nanti warga biasanya lapor, Pak RT ke kelurahan, pak lurah lapor ke Puskesmas setempat. Nanti Puskesmas mendapat laporan segera melakukan penyelidikan epidemiologi langsung ke lokasi dilihat ada berapa orang, tingkat penyebaranya bagaimana nanti yang menentukan Puskesmas. Kemudian koordinasi dengan Dinkes, kita lakukan fogging,” ujarnya.

Jika dihitung dari jumlah penderita yang mencapai ratusan dalam kurun rentang waktu satu tahun, Hendik Supriyanto mengkategorikan masih dalam taraf kondisi sedang. 

Sementara itu karena masih memasuki musim penghujan di awal 2021, jumlah penderita chikungunya hingga sekarang masih terus bertambah. 

Kepala Kantor Kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Adi Sutrisno mengatakan, pihaknya telah melakukan pendataan dan asesmen kepada 7 orang warganya yang terserang penyakit chikungunya. 

“Kita sudah melakukan penyemprotan atau fogging, sekaligus kita menghimbau kepada warga agar tetap menjaga kebersihan di lingkungan masing-masing,” ujar Adi Sutrisno. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.