Pertolongan Pertama saat Anak Menyaksikan Bunuh Diri

Yovie Wicaksono - 30 November 2019
Ilustrasi. Foto : (iStock)

SR, Surabaya – Menyaksikan orang terdekat seperti anggota keluarga yang melakukan aksi maupun percobaan bunuh diri dapat menyebabkan ketakutan hingga trauma tersendiri bagi anak. Jika hal tersebut terjadi, pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan Psychological First Aid (PFA), yakni memberikan dukungan emosional agar anak tidak mengalami trauma psikologi.

“Melakukan pertolongan pertama psikologi yang dikenal dengan istilah PFA terlebih dahulu, dimana anak dibawa ke tempat yang aman dan nyaman terlebih dahulu,” ujar Psikolog dari Lembaga Layanan Psikologi Geofira, Riza Wahyuni pada Sabtu (30/11/2019).

Setelah anak merasa aman dan nyaman, yang perlu dilakukan adalah mendengarkan cerita sang anak ketika dia bercerita atau membiarkan dia sejenak meluapkan emosinya.

“Kemudian dipertemukan dengan keluarga lain yang dianggap dekat dengan anak, bila dibutuhkan maka lakukan rujukan ke ahli,” imbuhnya.

Riza mengatakan, trauma psikologi merupakan kondisi psikologi seseorang yang terjadi akibat pengalaman yang tidak menyenangkan ketika kejadian sudah terjadi diatas 1 bulan, dimana seseorang merasakan beberapa gejala seperti keluar keringat dingin, jantung berdebar, sulit tidur, masih membayangkan kejadian tersebut, ketakutan, mengalami kecemasan, depresi, dan perasan lainnya.

“Maka bila hal ini terjadi, anak harus dibawa ke ahlinya seperti psikolog klinis agar dilakukan intervensi psikologi sehingga anak bisa melewati masa sulitnya dan tidak mengalami hambatan pada periode perkembangan berikutnya,” tandasnya

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Michael Seno Rahardanto menambahkan, usia anak juga mempengaruhi proses pemulihan psikologi.

“Saat usia anak ini masih sangat kecil dalam menyaksikan peristiwa tersebut bisa jadi mereka tidak tau apa-apa, semakin dewasa dan besar usia anak tersebut maka secara perlahan dia akan berfikir dan mencerna apa yang sedang terjadi. Nah yang susah adalah ketika dia melihat peristiwa tersebut namun belum bisa mencernanya karena usianya tidak terlalu kecil dan usianya belum cukup untuk mencerna situasi tersebut,” ujarnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.