Pemprov Jatim Siapkan Mitigasi Fenomena La Nina

Yovie Wicaksono - 22 October 2020
Ilustrasi Hujan. Foto : (kulkann)

SR, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) kini mulai melakukan langkah mitigasi menindaklanjuti informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 3 Oktober 2020 lalu terkait kondisi iklim di Indonesia, khususnya Jawa Timur yang diprediksi bakal terjadi fenomena La Nina atau siklus lebih dinginnya laut di pasifik ekuator yang mempengaruhi sistem iklim global.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa pun menginstruksikan jajaran OPD terkait dalam menghadapi bencana hidrometeorologi dan fenomena La Nina ini. Penegasan itu disampaikan Khofifah saat Rapat Koordinasi (Rakor) bersama semua pihak di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim, Rabu (21/10/2020).

Khofifah juga meminta jajaran BMKG, BPBD, Dishub, PU Cipta Karya, Bina Marga dan Dinas Sosial untuk bersiap mengantisipasi peningkatan curah hujan tinggi sebagai dampak La Nina. 

“Berdasarkan data dari BMKG menunjukkan, La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan naik 25 persen,” ungkapnya.

Khofifah juga meminta instansi yang memiliki kemampuan kebencanaan untuk segera memitigasi dari setiap potensi kebencanaan dari hulu hingga hilir. Terutama, pada jalur-jalur evakuasi kepada masyarakat jika terdapat bencana banjir, longsor ataupun angin puting beliung.

“Saya minta ini harus di detailkan, baik BMKG, BPBD, Dinsos, Dinas PU Cipta Karya, Dinas Kesehatan, hingga Bappeda dan seluruh instansi kebencanaan untuk mengantisipasi adanya dampak yang terjadi. Ini sesuatu yang kompleks karena kebencanaan yang terjadi dapat  mengakibatkan kemiskinan baru,” tegasnya.

Pemetaan mitigasi pun dilakukan secara detail dari hulu hingga hilir. Mulai menghitung seluruh potensi dampak yang ditimbulkan terhadap sektor sosial, ekonomi  dan kehidupan masyarakat baik tempat evakuasi, dampak sosial dan ekonomi seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan sebagainya.

“Kalau kita bisa mendetailkan koordinasi secara operasional, akan bagus dalam melangkah menangani kesiapsiagaan bencana. Kami tidak ingin terlambat merespon adanya fenomena La Nina,” terangnya.

Menurutnya, di masa Pandemi Covid-19 ini penanganan bencana harus dilakukan secara detail dan terukur. 

“Kita harus membreakdown, jikalau nanti ada evakuasi. Pandemi covid belum berakhir. Kita sama-sama melakukan antisipasi lebih terukur melalui pola mitigasi mulai dari hulu hingga hilir seperti apa,” imbaunya.

Ia mengibaratkan, jika terjadi banjir, puting beliung, maupun longsor bisa melakukan evakuasi di mana saja dengan tetap menjaga protokol kesehatan. 

“Inilah yang membedakan antara antisipasi resiko bencana alam saat ada dan tidak ada pandemi Covid-19. Dalam waktu dekat, kami akan melakukan apel kesiapsiagaan bencana bersama semua pihak untuk lebih mengantisipasi dampak dari kebencanaan bisa dipersiapkan dengan detail,” jelasnya.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati terhadap dampak bencana hidrometeorologi seperti bencana banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, sambaran petir, pohon tumbang dan jalan licin. 

“Intinya kami ingin masyarakat tetap waspada namun harus tetap tenang dan jangan panik,” imbaunya. (*/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.