Pembuatan Hand Sanitizer secara Mandiri Harus Sesuai Ketentuan

Yovie Wicaksono - 29 March 2020
Ilustrasi proses pembuatan hand sanitizer. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Setelah mewabahnya virus corona (Covid-19) di Indonesia, hand sanitizer menjadi salah satu produk yang susah ditemui di pasaran. Dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Retno Sari mengatakan masyarakat juga bisa membuat hand sanitizer sendiri selama mengikuti panduan dan memperhatikan keamanan bahan yang digunakan.

“Untuk pembuatan hand sanitizer sendiri di masyarakat, selama mengikuti panduan yang ada, untuk penggunaan sendiri, tidak diperjualbelikan, tidak masalah. Hanya perlu diperhatikan masalah keamanan dari bahan yang digunakan,” ujar dosen yang akrab disapa Retno itu.

Terdapat berbagai bahan antiseptik yang dapat digunakan untuk membuat produk hand sanitizer. Contohnya adalah Etanol 65 – 70 persen atau isopropil alkohol dengan kadar 70-80 persen, Klorheksidin glukonat dengan kadar 0,5 – 0,75 persen dan Triklosan dengan kadar 0,2 – 2 persen.

Bahan alkohol yang banyak digunakan adalah etanol dengan kadar efektif 60-80 persen. Artinya, pada kadar tersebut kemampuan untuk mematikan mikroorganisme adalah yang paling tinggi.

Etanol merupakan pelarut organik, dimana bahan tersebut dapat juga melarutkan lapisan sebum atau lemak ditangan yang berfungsi melindungi tangan. Sehingga, pada formula pembuatan hand sanitizer perlu ditambahkan bahan pelembab seperti gliserin dan aloe vera.

Di dunia maya sendiri terdapat beberapa formula terkait penambahan essensial oil pada proses pembuatan hand sanitizer. Menanggapi hal tersebut, menurut Retno penambahan essensial oil memang bisa digunakan untuk menutupi bau etanol atau membuat bau hand sanitizer menjadi lebih nyaman. Namun, perlu diperhatikan apakah essensial oil tersebut bisa tercampur dengan bahan-bahan lain dan bagaimana cara mencampurkannya.

Retno melanjutnya, penggunaan essensial oil biasanya hanya beberapa tetes. Penambahan bahan lain dalam jumlah banyak ke dalam etanol 70 persen dapat menurunkan efektivitasnya. Namun jika penambahan bahan-bahan tersebut sudah diperhitungkan dari awal, maka tidak akan mengubah kadar etanolnya. Selain itu, apabila diberi campuran lain, bahan baku etanol yang biasanya digunakan adalah etanol 96-98 persen.

“Etanol mempunyai aktivitas baik untuk disinfeksi bakteri, jamur dan virus. Tidak spesifik Virus Corona (SARS-Cov-2),” terangnya.

Dilain sisi, Retno lebih menganjurkan masyarakat mencuci tangan menggunakan sabun dengan benar dibanding menggunakan hand sanitizer. Hal tersebut karena langkah cuci tangan dengan sabun lebih efektif menghilangkan kotoran dan mikroorganisme dibanding hand sanitizer.

Penggunaan hand sanitizer disarankan untuk kondisi tangan bersih atau tidak ada kotoran. Apabila tidak terdapat sabun dan fasilitas cuci tangan seperti kran dan air mengalir, maka etanol 65 – 80 persen efektif sebagai disinfektan untuk menghilangkan bakteri, jamur dan virus.

Etanol 65-70 persen juga dapat digunakan untuk membersihkan permukaan seperti handle pintu, permukaan dari plastik, dan logam. Apabila diperlukan penyemprotan untuk ruangan (indoor) atau outdoor bisa merujuk pada pedoman disinfeksi yang berlaku dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan.

Selain itu, saat ini perlu juga adanya bilik sterilisasi, dimana orang di dalamnya akan diekspos dengan bahan atau udara steril dalam waktu dua sampai 30 detik. Upaya tersebut tengah dilakukan oleh beberapa instansi seperti pemerintah Kota Surabaya yang diikuti oleh instansi lain.

Prinsip dari bilik tersebut adalah seseorang masuk ke dalam ruangan kecil yang bisa ditempatkan di area tertentu. Kemudian, selama di dalam orang tersebut akan diseprot dengan cairan disinfektan, larutan lain yang mengandung ozon atau udara steril.

“Yang perlu diperhatikan adalah tekanan dan waktu penyemprotan serta keamanan dari bahan yang digunakan apabila menggunakan cairan disinfektan,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.