Pengalaman Kelola SIER Modal Didik Prasetiyono Mengejar Gelar Doktor Ekonomi Unair

Rudy Hartono - 8 February 2026
Didik Prasetyono saat memaparkan presentasi dihadapan  para akademisi dan penguji di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Jumat (6/2/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Mantan Direktur Utama PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), Didik Prasetiyono, menawarkan solusi strategis bagi penguatan daya saing industri nasional melalui integrasi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG).

Solusi strategi itu dituangkan dalam ujian proposal disertasinya di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Jumat (6/2/2026). Didik menekankan bahwa penguatan standar tersebut merupakan kunci agar Indonesia tetap menjadi destinasi investasi global yang kredibel dan berkesinambungan.

Intelektualitas Didik tercermin dalam pemilihan topik risetnya yang menyasar persoalan krusial di sektor industri. Menurutnya, standar ESG saat ini telah bergeser dari sekadar praktik sukarela menjadi kewajiban strategis bagi perusahaan yang ingin bertahan dalam ekosistem global. Tanpa kepatuhan yang nyata, Indonesia berisiko mendapatkan penilaian buruk dari investor internasional, yang pada akhirnya dapat menghambat aliran modal masuk ke dalam negeri.

Sebagai sosok yang pernah memimpin sebuah kawasan industri strategis, Didik menyoroti anomali di mana baru sekitar 4% dari 120 lebih kawasan industri di Indonesia yang secara transparan melaporkan kinerja ESG mereka. Padahal, berdasarkan regulasi seperti Undang-Undang Cipta Kerja, seluruh investasi asing (Foreign Direct Investment) kini diwajibkan masuk ke dalam kawasan industri. Hal ini menjadikan tata kelola kawasan industri sebagai garda terdepan dalam menjaga standar lingkungan nasional.

Didik Prasetyono saat memaparkan presentasi dihadapan  para akademisi dan penguji di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Jumat (6/2/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

Dalam paparannya yang mendalam, Didik mengkritik praktik kepatuhan yang selama ini sering kali hanya bersifat administratif atau sekadar “kulit” luarnya saja. Ia menawarkan kebaruan melalui pendekatan kapabilitas internal organisasi, di mana transformasi hijau harus dimulai dari perubahan budaya kerja dan sistem operasional yang substansial, bukan sekadar laporan formalitas untuk memenuhi regulasi.

Didik membedah mekanisme internal tersebut menggunakan Dynamic Capability Theory untuk menjelaskan bagaimana organisasi harus membangun kemampuan untuk merasakan (sensing), menangkap peluang (seizing), dan melakukan transformasi (transforming).

Ia juga memperkenalkan konsep Green Transformational Leadership, yang menekankan peran krusial kepemimpinan dalam menggerakkan perubahan sistemik menuju keberlanjutan lingkungan di tingkat manajerial.

Riset ini memiliki dampak ekonomi makro yang signifikan, mengingat kinerja kawasan industri di Indonesia tercatat sering kali melampaui pertumbuhan PDB nasional. Selain itu, penguatan standar ESG menjadi sangat mendesak karena adanya regulasi internasional seperti mekanisme penyesuaian perbatasan karbon (CBAM) di Eropa yang mulai membatasi komoditas ekspor non-hijau seperti baja dan kayu dari Indonesia.

Ujian proposal disertasi oleh Didik berlangsung di Ruang Kuliah Internasional III Gedung Sekolah Pascasarjana UNAIR ini menghadirkan dewan penguji ahli, termasuk Prof. Badri Munir Sukoco dan Prof. Iman Haryaman.

Keberhasilan Didik dalam mempertahankan argumen ilmiahnya memperkuat profilnya sebagai sosok teknokrat yang mampu menyinergikan pengalaman profesional sebagai Dirut SIER dengan kedalaman analisis akademik demi kemajuan industri nasional.

​Didik berharap hasil penelitiannya dapat menjadi panduan diagnostik bagi pengelola kawasan industri di seluruh Indonesia untuk bertransformasi menjadi lebih kompetitif secara global.

Melalui pendekatan yang berbasis data dan teori yang kuat, ia optimis bahwa industri Indonesia dapat tumbuh tidak hanya secara finansial, tetapi juga selaras dengan kelestarian alam dan kesejahteraan sosial. (js/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.