Pelukis Wiji Utomo Temukan Jati Diri lewat Aksara Jawa
SR, Surabaya – Sosok Wiji Utomo menjadi sorotan utama dalam rangkaian acara peringatan Hari Aksara Internasional di Whisma Jerman Surabaya, 8-10 September 2024.
Pria asal Surabaya itu merupakan seniman yang melakukan pameran tunggal dengan 24 lukisan full aksara jawa. Unik dan berbeda. Saat seniman lain memilih adopsi bentuk-bentuk nyata, namun pria asal Surabaya itu lebih memilih menggali arti di tiap huruf aksara jawa menjadi karya yang indah.
Baginya aksara jawa tak sekadar huruf, melainkan simbol makna mendalam soal hubungan manusia dengan tuhan.
“Contohnya aksara ‘Ha’ saya lukis artinya ono urip wening suci jadi hidup itu bening dan suci. Ketika kita berdoa pada tuhan, orang mengatakan doa itu kita titipkan ke langit untuk dikabulkan jadi kita menuju kesana,” ucapnya saat menjelaskan salah satu lukisan disana.
Wiji pun bercerita, bagaimana aksara jawa menjadi pemantik dalam perjalanannya mencari jati diri. Kala itu ia dilanda kebingungan terkait siapa dirinya.
Banyak orang ia temui, garis keturunan ia telusuri demi menemukan jawaban. Hingga akhirnya Wiji bertemu kakeknya dan mendapat jawaban konkrit. Meski wiji tumbuh di lingkungan akulturasi dan punya genetik arab hingga cina, namun Sang kakek menegaskan bahwa Wiji adalah orang jawa.

Wiji pun melanjutkan perjalanannya dengan membuat kaos sindiran pada dirinya sendiri bertuliskan “jowo ora jowo”.
“Kalau ditinjau dari genetik saya itu ada genetik madura, arab, tionghoa tapi ketika saya tanya ke kakek yang tionghoa kenapa kok saya tidak dikasih nama madura atau arab, saya dikasih tahu kalau saya memang orang jawa,” ungkapnya.
Sejak saat itu, rasa penasarannya pada aksara makin tinggi. Ia terus mempelajari aksara jawa, mengkaji arti di dalamnya sembari mengasah bakat melukisnya.
“Kemudian saya mulai belajar, sampai menjelang pameran ini saya bertemu dengan kurator dan ditanya soal arti simbol-simbol aksara akhirnya saya menggali lagi sejarahnya yang katanya ditulis Ajisaka,” ucap pria usia 55 tahun itu.
“Dari pembicaraan itu, saya mengira tiap aksara jawa itu juga simbol dari getaran jiwa kita menuju tuhan,” imbuhnya.
Berkat dedikasinya sejak 2015, kini banyak penghargaan yang diperoleh. Wiji pun berharap upaya pelestarian bahasa lokal ini bisa menular ke generasi muda. Terus bergerak merawat dan menjaga identitas nusantara.
“Pesan untuk generasi muda ini aksara jawa tapi tak seperti yang dilihat. Bisa jadi anak muda saat melihat aksara jawa itu bosan, sulit dihafal, tapi dengan melihat bentuknya yang lain dan diterjemahkan ke cara yang lain mungkin bisa diterjemahkan dan mengingat kembali, semoga bisa diterjemahkan lagi,” pungkasnya. (hk/red)
Tags: aksara jawa, pelukis, superradio, whisma jerman, wiji utomo
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





