Pegawai Lapas Kediri, Produksi Sabun Berbahan Alami

Yovie Wicaksono - 14 June 2019
Didi Rahmadi (37), pemilik usaha sabun berbahan alami. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Disamping kesibukannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kediri Jawa Timur,Didi Rahmadi (37) warga Dusun Jeruk, Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, memiliki usaha produksi dan penjualan sabun.

Sabun yang diproduksi tergolong unik, bahan yang digunakan untuk membuat sabun adalah madu randu. Bahan madu ini, diambil langsung dari peternak lebah di lereng kaki Gunung Wilis di Sumber Podang, Kecamatan Semen.

Dikatakan Didi Rahmadi, rintisan usahanya tersebut baru berjalan sekitar lima bulan yang lalu. Berawal dari perasaan cemas istrinya yang memiliki kulit sensitif dalam penggunaan cream kosmetik, Didi kemudian memiliki ide untuk membuat sabun berbahan madu alami.

“Kulit istri saya kan sensitif, paling tidak tahan menggunakan cream berbahan kimia. Kemudian timbul untuk membuat sabun berbahan alami,” ujar pria yang kini menjabat sebagai Humas Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kediri ini.

Didi mengatakan, saat  itu istrinya yang bernama Prihatin Novita Rini (36) mencoba belajar membuat sabun dari video Youtube, dengan tekun disertai ketelatenan,  ibu tiga anak ini akhirnya mampu membuat sabun sendiri.

“Istri saya butuh waktu seminggu untuk belajar membuat sabun. Modalnya untuk belajar pertama kali membuat cuman Rp250 ribu,” ujar Didi, Jumat (14/6/2019).

Lambat laun usaha rintisannya itu berkembang. Dalam waktu sebulan, kini Didi bisa memproduksi sabun sekitar seribu biji. Hasil produksi sabun itu, dipasarkan  melalui sistem online maupun dititipkan di toko yang menjual segala macam pernak pernik oleh-oleh khas Kediri.

“Selain produksi sabun berbahan madu, kita juga membuat sabun berbahan susu kambing etawa, dan sabun kopi. Permintaan cukup banyak, dan mereka kebanyakan belinya kiloan ambilnya disini untuk dijual kembali ke konsumen,” imbuhnya.

Selain melayani pembelian dalam jumlah kiloan, didi juga menerima pembelian eceran. Satu batang sabun dijual ke konsumen harga Rp15 ribu.

“Tetangga banyak yang cocok, datang ke rumah untuk membeli. Ini kan bahannya alami. Per biji kita jual cuman Rp15 ribu. Kalau harga diluar Rp20 ribu,” ujar Didi.

Dikarenakan banyaknya peminat, Didi dan Istrinya terus berinovasi untuk membuat sabun berbahan alami lainya. Menurutnya saat ini di Kediri sedang ramai orang membuka usaha warung kopi maupun kafe.

Melihat ada celah peluang usaha disitu. Ia langsung merespon untuk membuat sabun berbahan dari kopi. Sabun kopi buatannya itu, kemudian di titipkan di kafe dan warung kopi dan respon peminatnya cukup bagus.

“Pembeli yang datang ke rumah bukan hanya berasal dari Kediri saja, melainkan juga dari Tulungagung dan Blitar. Mereka beli dalam jumlah kiloan, untuk dijual kembali,” imbuhnya.

Usaha yang masih dalam tahap kategori Home Industri ini menggunakan peralatan secara manual dan tanpa alat bantu mesin. Dalam menjalankan usahanya  itu, Didi dibantu oleh istrinya. Semua produksi sabun dikerjakan sendirian oleh Prihatin Novita atau akrab disapa jeng Nopi. Sementara Didi berperan untuk memasarkan. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.