Pandemi Covid-19 Tak Pengaruhi Penjualan Kain Tenun Ikat

Yovie Wicaksono - 29 December 2020
Kain tenun ikat bermotif hewan produksi Cipto Roso (43). Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Berawal dari sekedar belajar cara membuat kain tenun ikat, seorang pria yang berprofesi sebagai petugas pengamanan (satpam)  di Kediri, sukses membuka usaha kain tenun ikat. Usaha yang dirintis sejak 2014 silam itu, terus berkembang dan tidak terpengaruh adanya pandemi Covid-19.

Cipto Roso (43), pengusaha kain tenun ikat ini mengaku bahwa semua proses produksi kain tenun ikat buatannya, dikerjakan di rumahnya di Jalan Lawu nomor 12 Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Dalam sehari, Cipto mengaku bisa memproduksi 5 kain tenun ikat sekaligus.

Dulu sebelum buka usaha, di sela jeda waktu shift bekerja sebagai Satpam ia seringkali mendatangi sentra kampung tenun ikat di Kelurahan Bandar Kidul untuk belajar membuat kain tenun ikat. Saat proses belajar tersebut, lambat laun ia mulai menguasai cara membuat kain tenun ikat secara benar.

“Waktu pertama kali buka usaha, alat manual penenun ikat yang saya miliki cuman satu. Sehari cuman bisa produksi 1 kain tenun ikat,” ujarnya.

Meski hanya memiliki peralatan tenun ikat satu, namun waktu itu ia bisa menjual hasil kain produksinya hingga ke luar Pulau Jawa, Donggala, Sulawesi. Ia mengungkapkan saat itu ia lebih suka menjual kain produksinya keluar Pulau Jawa karena harga pasar disana dinilainya sangat bagus ketimbang di Kediri.

“Sebelum saya buka usaha, ibu saya sudah sering kirim kain tenun ikat disana. Disana kan ada kerabat juga, tapi waktu itu ibu saya hanya sebatas memasok barang, bukan produksi bikin sendiri,” ujarnya.

Setelah setahun berjalan, Cipto tidak mengira jika minat konsumen terhadap kain tenun ikat hasil produksinya tersebut sangat tinggi. Karena ramainya pesanan, ia kemudian memutuskan untuk membeli tiga unit mesin tradisional tenun ikat.

“Dengan bertambahnya tiga unit mesin tradisional tenun ikat,  maka sekarang saya bisa memproduksi empat kain tenun ikat dalam sehari,” ungkapnya.

Menginjak beberapa tahun kemudian, harga kain tenun ikat di Sulawesi mendadak anjlok dikarenakan adanya musibah bencana Tsunami di Aceh beberapa tahun lalu.

“Harganya kain tenun ikat mendadak anjlok, penyebabnya karena ada keterkaitan terjadinya musibah bencana Tsunami di Aceh. Akhirnya saya banting setir menjualnya ke Kediri, dan ternyata responnya Alhamdulillah cukup bagus,” katanya.

Harga tenun ikat yang dijualnya bervariasi, antara Rp 175-180 ribu per potong. Meski sekarang masih pandemi Covid-19,  Cipto mengaku, penjualan produknya tidak terdampak.

“Justru pesanan tambah banyak, kalau disini saya tidak menyimpan bahan semuanya habis dipakai. Bahan untuk membuat kain tenun ikat saya beli langsung di Jalan KH Mansyur Surabaya. Bahanya kan ini impor dari Hindia,” tukasnya.

Selain melayani pembelian masyarakat umum yang datang ke rumah, Cipto juga melayani pesanan dalam jumlah banyak ke instansi pemerintahan, bank dan rumah sakit.

“Ini sedang membuat pesanan dari Bank Jatim 25 kain tenun ikat, rencananya dibuat pakaian untuk para teller bank,” kata Cipto.

Pesanan paling banyak yang pernah ia produksi yakni sebanyak 100 potong kain. Pesanan itu ia terima dari Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Proses pengerjaannya memakan waktu kurang lebih 3 bulan.

Pria yang berprofesi sebagai satpam selama 7 tahun ini mengatakan, selama pandemi ia juga pernah  memasok kain tenun ikat yang diperuntukan sebagai bahan pembuatan masker. Pengadaan kain itu ia jual langsung ke Disperindag sebanyak 3 kali.

Dalam memasarkan produknya, Cipto lebih fokus ke penjualan offline selama ini.

“Kalau online itu biasanya ada  freelance yang ikut membantu menjualkan. Jika ada pesanan dia datang kesini untuk ambil barang,” ujar dia.

Kain tenun ikat merek Woro Putri produksi Cipto ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh produk lainnya, yakni motif khas bergambar hewan. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.