Menghargai Penyandang Disabilitas Psikososial: Dengarkan Tanpa Menghakimi
SR, Surabaya – Tidak semua disabilitas terlihat secara fisik. Penyandang disabilitas psikososial seperti: skizofrenia, depresi berat, atau gangguan bipolar, sering menghadapi stigma sosial yang lebih berat dibanding hambatan kesehatan itu sendiri. Padahal, sikap paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan tanpa menghakimi.
Menurut WHO Mental Health and Disability Report stigma “tidak waras” atau “berbahaya” yang sering dilekatkan pada difabel psikososial memperparah kondisi mereka. Stigma ini membuat banyak orang enggan mencari bantuan medis atau mengikuti terapi yang sebenarnya bisa meningkatkan kualitas hidup.
Kementerian Kesehatan RI juga menekankan bahwa dukungan lingkungan sangat menentukan keberhasilan pemulihan. Saat berinteraksi, hindari memberi label negatif atau menggurui. Dengarkan dengan empati, jangan memotong pembicaraan, dan jangan memaksa mereka untuk “cepat sembuh” atau “berpikir positif”.
Hal lain yang penting adalah menjaga privasi. Jangan membicarakan kondisi mereka kepada orang lain tanpa izin, karena ini bisa menimbulkan rasa tidak aman. Jika mereka menunjukkan tanda-tanda krisis, sikap terbaik adalah mendampingi dengan tenang dan segera menghubungi tenaga profesional.
Dengan menghargai penyandang disabilitas psikososial, kita membantu menciptakan ruang aman di mana mereka bisa merasa diterima sebagai manusia utuh, bukan sekadar diagnosis. Karena pada akhirnya, setiap orang berhak diperlakukan dengan martabat yang sama. (*/dv/red)
Tags: disabilitas, perhatian, psikososial, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





