Mengenal Tradisi Undukan Doro

Yovie Wicaksono - 6 September 2023

SR, Surabaya – Dalam perkembangan tradisi di masyarakat Indonesia, kegiatan perlombaan atau adu ketangkasan yang melibatkan hewan sebagai sarana kompetisi sudah terjadi sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun. Beragam tradisi yang menggunakan hewan tersebut memiliki berbagai alasan dan filosofi yang menggambarkan kebudayaan yang berkembang di sekitar masyarakat tersebut.

Burung Dara atau Merpati menjadi salah satu dari sekian banyak hewan yang seringkali dijadikan hewan aduan. Di kota besar seperti kota Surabaya, ternyata masih menyimpan beberapa tradisi lama yang menggunakan hewan aduan burung merpati (dara). Meskipun cukup jarang, akan tetapi tradisi ini masih lestari dan dilakukan di beberapa sudut kota Surabaya. Nama tradisi ini yaitu Undukan Doro atau yang lebih populer di masyarakat Surabaya dan sekitarnya sebagai Doroan (Adu Doro).

Jika lazimnya adu hewan khususnya unggas lebih menitikberatkan tentang adu kekuatan dengan cara membiarkan kedua hewan tersebut berkelahi satu sama lain, namun dalam tradisi Undukan Doro atau Doroan ini kedua burung tersebut akan diadu kecepatan terbangnya dengan jarak tertentu.

Bagi masyarakat kota Surabaya, tradisi doroan ini dilakukan untuk melatih atau ajang adu kecepatan burung merpati yang mereka miliki dan sebagai sarana hiburan di sela-sela penatnya aktivitas.

Berbagai Macam Pelaksanaan Undukan Doro

Burung yang akan dilombakan sebagai undukan doro adalah burung jantan, sedangkan burung betina akan digunakan sebagai ‘Pancingan’ atau penarik perhatian burung jantan.

Namun, adapula beberapa joki (pemilik/pengendali) burung merpati menggunakan cara lain dalam menarik perhatian burung miliknya. Beberapa ada yang menggunakan makanan/pakan kesukaan dari burung daranya. Adapula yang menggunakan suara-suara khusus untuk menarik perhatian burung merpati miliknya.

Dahulu, kegiatan Undukan Doro ini seringkali dilakukan di lapangan atau area persawahan yang luas dan mudah dilihat. Namun, kini lebih sering dilakukan di tanah lapang dengan jarak mulai dari 500-1300 meter.

Dalam pelaksanaan Doroan juga terdapat beberapa kategori atau jenis. Pertama, yaitu jenis andhokan atau balap jarak pendek. Umumnya balap andhokan ini dilakukan di tanah lapang yang tidak terlalu luas dengan panjang sekitar 300-500 meter. Bisa pula dilakukan di jalan yang lurus atau area pesisir pantai. Tipe andhokan juga sering digunakan sebagai sarana pelatihan burung merpati dan joki dalam mengendalikan burung merpatinya.

Tipe yang kedua merupakan kenthongan. Tipe ini bisa dibilang sebagai Undukan Doro skala besar yang lazim dilakukan banyak joki dalam sekali balap dan memerlukan bebebapa personil lain. Ada orang yang sebagai joki, jogo omah atau pegupon yang disiapkan di ujung arena, seorang wasit dan tukang kenthongan yang ditugaskan menabuh kenthong selama balapan berlangsung.

Secara umum tipe undukan doro tidak jauh berbeda satu sama lain karena memang aturannya tetap sama, pemenangnya yaitu burung merpati tercepat yang sampai di garis finish dan dalam kondisi sayap menutup sempurna. Hal ini akan menjadi tugas dari wasit atau yang disebut sebagai ‘jogo tengah’ sebagai pengadil.

Tradisi Undukan Doro ini sebenarnya merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat yang dapat menarik minat dalam dunia pariwisata lokal. Namun, menjadi salah ketika digunakan sebagai ajang judi bagi segelintir orang meskipun hal tersebut dianggap lumrah atau sebagai penarik minat masyarakat dalam memeriahkan gelaran Undukan Doro tersebut. (*/vi/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.