Mengenal Cabin Fever dan Risiko Gejalanya di Tengah Pandemi

Yovie Wicaksono - 27 May 2020
Ilustrasi. Foto : (Halodoc)

SR, Surabaya – Pandemi virus corona (Covid-19) serta kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dari pemerintah membuat setiap orang diharuskan untuk mengisolasi diri dan membatasi kegiatan di luar ruangan guna mencegah penyebaran virus agar tidak semakin meluas.

Namun di satu sisi, kini masyarakat juga turut dihadapkan pada ancaman kesehatan psikologis akibat isolasi diri yang sering disebut dengan cabin fever. 

Cabin fever atau demam kabin secara sederhana dijelaskan sebagai rasa kegelisahan akibat terjebak atau terisolasi dalam suatu tempat untuk waktu yang lama. 

Psikiater dan spesialis kedokteran jiwa Universitas Airlangga Surabaya (UNAIR) dr. Hafid Algristian mengungkapkan, cabin fever menjadi fenomena yang berpotensi besar muncul di masa-masa pandemi ini.

“Tidak semua orang mengetahui gejala ini. Tapi saat kalian telah belajar, mungkin beberapa dari kita akan menyadari terdapat gejala cabin fever dalam diri kita,” ujarnya.

Ia mengatakan, cabin fever sendiri bukan diagnosis maupun sindrom, penyembuhannya dapat dilakukan melalui manajemen stres. Maka dari itu gejala cabin fever tidak perlu diberikan medikamentosa atau obat-obatan. Gejalanya secara umum muncul ketika individu mengalami deprivasi sensorik yang terjadi saat seorang individu secara tiba-tiba harus membatasi sosialisasinya. 

Hal tersebut membuat individu mendapat sensor cahaya dan suara yang terbatas sehingga kerap kali menimbulkan halusinasi. 

“Kita mungkin pernah saat sendirian tiba-tiba teringat memori masa lalu, hingga seakan memori itu berbicara pada kita. Sebenarnya itu bukan hal serius. Tapi kemudian dapat dikategorikan sindrom apabila kita menikmatinya, lalu memori menjadi personifikasi dari karakter yang kita ciptakan sendiri,” tuturnya.

Menurut Hafid sendiri, terdapat lima gejala umum yang muncul pada penderita cabin fever. Pertama adalah gejala demotivasi. Orang yang menderita demotivasi biasanya akan merasa putus asa, kosong, dan kehilangan empati. Pada gejala ini ada baiknya kita tidak memberikan motivasi atau masukan positif karena itu akan sulit diterima oleh penderita.

Kedua adalah gejala kognitif, gangguan konsentrasi atau sulit fokus yang membuat seseorang tidak produktif. Ketiga, gejala insomnia-parasomnia yang merupakan gangguan tidur hingga sleep walking. Keempat, gejala psikomotorik atau gangguan energi. Dapat berupa kelebihan energi yang membuat sensitif maupun kekurangan energi. Gejala kelima adalah gejala otonomik atau gangguan buang air besar atau buang air kecil.

“Karena cabin fever adalah sekumpulan gejala, makanya seseorang harus mengalami beberapa dari gejalanya untuk dapat disebut mengalami cabin fever. Itupun juga harus diikuti riwayat deprivasi sensorik dan pembatasan motorik,” ungkapnya. 

Hafid di satu sisi juga mengomentari mengenai fenomena panic buying dan abainya masyarakat terhadap kebijakan PSBB. Fenomena tersebut bisa saja merupakan gejala cabin fever akan tetapi umumnya hal tersebut dipicu oleh rasa bosan atau ‘balas dendam’ akibat pembatasan sosial yang terlalu lama.

“Maka dari itu hendaknya kita mengembangkan cara berpikir kreatif, komunikasi, mencari solusi, maupun berbagi informasi dan keberhasilan yang membangun. Sehingga kita nantinya tidak merasa terjebak dan tertekan pada situasi karantina yang masih akan terus berjalan entah sampai kapan,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.