Mengemis untuk Hidupi Keluarga

Yovie Wicaksono - 26 September 2019
Hendra Kristianto (tengah) bersama adiknya, Erwin Kisyanto (kiri). Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Keterbatasan fisik yang dimiliki Hendra Kristianto sejak lahir, bukan menjadi penghalang baginya untuk tetap merawat dan menjaga ayah kandungnya, Edy Sugiyanto yang sakit stroke selama satu tahun lebih.

Tidak hanya menjaga ayahnya, sulung dari dua bersaudara ini juga merawat adiknya, Erwin Kisyanto (22)  yang juga tidak bisa berjalan karena keterbatasan fisik dengan bagian kakinya berukuran kecil.

Sejak lahir, kondisi tubuh Hendra dan adiknya tidak bisa tumbuh kembang dengan sempurna atau stunting (suatu kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan umur).

Guna memenuhi kehidupan sehari-hari, ia terpaksa menjadi pengemis sejak sekitar satu tahun lebih.

“Semua biaya, makan dan kos jadi tanggung jawab saya, termasuk adik. Adik saya ini kan gak bisa jalan, cuman bisa merambat di lantai,” ujar pemuda berusia 25 tahun yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan ini, pada Kamis (26/9/2019).

Ia mengaku, paling banyak dalam sehari penghasilannya Rp 50 ribu. Jika sepi, hanya mendapatkan Rp 40 ribu.

Ibunda Hendra pergi tanpa pamit sejak ia berusia 10 tahun, dan tidak diketahui lagi keberadaannya.

“Kita sudah kehilangan kontak, nomor handphonenya sudah saya hubungi tapi gak bisa,” ujarnya.

Sebelum terserang stroke, semua kebutuhan sehari-hari, selalu dicukupi ayahnya yang bekerja sebagai kondektur bus.

Namun malang, tidak lama kemudian Edy Sugianto jatuh sakit.

Karena keterbatasan biaya, Edy Sugianto tidak pernah di bawa ke Rumah Sakit melainkan hanya menjalani rawat jalan di kamar kos.

Edy Sugianto mengalami kesulitan berdiri, sehingga ia menggunakan alat bantu popok pada saat buang air kecil maupun besar.

“Nggak pernah saya bawa ke rumah sakit, cuman diobati saja dirumah menggunakan obat. Sampai saat ini ayah saya masih kesulitan untuk berjalan. Kalau saya pergi mengemis, yang jaga adik,” ujarnya.

Kisah perjuangan hidup Hendra Kristianto dalam menghidupi keluarganya ini terungkap setelah yang bersangkutan terjaring penertiban Satpol PP Kota Kediri.

Hendra  kemudian dibawa ke kantor Satpol PP Kota Kediri. Ketika ditanya petugas, ia mengaku terpaksa menjadi pengemis karena harus menafkahi ayahnya yang sakit stroke.

Petugas yang merasa iba, kemudian mengantarnya pulang ke tempat kosnya di Dusun Balong, Desa Gogorante, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Di tempat kamar kos berukuran 3×4 meter tersebut ia tinggal bersama adik dan ayahnya, dengan biaya sewa Rp 350 ribu per bulan.

“Kita mendapat laporan pengaduan dari masyarakat, mengenai adanya keberadaan pengemis di pinggir jalan. Orang yang melapor khawatir, takut  nantinya tertabrak. Waktu saya bawa, uang hasil mengemis terkumpul baru Rp 15 ribu,” ujar Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Kota Kediri, Nur Kamid. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.