Mahasiswa Asing Belajar Membuat Batik Jumputan

Yovie Wicaksono - 3 August 2019
Salah satu mahasiswa asing yang berpartisipasi dalam SuraBali Program 2019, sedang menjemur batik Jumputan karyanya, pada Sabtu (3/8/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Sebanyak 20 mahasiswa Indonesia dan 13 mahasiswa asing asal China dan Jepang, belajar membuat batik Jumputan bersama ibu-ibu Creative Community (Asem Growong) binaan Fokus Sustainable Design (FSD) Universitas Kristen (UK) Petra, di Jalan Siwalankerto Timur, Surabaya, pada Sabtu (3/8/2019).

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari SuraBali Program 2019, yakni bentuk kerjasama konsorsium dari UK Petra dengan Universitas Airlangga (Unair) dan Univeritas Udayana (Unud) yang digelar mulai 28 Juli – 8 Agustus 2019 di Surabaya dan Bali.

Koordinator SuraBali Program 2019, Mariana Wibowo mengatakan, dengan tema Sociopreneurship di Indonesia, para peserta akan mengikuti kegiatan perkuliahan di kelas, diskusi kelompok, workshop, site visit, show casing dan field trips mulai 1-4 Agustus 2019 di UK Petra.

“Selama 12 hari, para peserta secara bergantian belajar di Unair, UK Petra, dan Unud. Mulai 1-4 Agustus 2019 para peserta belajar di UK Petra dengan tema Sociopreneurship di Indonesia,” ujar dosen Fakultas Seni dan Desain UK Petra ini.

Kegiatan yang berfokus pada sustainable design ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan mengenai desain berkelanjutan sehingga kedepannya para peserta akan mampu mendesain sesuatu dengan orientasi tanggung jawab lingkungan, sosial, dan ekonomi secara holistik.

“Harapannya untuk mahasiswa yang hadir ini mereka bisa belajar menjadi entrepreneur yang tidak hanya memedulikan diri sendiri, tetapi juga peduli dengan lingkungan dan bisa memajukan masyarakat,” imbuh Mariana.

Selain mempelajari sociopreneurship, melalui kegiatan membatik ini para peserta diperkenalkan kebudayaan lokal Indonesia. “Bahwa batik ini merupakan hasil budaya kita. Teknik pembuatannya seperti apa, supaya mereka juga bisa mengerti Indonesia memiliki nilai budaya yang cukup tinggi,” tandasnya.

Mahasiswa asal Jepang, Daiki Numata (19) mengaku senang dapat mengenal dan belajar membuat batik tradisional dalam kunjungan pertamanya di Indonesia.

“Ini pengalaman yang menyenangkan, saya bisa mengenal dan belajar membuat batik tradisional Indonesia. Batik Jumputan ini harusnya paling mudah, tapi menurut saya ini sangat susah,” ujarnya sambil tertawa.

Terlebih, Daiki mengaku banyak belajar mengenai sociopreneurship di Indonesia, bagaimana menjadi entrepreneur yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. “Ini sangat penting dan dibutuhkan di setiap negara untuk membangun negara menjadi lebih baik lagi,” imbuhnya.

Ketua PKK RT 7 RW 5 Siwalankerto Timur 3, Surabaya, Sulasih (48), bersama ibu-ibu setempat mengaku sesekali mengalami kesulitan berkomunikasi dengan mahasiswa asing saat mengajarkan teknik membuat batik Jumputan. “Tapi hal tersebut bisa teratasi, karena mahasiswa lokal juga membantu kami untuk menerjemahkannya,” ujarnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.