Komunitas Nol Sampah Soroti Penggunaan Plastik dan Sampah MBG

Rudy Hartono - 14 January 2025
Koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya Hermawan Some saat memberikan keterangan usai memantau pelaksanaan MBG di SMP Negeri 13 Surabaya. (foto:rri)

SR, Surabaya –  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah dimulai di Surabaya, Senin (13/1/2025), menuai sorotan terkait penggunaan plastik dan sampah yang tersisa dari para siswa. Koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya, Hermawan Some, yang turut datang untuk mengawasi pelaksanaan MBG di sejumlah sekolah, menyatakan akan ada tantangan besar dalam pengelolaan sampah dan limbah ketika program ini dijalankan dengan sasaran sekitar 616.000 pelajar PAUD-SLTA.

Wawan mengaku, sarana makan seperti tempat makan masih menggunakan plastik. Selain itu, dia juga menemukan siswa yang masih menggunakan sendok plastik.

“Hampir di semuanya menggunakan plastik untuk tempat makannya. Dengan plastik jenis polypropylene 5, yang bisa digunakan berulang kali. Ini yang harus diganti karena penggunaan yang berlebihan juga tidak bagus. Saya juga masih temukan tadi yang menggunakan sendok plastik,” ungkap Hermawan.

Selain itu, penggunaan susu kemasan juga masih menjadi masalah. Hermawan menyarankan agar susu kemasan tidak diberikan setiap hari karena kandungan gulanya yang tinggi. “Rekomendasi kalau bisa tidak harus susu, bisa juga susu kedelai sesuai standar badan gizi,” katanya.

Wawan juga menyoroti masalah sampah yang dihasilkan dari program MBG. Dia menuturkan ada keluhan dari guru SD yang siswanya ada yang tidak suka dengan sayuran bahkan ada yang gak biasa makan nasi.

“Nah itu yang perlu diantisipasi. Sebaiknya daftar menu disampaikan jauh-jauh hari. Sehingga orang tua bisa mengetahui dan gizi tetap terpenuhi,” ujarnya.

Sedangkan untuk sisa sampah dari makanan para siswa dia menemukan di beberapa tempat seperti di SMPN 13 Surabaya. “Dari di SMPN 13 kami timbang berapa sampah yang dihasilkan, tadi itungan kami satu anak 25-40 gram, ada yang habis ada yang sisa. 10 kotak ada yang kami timbang. Satu anak membuang 25-40 gram sampah berarti kalau ada 925 anak berarti ada 30-40 kilogram sampah. Nanti perlu dicek,” ungkap pria yang akrab disapa Wawan Some ini.

Terkait keberadaan sampah sisa makan dia telah memberikan saran kepada Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi agar sampah sisa makanan bisa dikelola semisal untuk budidaya magot hingga kompos. Surabaya memiliki 12 TPS 3R dan 28 rumah kompos yang bisa diberdayakan untuk mengelola sampah makanan. Sehingga, sisa makanan dari program makanan bergizi gratis tidak langsung dibuang ke TPA.

“Kenapa tidak kemudian kampung-kampung itu di-link-kan atau dikoneksikan dengan dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi)? Sehingga kampung-kampung itu bisa mengambil sampah tadi dan bisa jadi program yang menarik,” ujarnya.

Sebab, ada banyak kampung-kampung di Surabaya yang bisa mengelola sampah untuk dijadikan maggot. Hal ini bisa menjadi peluang ekonomi bagi warga. “Apalagi Pak Wali tadi bilang ada yang minta maggot sampai 30 ton per hari. Ini kan tinggi sekali,” katanya.

Dengan potensi rumah kompos yang ada di Surabaya, Hermawan yakin bahwa jika dikelola dengan baik, sisa makanan dapat menjadi sumber daya yang berharga. “Saya tadi sudah bilang ke pak Wali Kota agar sampah tidak ditumpuk ke TPA Benowo. Sebaiknya diolah supaya tidak menghasilkan gas rumah kaca yang berbahaya jika ditumpuk,” jelasnya.

Dan yang paling penting menurutnya agar siswa bisa menghabiskan makan sehingga ke depan ada gerakan makan dihabiskan. Nol Sampah akan terus memantau dan mendorong program MBG agar lebih ramah lingkungan.  (*/rri/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.