Kisah Titik Penjual Brondong. Orang Tua Tunggal, Anak di PHK

Yovie Wicaksono - 17 October 2020
Titik (55) saat memarut kelapa yang kemudian ditambahkan garam dan gula untuk campuran brondongnya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Kawasan Jalan Ngagel Mulyo Surabaya, Sabtu (17/10/2020), ramai lalu lalang pengguna jalan. Seorang anak perempuan berambut sebahu terlihat menghampiri pedagang brondong, jajanan tradisional yang kini semakin jarang ditemui.

Tak hanya anak-anak, beberapa orang dewasapun yang melintas juga menyempatkan diri untuk membeli jajanan yang terbuat dari jagung pari ini.

“Ini memang jajanan segala usia. Anak-anak sampai dewasa juga beli. Banyak yang bilang jarang sekali ada pedagang brondong sekarang, tidak seperti dulu,” kata Titik (55), pedagang brondong keliling.

Sambil memarut kelapa yang kemudian ditambahkan garam dan gula untuk campuran brondongnya, Titik bercerita, baru satu bulan berjualan brondong. Sebelumnya ia berjualan semanggi dan minuman di Taman Bungkul Surabaya.

“Ini dagangan orang saya minta, saya bantu menjualkan. Jadi ini bahannya dari orangnya, nanti setoran. Baru satu bulan ini, sebelumnya jual semanggi selama dua tahun, saya juga jualan minuman sudah 15 tahun,” ujar perempuan asal Ngagel Baru Surabaya ini.

Sama-sama berjualan jajanan tradisional, Titik mengatakan, jajanan brondong lebih banyak peminatnya lantaran harga yang terjangkau dan bisa dikonsumsi segala usia, berbeda dengan semanggi yang biasanya dikonsumsi orang dewasa dengan harga yang lebih mahal dibanding brondong.

Brondong alias popcorn jawa dagangannya ini dibanderol Rp 3000 untuk ukuran plastik seperempat kilogram yang banyak laku di area perkampungan dan Rp 5000 untuk plastik setengah kilogram yang laris di Taman Bungkul. Dalam sehari, Titik mampu menjual sekira 30 plastik.

Titik biasanya berkeliling di sekitar kawasan Ngagel Dadi, Ngagel Mulyo, dan Bratang, Surabaya sambil membawa sepeda berwarna biru yang memuat barang dagangannya.

“Sepedanya rusak, ban belakangnya kocak jadi tidak bisa dinaiki. Sepedanya cuma saya tuntun untuk muat dagangan saja. Jadi ya gak bisa keliling jauh, hanya sekitar sini saja karena kakinya gak kuat jalan jauh,” katanya.

Ibu satu anak ini berkeliling sejak 8 pagi hingga 4 sore. Kemudian lanjut berjualan di Taman Bungkul Surabaya selepas maghrib hingga setengah 10 malam.

Ia tak memungkiri jika situasi pandemi, serta adanya pemberlakuan jam malam di Surabaya, membuat penghasilannya menyusut.

“Di Taman Bungkul sepi sekali, kadang sehari disana cuma laku dua atau tiga plastik,” ujarnya.

Titik memiliki satu orang anak berusia 23 tahun. Itupun, sejak April lalu terkena PHK. Sehingga mau tidak mau, Titik harus tetap bekerja menghidupi keluarganya setelah sang suami meninggal dunia dan menjadikannya orang tua tunggal sejak putranya berusia 1,5 tahun.

“Anak saya April lalu di PHK, sekarang ya bantu jual-jual online gitu. Saya jualan keliling gini. Ya apa yang bisa dijual, saya jual. Yang penting halal. Apalagi kita juga gak punya tempat tinggal tetap, hanya kontrak,” katanya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.