Kenali Racial Trauma dan Dampaknya

Yovie Wicaksono - 15 March 2021
Ilustrasi. Foto : (Side Effects Public Media)

SR, Surabaya – Tindakan rasisme bisa terjadi dimana saja dan kepada siapa saja, baik secara fisik (kekerasan) maupun verbal (perkataan). Jika seseorang mendapatkan tindakan rasisme secara terus menerus dan disertai dengan tindakan yang membahayakan nyawa, maka bisa mengakibatkan trauma yang disebut dengan Racial Trauma.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Agustina Engry mengatakan, racial trauma merupakan trauma yang disebabkan karena adanya reaksi fisik dan emosional yang dialami seseorang setelah menghadapi perilaku rasis dalam jangka panjang dan disertai dengan tindakan yang membahayakan nyawa.

Dampak buruk racial trauma ini terbagi dalam dua aspek yaitu secara fisik dan psikis. Dampak psikis bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang karena yang dirasakan adalah perasaan-perasaan tidak nyaman atau emosi-emosi negatif seperti ketakutan, stres, sangat sedih, murung, bahkan hingga menarik diri dari masyarakat.

“Selain itu, dampak psikis juga bisa berpengaruh pada pekerjaan atau aktivitas sehari-hari seperti kinerja kerja menurun atau relasi dengan teman sesama kerja menjadi terganggu,” ujarnya.

Sementara itu, dampak fisik akan memberikan pengaruh besar pada kesehatan seseorang. Saat seseorang mengalami trauma atau stres, secara tidak langsung tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol dalam jumlah yang banyak sehingga akan mengurangi tingkat kekebalan tubuh kita. Hal inilah yang menyebabkan tubuh akan lebih rentan mengalami sakit.

Penanganan dan Durasi Penyembuhan

Pada kasus-kasus trauma, penanganannya dilakukan dalam bentuk terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan klien. “Fokus dari terapi penyembuhan yang dilakukan bertujuan agar korban trauma mampu menghadapi ketakutan terhadap sumber traumanya,” ujar Agustina.

Untuk durasi terapi tidak bisa ditentukan secara pasti, bisa dalam jangka waktu singkat, atau panjang. Ada dua faktor utama yang sangat berpengaruh pada kesuksesan suatu terapi yaitu kondisi dari klien atau korban trauma serta dukungan dari lingkungan sosial klien atau korban trauma.

Seseorang yang telah pulih dari kondisi traumanya dapat disebut sebagai penyintas trauma. Jika kejadian racial trauma terjadi di tempat kerja, maka penyintas trauma perlu mempersiapkan diri saat kembali bekerja. Ada beberapa hal yang dapat dipersiapkan baik dari sisi penyintas maupun perusahaan untuk mencegah kejadian trauma.

Agustina menekankan untuk seseorang yang sudah pernah menjadi korban post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma, maka harus mempunyai bekal agar mampu menghadapi dan bisa mengatasi sumber traumanya di masa yang akan datang serta melatih dirinya sendiri untuk tidak terlalu terdampak dari perilaku rasisme yang diterimanya antara lain dengan mengubah pola pikir yang lebih positif, berfokus pada hal-hal yang disukai, dan berani untuk melaporkan tindakan rasisme ke atasan dan ke pihak yang berwajib apabila sudah disertai dengan tindakan kekerasan.

“Penyintas juga harus melakukan self-care, yaitu merawat dirinya sendiri baik secara kesehatan fisik maupun mental dengan melakukan berbagai hal seperti olahraga, makan, istirahat yang cukup, melakukan hobi yang disukai, dan punya teman atau tempat untuk cerita,” ujar Agustina.

Apabila racial trauma sudah pernah terjadi di suatu tempat kerja, sebaiknya bisa menjadi bahan intropeksi bagi pimpinan perusahaan.

“Seorang pemimpin harus bisa lebih terbuka terhadap karyawannya dan bisa membuat kebijakan/aturan yang bisa melindungi para karyawannya,” ujar Agustina.

Sedangkan bagi perusahaan yang belum pernah memiliki riwayat kejadian racial trauma, bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat preventif seperti acara gathering, camping, training, atau seminar-seminar dengan harapan bisa mengakrabkan sesama karyawan.

Agustina menegaskan racial trauma bisa terjadi dimana saja, karena dalam suatu wilayah, pasti ada potensi gesekan antara kaum minoritas dan mayoritas. Walaupun demikian, harapannya adalah semoga tindakan-tindakan hingga trauma yang diakibatkan karena isu rasisme tidak pernah terjadi di Indonesia. (mt/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.