Kembali Ditemukan Candi dan Petirtaan  di Lereng Gunung Wilis 

Yovie Wicaksono - 17 August 2019
BPCB Trowulan Mojokerto, kembali menemukan struktur bangunan mirip candi di lereng kaki Gunung Wilis. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto, Jawa Timur, untuk kali kedua kembali menemukan struktur bangunan mirip candi di lereng kaki Gunung Wilis, tepatnya di area hutan KPH Kediri, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Penemuan candi yang diduga sebagai tempat ritual pemujaan tersebut berada dibawah lokasi penemuan candi pertama. Jarak lokasi penemuan candi pertama dengan candi kedua hanya terpaut 50 meter.

Ditempat penemuan candi kedua, tim BPCB menemukan sebuah pecahan piring berbahan keramik yang diperkirakan pada masa kerajaan China era Dinasti Song Utara abad ke XI. Dengan ditemukannya benda purbakala berupa pecahan keramik ini, maka semakin memperkuat dugaan jika pada masa pemerintahan kerajaan Kadiri dulunya pernah menjalin hubungan dagang dengan Kerajaan China.

“Kemungkinan diduga, antara kerajaan Kadiri dengan kerajaan China pernah menjalin komunikasi di bidang perdagangan. Indikasi ini menguat dengan ditemukannya pecahan uang koin kuno pada ekskavaksi tahap pertama beberapa waktu lalu,” kata Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Disbudparpora, Endah Setiyowati, Jumat (16/8/2019).

Selain penemuan benda purbakala pecahan keramik, juga diamankan dari lokasi, sebuah pecahan mata uang kuno yang ditemukan pada bangunan candi pertama, yang lokasinya berada 200 meter diatas permukaan laut.

Pecahan mata uang kuno ini diketahui keberadaannya ketika tim BPCB melaksanakan ekskavasi tahap pertama pada tahun 2018 silam.

Secara rinci, luas struktur bangunan candi kedua yang ditemukan, berukuran 870 x 640 meter persegi.

Penemuan candi yang kedua, diketahui oleh tim saat berlangsung proses ekskavasi tahap ke tiga sepuluh hari lalu. Kedua bangunan candi tersebut diperkirakan peninggalan kerajaan Kadiri.

Disamping penemuan dua candi, tim juga menemukan sebuah Petirtaan (kolam air kuno).

Petirtaan ini lokasinya berada di bawah bangunan candi. Petirtaan ini diperkirakan sering  dipergunakan untuk mensucikan diri, sebelum melaksanakan ritual pemujaan naik ke atas candi.

“Kalau orang zaman dahulu kan, mempunyai anggapan jika di dalam gunung bersemayam banyak dewa,” ujarnya.

Tahapan proses ekskavasi sendiri seperti diberitakan sebelumnya, akan berlangsung kurang lebih selama 20 hari. Kegiatan ekskavasi meliputi zonasi, pemetaan, dan penggalian.

“Ekskavasi mulai tanggal 6, nanti rencana sampai 20 hari. Tapi efektifnya mungkin 15 hari karena mereka harus menyusun laporan kembali ke kantor,” kata Endah.

Tim yang dilibatkan dalam proses Ekskavasi ini terdiri dari 14 orang. Mereka memiliki peran dan tugas masing masing. Termasuk juru peta, juru gambar, arkeolog beserta juru gali. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.