Kampung Topi Punggul Sidoarjo

Yovie Wicaksono - 10 July 2019
Ali Murtadlo (49), generasi ke dua pengrajin topi pertama di Desa Punggul, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Sidoarjo – Keberadaan Kampung Topi Punggul, Desa Punggul, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, tidak lepas dari usaha yang dirintis oleh Almarhum Hj. Toha pada tahun 1970an.

Berawal dari usaha sandal miliknya yang kemudian beralih menjadi usaha topi, kini sebagian warga Desa Punggul yang pernah bekerja dengannya, memiliki usaha topi sendiri, hingga membuat desa tersebut dikenal dengan julukan Kampung Topi Punggul.

“Dulu sekitar tahun 70an bapak saya itu bikin sandal, tapi entah kenapa beralih membuat topi. Memasuki tahun 80an itu mulai ramai topi sekolah, yang ikut kerja sama bapak lumayan banyak, tapi karena pekerja lepas jadi mereka ya keluar masuk. Kebanyaan yang pernah ikut kerja sama bapak itu bikin usaha topi sendiri, jadi makin banyak yang bikin topi sampai dikenal Kampung Topi itu,” ujar generasi ke dua Almarhum Hj Toha, Ali Murtadlo (49), kepada Super Radio, Rabu (10/7/2019).

Sejak kuliah semester 2, tepatnya tahun 1992, ketika sang ayah meninggal dunia, membuat Ali  harus meneruskan usaha topi ini, dan bertahan hingga sekarang.

“Saya terpaksa harus melajutkan usaha bapak, karena saya anak ke dua dari sembilan bersaudara, adik saya masih kecil-kecil. Mau ndak mau ya harus meneruskan. Alhamdulillah usaha ini bisa bertahan sampai sekarang,” ujar bapak dari tiga anak ini.

Kini, Ali bersama dengan 10 pekerja lepasnya, dalam 2 minggu mampu memproduksi hingga 10.000 topi sekolah. Hanya dengan mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, Ali menjual topi miliknya mulai harga Rp 3 ribu hingga Rp 50.000 sampai ke Banjarmasin, Bali, Lombok, serta daerah Jawa Timur lainnya.

“Alhamdulillah karena sudah dikenal, promosinya ya dari mulut ke mulut, atas dasar kepercayaan saja. Kalau yang muda-muda sih promosinya sudah pakai media sosial sekarang,” imbuhnya.

Oleh karena keterbatasan pekerja, Ali mengirimkan bahan topi kepada pekerjanya di Bojonegoro yang mencapai 30 orang. “Sekarang permasalahannya itu di tenaga pekerjanya, generasi muda itu jarang ada yang mau menjadi pengrajin topi, jadi saya menyiasatinya dengan mengirimkan dan mempekerjakan orang di Bojonegoro,” imbuhnya.

 

Salah satu pekerja sedang memotong kain yang akan digunakan sebagai topi. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

 

Memasuki bulan Juni hingga Agustus, Ali mengaku kewalahan menerima pesanan topi sekolah, bahkan dirinya sampai menolak pesanan karena waktu dan tenaga yang terbatas.

“Diluar bulan Juni sampai Agustus itu kan sepi untuk topi sekolah, tapi kita tetap produksi untuk stok saat ramai seperti ini. Tapi sekarangpun stok topi sudah terkirim semua dan masih kurang, karena keterbatasan waktu dan tenaga ya terpaksa beberapa pesanan saya tolak,” ujarnya.

Ali mengatakan, pada Tahun Ajaran Baru permintaan topi naik signifikan, biasanya dalam satu atau dua minggu hanya ada sekitar dua orang yang memesan topi sekolah miliknya. Namun sekarang, dalam satu hari ia bisa menerima lebih dari satu pemesan dengan jumlah 100 hingga 1000 topi per orang.

Sementara itu, Pejabat Sementara (Pj) Kepala Desa Punggul, Ahmad Haris (35) mengatakan, terdapat sekitar 48 pengrajin topi di Desa Punggul. Ia berharap, dengan adanya Kampung Topi Punggul ini mampu mengangkat perekonomian masyarakat setempat.

“Harapan kami dengan adanya Kampung Topi Punggul ini, agar bisa mengangkat perekonomian masyarakat disini dan mengurangi angka pengangguran,” imbuhnya.

Sebagai upaya untuk memajukan Kampung Topi Punggul, pihak desa sering mengajak pengrajin topi mengikuti pameran.

“Agenda rutin nya itu pengenalan produk dari Kampung Topi Punggul saat Ruwah Desa satu tahun sekali disini. Bukan hanya topi, tapi juga jilbab, sepatu, kaos kaki, tas hasil karya warga,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.