Bazaar Pusaka di Festival Joko Dolog: Jamasan Keris Klenik atau Tradisi?

Rudy Hartono - 25 July 2024
llustrasi - Penjamasan keris

SR, Surabaya – Mengenal budaya Jawa rasanya tak lepas dari berbagai tradisinya. Salah satunya jamasan pusaka. Suatu ritual yang wajib dilakukan di momen tertentu kalender Jawa.

Sayangnya, ritual itu sering dikaitkan dengan klenik dan mistis. Lantas benarkah hal tersebut?

Budayawan, Anwar Zen menjelaskan, ritual jamasan merupakan bentuk nguri-uri budaya sekaligus penghormatan terhadap leluhur terdahulu. Jamasan memiliki arti suci, memandikan, atau mandi. Sedangkan pusaka merupakan sebutan bagi benda yang dianggap keramat.

Sehingga jamasan pusaka bertujuan untuk merawat pusaka seperti keris ataupun senjata dan peninggalan nenek moyang agar tidak cepat rusak. “Jamasan itu salah satu bentuk perawatan pada bilah pusaka yang dilakukan di malam tanggal 1 bulan Suro, kalender Jawa,” ujarnya saat ditemui di Festival Joko Dolog Surabaya, Selasa (23/7/2024).

Budayawan, Anwar Zen, di lokasi Festival Joko Dolog Surabaya, Selasa (23/7/2024). (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Ditanya terkait alasan dilakukannya ritual jamasan setiap Suro, Anwar menyebut, hal tersebut sebagai simbol penyucian. Dipilihnya malam 1 Suro sebab di waktu tersebut merupakan momen sakral bagi masyarakat jawa.

“Dalam hal lain memang banyak versi, tapi pada dasarnya itu untuk mejaga kelestarian sebilah keris agar bisa berumur panjang dan tidak rusak,” ungkapnya.

Adapun bahan yang dipersiapkan untuk pemandian pusaka, juga khusus. Mulai dari kembang setaman campuran 5 jenis bunga yakni mawar merah dan putih, kanthil, kenanga, dan bunga melati.

Koleksi keris milik Budayawan, Anwar Zen, di lokasi Festival Joko Dolog Surabaya, Selasa (23/7/2024). (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Lalu ada minyak jamasan yang berbahan kayu cendana, atau melati, atau minyak dari bermacam bunga.

Kemudian, air yang digunakan berasal dari beberapa sumber mata air yang dipercaya punya tingkat kesucian untuk menjamas keris. Bahan untuk penjamasan lainnya:  dupa, baki, hingga abu gosok dan alat untuk membersihkan keris.

“Jadi prinsipnya teknik penjamasan berbeda setiap orang. Yang pasti ada media air dari beberapa sumber mata air yang dipercayai punya tingkat kesucian,” tuturnya yang mengenakan baju khas adat jawa itu.

Semua bahan tersebut, selanjutnya dipadukan secara bertahap diiringi doa dan pengharapan. “Itu memang salah satu bentuk gambaran doa yang diperwujudkan dengan bentuk mahluk yaitu bunga. Setiap bunga punya simbol masing-masing yang punya makna atau filosofi  berbeda,” pungkas Anwar. (hk/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.