Gerakan Nurani Bangsa Desak Kekuasaan Kembali ke Jalur Etika

Rudy Hartono - 15 January 2026
Tangkapan layar - Anggota Gerakan Nurani Bangsa (GNB) sekaligus putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid, dalam konferensi pers di Gereja Katedral, Jakarta, Selasa (13/1/2026).

SR,​ Jakarta – Tokoh-tokoh yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB) mendesak para penyelenggara negara untuk mengembalikan etika sebagai panglima dalam menjalankan kekuasaan.

“Etika harus diletakkan sebagai landasan utama dalam memegang amanah kekuasaan. Tanpa etika, kekuasaan akan kehilangan ruh dan mandat moralnya di hadapan Tuhan dan rakyat Indonesia,” tegas Alissa Wahid, putri pertama dari Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid, saat membacakan salah satu poin pernyataan sikap GNB dalam konferensi pers di Gereja Katedral, Jakarta, Selasa (13/1/2025). Hadir membersamai konferensi pers itu sejumlah tokoh di antaranya Nyai Sinta Nuriyah Wahid, M. Quraish Shihab, Romo Franz Magnis-Suseno dan Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo.

Selain masalah etika, GNB menyoroti praktik politik yang kian menjauh dari nilai-nilai konstitusi. Omi Komaria Nurcholish Madjid dalam pesannya menyerukan agar pemegang otoritas berhenti mencederai sendi-sendi demokrasi demi kepentingan sesaat.

​”Kami menyerukan kepada semua pihak, terutama pemegang otoritas, untuk menjaga dan merawat demokrasi. Segala bentuk praktik yang mencederai demokrasi, supremasi hukum, dan hak asasi manusia harus segera dihentikan,” ujar Omi Komaria.

GNB juga memberikan catatan khusus mengenai kondisi ekonomi. Mereka meminta pemerintah lebih peka terhadap jeritan rakyat kecil yang terhimpit kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan sosial. Hal ini ditekankan oleh Ibu Nyai Sinta Nuriyah Wahid yang meminta negara kembali pada khitah kemaslahatan publik.

​”Orientasi kebijakan dan tindakan negara harus difokuskan sepenuhnya untuk kemaslahatan rakyat. Negara harus peka dan peduli terhadap beban hidup rakyat yang kian berat, serta mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutur Ibu Sinta Nuriyah.

​Pesan kebangsaan ini juga mencakup desakan terhadap profesionalitas TNI/Polri untuk tetap berada pada koridor supremasi sipil, serta permintaan agar penegakan hukum dilakukan secara adil tanpa diskriminasi maupun represi.

Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo dalam pemaparannya menekankan bahwa esensi sejati dari seorang pemimpin adalah kesediaan untuk berkorban demi rakyatnya, bukan justru memanfaatkan rakyat demi kepentingan pribadi atau kelompok.

​”Pemimpin itu memimpin, memberi teladan. Dia akan mengorbankan segala sesuatu untuk yang dipimpin, itulah yang saya sebut sebagai moralitas tinggi, integritas yang sangat unggul,” tegas Kardinal Suharyo

​Gerakan Nurani Bangsa menyatakan akan terus mengawal jalannya pemerintahan di tahun 2026 sebagai kekuatan moral. Mereka mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap bersatu dan menjadikan nurani sebagai benteng terakhir dalam menjaga martabat Republik Indonesia. (js/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.