Film “Invisible Hopes”, Potret Narapidana Hamil dan Anak-anak di Dalam Penjara

Yovie Wicaksono - 13 February 2022

SR, Surabaya – Pemenang Piala Citra kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2021, berjudul Invisible Hopes datang menyapa Surabaya. 

Karya besutan sutradara sekaligus produser Lamtiar Simorangkir tersebut, hadir dalam gelaran “Pemutaran dan Diskusi Film” di CGV Marvell City, Sabtu (12/2/2022).

Lamtiar Simorangkir mengatakan, kegiatan yang diselenggarakan oleh Lam Horas Film bersama support Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) dan Komisi Perempuan Indonesia (KPI) Jatim ini merupakan gelaran kelima dari rangkaian kegiatan yang telah disusun.

“Acara hari ini basically sebagai bentuk support Mendikbud Ristek karena film nya menang FFI. Jadi Mendikbud Ristek itu mensupport 6 nobar, yakni Jakarta, Tangerang, Medan, Makassar, Surabaya, dan terakhir nanti di Bandung,” ujar Lamtiar Simorangkir.

Kota Surabaya pun dipilih sebagai salah satu prioritas karena menjadi salah satu kota dengan tingkat narapidana perempuan tertinggi, sehingga memerlukan peningkatan kesadaran.

“Saya punya list 16 kota dengan tingkat narapidana perempuan tertinggi di Indonesia, tapi kan gak bisa semua kota jadi dipilih yang prioritas seperti Medan, Surabaya, dan Makasar,” jelasnya.

Film Invisible Hopes sendiri, merupakan dokumenter yang mengangkat kisah kehidupan para narapidana perempuan yang sejak hamil hingga melahirkan harus merawat dirinya serta anaknya di dalam lingkungan penjara.

Lewat film inilah, ia mengajak masyarakat, terutama yang berada di kota dengan tingkat narapidana relatif tinggi untuk membangkitkan kepedulian serta menghilangkan stigma buruk pada narapidana maupun anak dari narapidana.

“Pertama, kami ingin menginformasikan ke masyarakat bahwa pada kenyataannya ada narapidana hamil dan anak-anak yang lahir dalam penjara,” ucapnya.

“Kedua, untuk raising awareness dan kepedulian kita. Di sekitar kita ada lapas atau rutan dimana ibu hamil terutama anak-anak yang lahir harus hidup dalam penjara, ini butuh perhatian kita. Jadi untuk meningkatkan kepedulian kita semua,” imbuhnya.

Tak ayal, pesan tersebut juga sampai pada penonton yang hadir dalam pemutaran film. Banyak dari mereka yang mengaku kaget dan sedih mengetahui kenyataan yang terjadi pada para perempuan dan anak yang hidup di dalam penjara.

Salah satunya disampaikan oleh staf ahli bidang hukum dan politik pemerintah Kota Surabaya, Afghani Wardana yang hadir sebagai perwakilan Wali Kota Surabaya.

“Film ini sungguh menggugah kesadaran kita bersama, bahwa diluar sana masih ada sisi kehidupan yang selama ini perlu mendapat perhatian kita semua. Saya sangat mengapresiasi kerja produser, sutradara, beserta tim dari komunitas Lam Horas Film, terima kasih telah menyuguhkan karya dokumenter yang luar biasa,” ungkap Afghani. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.