Efek Pandemi, Begini Kondisi Kampung Kupang Balongdowo Sidoarjo

Yovie Wicaksono - 31 March 2022
Kampung Kupang Balongdowo di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo. Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Sidoarjo – Dampak Covid-19 yang telah berlangsung selama 2 tahun ini ternyata masih sangat terasa, salah satunya pada pengolahan kupang di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo.

Kawasan yang dikenal dengan sebutan Kampung Kupang tersebut, kini terlihat jauh mengurangi aktivitas melautnya. Perahu nelayan yang biasanya berjejer bak pasar terapung pun, sudah jarang terlihat di sepanjang sungai yang mengarah ke laut lepas.

Lurah Pedukuhan Meduran, Desa Balungdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Amiril Mukminin mengatakan, selama 2 tahun terakhir, warga yang mengelola kupang terus berkurang. Dari ratusan warga, hanya tersisa sekira 50 orang saja yang tetap menggantungkan mata pencahariannya pada salah satu makanan khas Sidoarjo itu. Sedangkan sisanya beralih mencari pekerjaan lain.

“Warga Balungdowo yang nelayan tinggal 7 orang dan kebanyakan sekarang gak punya perahu karena biaya perawatannya sangat mahal. Nah warga tidak mau mengelola kupang, mendingan kerja lain, karena untuk pengambilan kupang itu biaya nya sangat banyak,” ujarnya, Kamis (31/3/2022).

Tingginya biaya perawatan perahu, berkurangnya cakupan wilayah untuk mencari kupang, dan sulitnya proses meracik kuliner tersebut, menjadi pertimbangan berat bagi warga disana.

Alhasil, untuk menyiasati hal tersebut, masyarakat memilih mengambil pasokan kupang dari daerah lain yakni Pasuruan, Gresik, Madura, dan Lamongan. Dari pasokan tersebut, selanjutnya para warga memasukan kupang ke dalam freezer untuk dijual ke desa-desa lain.

“Untuk hasil kupang sangat drastis menurun. Satu sak itu dulu bisa mendapat hasil Rp 50 ribu sekarang paling Rp 20-25 ribu. Pengambilan dari sana itu, warga daerah Pasuruan dan lainnya yang nyerok di perairan, orang sini yang ambil hasil kupang untuk dibawa dengan truk,” ungkapnya.

Hal serupa dirasakan oleh Silvi, salah satu warga yang menjual lontong kupang itu menyebut, proses pengolahan hewan laut itu menjadi makanan, telah lumayan memakan waktu. Sehingga akan terasa sangat berat jika diharuskan berlayar mencari sendiri.

“Prosesnya itu susah, karena harus misahkan cangkang dan oyot nya lalu direbus 3-4 jam dari malam sampai pagi, lalu setelah direbus kaldunya dibuat campuran untuk petis. Sekali mengolah itu 4-5 sak,” ucap Silvi.

“Kalau saya ambil di Sedayu dari Pasuruan, nanti kupangnya ada yang dimasukan freezer untuk dijual per takaran. Kalau saya bawa dari pemasok itu 15 taker jadi 80 porsi, kalau rame sehari bisa dapat 400ribu,” imbuhnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.