Dongkrak Minat Siswa, SMKN 1 Sine Gandeng OISCA Jepang

Yovie Wicaksono - 3 April 2020
Proses Belajar Mengajar di Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. (Foto : Istimewa)

SR, Ngawi – Perkembangan teknologi dan kondisi industri di Indonesia, membuat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus melakukan inovasi dan strategi dalam mendapatkan siswa setiap tahun ajaran baru. Tidak terkecuali SMKN 1 Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Di sekolah yang para siswa berasal dari kalangan menengah ke bawah ini, jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Selain dihadapkan pada minimnya jumlah siswa, paradigma masyarakat soal profesi petani juga menjadi tantangan.

Guna mendongkrak jumlah siswa, pihak sekolah memberikan keringanan bagi siswa yang mengambil jurusan tersebut. Salah satunya adalah membebaskan biaya seragam sekolah.

“Total ada 5 jenis seragam yang kami gratiskan bagi siswa ATPH. Mulai dari seragam OSIS, batik, olahraga hingga Pramuka,” ujar Kepala Sekolah SMKN 1 Sine, J.H. Budi Santosa, Jumat (3/4/2020).

Selain membebaskan pembelian seragam, SMKN 1 Sine juga membuat gebrakan, bekerjasama dengan The Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement (OISCA) Jepang untuk mengembangkan ilmu Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura yang didapatkan siswa.

OISCA sendiri adalah sebuah organisasi yang berbasis di Jepang. Mereka dilatih secara intensif bagaimana mengembangkan pertanian termasuk manajemen pengembangannya.

“Kami ingin siswa tidak hanya menjadi petani biasa, namun bisa mengembangkan hasil tanaman pangan menjadi sebuah produk yang bisa dirasakan hasilnya. Mulai dari cara penyajian dan pengemasannya,” kata Budi.

Siswa Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Sine, Saat Praktik Lahan. Foto : (Istimewa)

Dijelaskan lebih lanjut, perbaikan fasilitas, sarana dan inovasi pendidikan di jurusan ATPH akan terus dilakukan. Misalnya menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam penyusunan kurikulum. Memperbanyak praktik siswa di lahan serta memperbolehkan penjualan hasil tanaman siswa yang hasilnya untuk kas siswa.

Sekolah juga memberikan bantuan biaya praktik di dunia usaha atau industri bagi siswa yang tidak mampu. Serta memilih tempat prakerin dan kunjungan industri yang relevan dengan peningkatan kompetensi siswa.

Melalui cara ini, diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat, sekaligus ingin membuktikan bahwa ATPH bisa memberikan banyak manfaat bagi masa depan siswa.

“Tentunya kami ingin jumlah siswa ATPH bisa terus bertambah setiap tahunnya. Saat ini kami memiliki 850 siswa, namun hanya 18 – 20 siswa yang memilih ATPH,” kata Budi.

Sekedar informasi, ATPH di SMKN 1 Sine adalah satu-satunya jurusan atau program keahlian di tingkat SMK yang ada di kabupaten Ngawi. Jurusan ini dipilih, karena ingin selaras dengan visi misi pemerintahan Jokowi, Pemprov Jawa Timur dan Kabupaten Ngawi untuk memberikan perhatian di bidang pertanian. (ng/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.