Dinsos Kota Kediri Bebaskan Penghuni Mata Air Sumber Suyo yang Terpasung

Yovie Wicaksono - 29 May 2021
Dinsos Kota Kediri Bebaskan Penghuni Mata Air Sumber Suyo yang Terpasung. Foto : (Istimewa)

SR, Kediri – Diduga diperkirakan sejak menginjak usia 18 tahun, Iwan tinggal dan menetap dalam kondisi kaki kiri terpasung di konservasi mata air Sumber Suyo di Lingkungan Centong,  Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Ia tinggal di sebuah bangunan separuh jadi yang dikelilingi sumber mata air. Kesehariannya, ia makan dan minum sekaligus buang air besar disana.

Setiap malam tiba, ia selalu merasa kedinginan, mengingat tidak ada satu helai pun pakaian maupun celana yang melekat. Pemuda yang diperkirakan berusia 23 tahun ini lebih suka bertelanjang dada. Meski kaki kirinya terbelenggu rantai sepanjang kurang lebih 2 meter, iwan masih bisa berenang untuk mandi di sumber mata air.

Mengetahui hal ini, petugas Dinsos Kota Kediri  merasa tergerak hatinya untuk membebaskan Iwan dari pasungan yang selama ini membelenggunya.

“Kita datang berempat langsung ke lokasi. Kita mandikan disana, kita kasih makan, terus  kita bawa ke kantor kelurahan, setelah itu dibawa langsung ke Rumah Sakit jiwa Lawang. Sebelumnya surat-surat kita lengkapi dulu, seperti rekom dari Dinsos terus surat rujukan dari Puskesmas sudah kita siapkan,” ujar Kepala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial Dinsos Kota Kediri, Sumarni, Jumat (28/5/2021).

Sebelumnya, ketika tiba  dilokasi, Sumarni melihat Iwan dalam keadaan telanjang dada, sebenarnya ada sejumlah warga yang merasa iba dengan nasibnya, ia selalu mendapatkan perhatian, dengan memberinya makanan dan baju.

“Setiap diberi baju selalu dibuang, tapi kemarin waktu dibawa ke RSJ Lawang dimandikan. Setelah dimandikan, diberi baju dia senang. Saya sampai menangis melihat ekspresi wajah dia. Tahu ada mobil disitu, tangan petugas bergegas dia pegang, sepertinya minta naik mobil,” kata Sumarni.

Karena tinggal disana selama belasan tahun dan tidak pernah bersosialisasi dengan orang lain, Iwan berperilaku seperti layaknya orang luar yang tidak tahu apa-apa.

Setiap gerak gerik petugas Dinsos yang datang kesana selalu ia tirukan. Sumarni menilai sebenarnya Iwan memiliki kepandaian, namun karena tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat akhirnya seperti itu.

Diperkirakan Iwan tinggal disana sejak usia 7 tahun, konon katanya Iwan berasal  dari keluarga terpandang yang sengaja di titipkan disalah satu perguruan atau padepokan yang ada disekitar lingkungan  mata air Sumber Suyo.

Padepokan tersebut selama ini konon dianggap bisa mengobati penderita gangguan jiwa melalui cara metafisika atau supranatural.

Seiring berjalannya waktu, Iwan kemudian tumbuh dewasa. Namun karena perilakunya dinilai tak wajar, Iwan kemudian dipasung.

“Ceritanya seperti itu, disana ada padepokan yang khusus menangani hal seperti itu. Disana ada pimpinannya. Tapi cara pengobatannya bukan seperti halnya dokter. Namun semenjak pimpinan  dari padepokan ini meninggal, hidup Iwan jadi semakin tak terurus,” ungkapnya.

Meski tak bisa berkomunikasi secara benar, sepintas Sumarni melihat bersangkutan adalah sosok pemuda yang merindukan kasih sayang keluarganya. Perilaku ini ia lihat saat rombongan petugas Dinas Sosial dalam perjalanan  membawanya ke Rumah Sakit Jiwa Lawang.

“Dia itu merasa senang, sebelumnya sekitar tahun 2018 bersangkutan pernah diobati juga di RSJ Lawang Malang. Karena posisinya di situ (mata air Sumber Suyo)  tidak ada yang mendampingi minum obat, kan sepi,” imbuhnya.

Karena tak terurus, sekembalinya menjalani pengobatan hidupnya kembali seperti itu. Ia kerap kali terlihat berenang di sumber mata air sambil menangkap ikan di sumber mata air dengan kondisi kaki kiri masih  dirantai.

Sumarni mengaku tidak tahu persis, siapa yang membawa Iwan berobat ke padepokan tersebut. Konon isu yang berkembang, diduga Iwan adalah anak orang penting (pejabat) yang berdomisili di luar kota. Iwan kemudian dititipkan di Kediri oleh keluarganya di padepokan.

Sampai sekarang belum diketahui secara jelas identitas bersangkutan, warga sekitar lebih mengenalnya dengan panggilan Iwan.

“Dulu yang membawa siapa saya juga kurang tahu, setahu saya dia sudah ada di Padepokan. Dengar  dengar seperti itu sampai sekarang kita tidak bisa membuktikan, tidak tahu siapa bapaknya (pejabat yang dimaksud), tahunya ya dari padepokan itu,” urainya.

Dulu Iwan kerap kali dijenguk oleh pihak keluarganya yang datang mengendarai mobil. Pihak keluarga hanya datang sambil membawa makanan terus pergi lagi, setelah itu sekian lama tidak diketahui lagi keberadaan keluarganya.

Sekadar diketahui, jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah Kota Kediri saat ini berkisar sekitar kurang lebih 500 orang. Sementara itu, jumlah tenaga pendamping yang dimiliki Dinas Sosial hanya 3 orang per Kecamatan. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.