Henry Siswanto Sulap Besi Bekas Jadi Puluhan Karya Seni Indah
SR, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, Pria dengan kelahiran 25 September 1981 Henry Siswanto tampil sebagai seniman patung logam, metal sculptor, kontemporer yang sukses mengubah material sisa industri dan besi bekas bengkel menjadi karya seni bernilai tinggi.
Berawal dari hobi menggambar dan latar belakang profesinya sebagai seorang Insinyur Arsitektur (architectural engineer), Henry berhasil memadukan presisi teknik arsitektur dengan kepekaan artistik tiga dimensi.
Karya-karyanya merentang mulai dari seni dekoratif, makhluk mitologis, hingga bentuk robot futuristik bergaya sci-fi.
Henry Siswanto berdomisili di Surabaya, Jawa Timur, dan menjadikan dunia seni rupa sebagai wadah ekspresi di sela-sela kesibukannya sebagai pekerja profesional.
Disiplin keilmuan arsitektur yang dimilikinya menanamkan ketelitian mendalam terhadap struktur, detail, dan presisi bentuk.
Selain mengolah logam keras, Henry juga aktif dalam komunitas urban sketcher Surabaya untuk menyalurkan kecintaannya pada garis, arsitektur, dan objek-objek rumit.
Perjalanan kreatif Henry berakar kuat dari imajinasi masa kecilnya yang sangat menyukai cerita dongeng, robot, serta makhluk-makhluk mistis.
Bagi Henry, proses mencipta patung bukan sekadar rutinitas harian, melainkan sebuah bentuk “ruang pelarian” guna melepaskan diri dari kejenuhan aktivitas kerja profesionalnya. Melalui medium logam, ia menuangkan ide-ide spontan yang terlebih dahulu dirancang lewat sketsa tangan sebelum direalisasikan menjadi bentuk fisik.

Proses Pembuatan Patung Selalu Melalui Sketsa
Dalam proses teknisnya, setiap patung buatan Henry dirakit dari pelat besi industri, besi bekas sisa bengkel, hingga dikombinasikan dengan kaca hias (stained glass).
Henry memotong, menempa, mengelas, dan menyusun material tersebut lapis demi lapis untuk membentuk anatomi, lekukan otot, hingga ornamen zirah (armor).
Proses pembuatan diawali dari sketsa per bagian, pembentukan kerangka struktural, hingga tahap finishing detail yang membutuhkan waktu bervariasi mulai dari satu minggu, dua bulan, bahkan hingga satu tahun.
Saat membuat karya besar seperti figur “Mecha Robot”, Henry tidak bekerja sendirian melainkan dibantu oleh tim beranggotakan empat orang.
Dua orang bertugas membangun struktur raga agar kokoh, sementara dua orang lainnya mengelas zirah robot. Henry mengungkapkan proses panjang di balik pembuatan karya etalase besar tersebut.
“Dibutuhkan waktu sebulan penuh untuk membentuk raga dasarnya, sebelum akhirnya menghabiskan minggu-minggu berikutnya untuk revisi dan penyempurnaan detail,”.jelas henry
Keahlian Henry tidak hanya terbatas pada patung tiga dimensi, tetapi juga pada sketsa arsitektur langsung di lapangan (urban sketching). Ia pernah memamerkan sketsa kelenteng bersejarah di Surabaya, seperti Kelenteng Sanggar Agung dan Kampung Duku.
Sambil membagikan pengalamannya menggambar arsitektur dan seni naga kelenteng, Henry menceritakan “Saya suka arsitekturnya dan warna-warnanya, makanya saya milih tema kelenteng yang ada seni naganya. Kalau bikin sketsa tanpa warna biasanya cepat, 5 sampai 10 menit jadi, tapi kalau mewarnai bisa jam-jaman,” ujarnya.

Mimpi Suvenir Sura dan Baya Sejak Kecil
Dedikasi Henry terhadap seni juga melahirkan karya ikonis berupa patung lambang Kota Surabaya, yakni Sura dan Buaya yang terbuat dari bahan besi. Dikerjakan bersama empat orang timnya dalam waktu sekitar dua hingga empat bulan, proses pembuatannya dilakukan secara bertahap dan penuh kesabaran.
Henry terlebih dahulu menyelesaikan figur hiu (Sura) secara mendalam, sebelum kemudian melanjutkan perakitan figur buaya hingga membentuk instalasi utuh.
Alasan di balik pembuatan patung lambang Surabaya ini murni berawal dari keinginan pribadi serta dorongan rekan-rekannya sesama seniman. Henry mengakui bahwa ia kesulitan menemukan suvenir lambang kota yang sesuai dengan keinginannya.
“Saya dari dulu tuh pengin punya kayak lambangnya Surabaya yang kecil, tapi kan gak ada yang jual sih. Gak pernah ada yang jual. Ya, saya bikin sendiri,”ungkap Henry(18/9/2026)
Ia juga menambahkan tanggapan atas masukan temannya “Karya saya yang lain kan temanya kurang mewakili Surabaya katanya. Jadi kenapa kita enggak bikin yang lokal?” tambahnya
Kini, karya-karya Henry Siswanto telah menghiasi berbagai ajang pameran seni rupa terkemuka, mulai dari pameran “Persona Kelana” di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur. Dan saat ini pameran patung instalasi tunggalnya di Ciputra World Mall Surabaya yang dipamerkan mulai di tanggal 18 sampai 27 september 2026.
Bagi Henry, logam bukan sekadar benda dingin, melainkan kanvas tiga dimensi yang menyimpan potensi jiwa dan gerak.
Melalui pamerannya di bawah identitas akun resmi instagramnya @iron_weld, ia terus membuktikan filosofinya bahwa keindahan yang hakiki dapat lahir dari proses menempa bahan yang paling keras sekalipun. (js/red)
Tags: arsitek, besi bekas, henry siswanto, ikon surabaya, seni patung, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





