Psikolog UKWMS: Tertawa Resep Murah untuk Menjaga Kewarasan

Rudy Hartono - 15 January 2026
Dr Michael Seno Rahardanto SPsi MA, dosen psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

SR, Surabaya – Di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks, tertawa sering dianggap sebagai hal ringan, bahkan remeh.  Berbeda halnya bagi psikolog Dr Michael Seno Rahardanto SPsi MA, tertawa adalah mekanisme biologis sekaligus psikologis yang mampu menjaga kewarasan.

Dijelaskannya, secara neurobiologis, saat tertawa tubuh dapat menekan produksi hormon stres seperti kortisol dan epinefrin. Pada saat yang sama  tubuh dibanjiri  dopamine, hormon yang meningkatkan mood dan endorfin sebagai pereda nyeri alami. “Hasilnya, suasana hati membaik dan ketahanan mental meningkat secara instan. Jadi, tertawa itu ibarat usaha  pemeliharaan otak” papar Dr Rahardanto dalam wawancara bersama tim Super Radio, Rabu(14/1/2026).

Lebih dari sekadar ekspresi, tawa juga terbukti meredakan stres melalui mekanisme arousal-relief. Awalnya, tawa memacu detak jantung dan tekanan darah layaknya olahraga ringan. Namun setelah itu, tubuh memasuki fase relaksasi otot yang mendalam, mengaktifkan sistem saraf parasimpatis. Efek relaksasi ini bahkan bisa bertahan hingga 45 menit setelah tawa berhenti. “Itulah mengapa setelah tertawa lepas, kita merasa lebih tenang menghadapi tekanan,” imbuh akademisi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya itu.

Menariknya, manfaat tawa tidak hanya datang dari yang spontan. Teori Facial Feedback Hypothesis menunjukkan bahwa otak sulit membedakan tawa alami dengan tawa simulasi. Sementara penelitian Kraft & Pressman (2012) membuktikan bahwa senyum yang dipaksakan dengan memegang sumpit di mulut dapat menurunkan detak jantung saat pemulihan stres. Begitu pula riset Neuhoff & Schaefer (2002) yang menemukan bahwa tawa buatan tetap meningkatkan mood. Ditambah lagi tinjauan Dr. Ramon Mora-Ripoll (2011) menegaskan bahwa tubuh memperoleh manfaat fisiologis yang sama, baik dari tawa spontan maupun simulasi.

Dalam praktik psikologi, humor dan tawa memiliki ranah tersendiri yang disebut gelotologi. Dalam terapi kognitif, humor digunakan untuk cognitive reframing yang membantu klien melihat masalah berat dari sudut pandang yang lebih ringan atau absurd. Terapi tawa juga banyak diterapkan pada pasien lansia maupun penderita nyeri kronis untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Dr Michael Seno Rahardanto berpesan yang pada saat itu disampaikan dalam wawancara oleh Tim Super Radio.  “Kemampuan untuk tertawa di tengah kesulitan adalah tanda resiliensi dan kecerdasan yang tinggi. Tertawa adalah cara murah, cepat, dan ilmiah untuk menjaga kewarasan kita.” (js/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.