Belenggu Lingkungan Keluarga Toxic Pemicu Kanker
SR, Surabaya – Peringatan Hari Kanker Sedunia setiap tanggal 4 Februari biasanya didominasi oleh seruan untuk menjaga pola makan dan aktivitas fisik. Namun, ada satu dimensi yang sering kali luput dari perhatian publik meski dampaknya sangat fatal: kesehatan mental di tengah lingkungan toxic.
Tekanan sosial dan konflik domestik, seperti hubungan yang tidak harmonis dengan mertua atau pola asuh orang tua yang diktator, bukan sekadar beban pikiran, melainkan bom waktu yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker dalam tubuh.
Secara medis, hubungan antara kondisi psikologis dan penyakit fisik ini dijelaskan secara gamblang oleh Dr Ema Surya Pertiwi Cht Cl. Dalam edukasinya, ia menekankan bahwa gaya hidup sehat saja tidak cukup jika seseorang mengalami stres kronis.
Menurutnya, stres yang berkepanjangan memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin secara terus-menerus. Kondisi ini pada akhirnya melemahkan sistem kekebalan tubuh yang seharusnya bertugas mendeteksi dan menghancurkan sel-sel abnormal sebelum berkembang menjadi kanker.
Dr Ema juga menyoroti bahwa peristiwa hidup yang traumatis, termasuk konflik keluarga yang berlarut-larut atau perceraian, dapat meningkatkan risiko kanker payudara hingga 30 persen pada wanita. “Sistem kekebalan yang sehat sangat penting untuk menghancurkan sel abnormal. Ketika stres, imunitas tubuh menurun, dan itulah saat sel kanker mulai mendapat celah untuk berkembang,” jelas Dr Ema
Fenomena ini dialami secara nyata oleh Uril, seorang penyintas kanker payudara yang didiagnosis pada tahun 2023. Selama bertahun-tahun, Uril hidup dalam tekanan akibat ketidakcocokan dengan ibu mertuanya.
Alih-alih meluapkan kekecewaannya, ia memilih untuk memendam semuanya demi menjaga keutuhan rumah tangga. Namun, apa yang ia anggap sebagai bentuk pengabdian justru menjadi bumerang bagi kesehatan fisiknya sendiri karena tumpukan emosi negatif yang tidak terolah. “Saya memilih diam, cuma dipendam saja rasa tidak cocok itu. Tapi diam itu ternyata semakin lama semakin berat,” ungkap Uril
Ia menyadari bahwa tubuhnya memiliki batas dalam menampung kepedihan emosional yang tidak pernah dilepaskan. Uril menambahkan, “Lama-lama, saya merasa tubuh saya itu gimana yaa.. bingung tiba tiba muncul benjolan itu, Setelah diperiksa ternyata yaa penyakit itu.”

Kisah yang tidak kalah memilukan datang dari Laras, penyintas lainnya, yang harus berjuang melawan kanker di tengah lingkungan yang diskriminatif. Laras menceritakan bagaimana ia harus menelan pil pahit saat mertuanya memberikan komentar yang meruntuhkan mentalnya di saat ia sedang berjuang untuk sembuh. Tinggal di lingkungan yang berdekatan dengan mertua membuatnya terus-menerus terpapar pada energi negatif yang menghambat proses pemulihannya.
Laras mengenang ucapan mertuanya yang sangat menyakitkan: Bentar aja ya Lu, bentar lagi mati, ngapain kamu tolongin? Komentar semacam itu menjadi pukulan telak bagi Laras yang sedang berada di titik terendahnya. “Siapa sih orang yang mau sakit kayak begini? Kita butuh dukungan, bukan justru dihujat,” keluh Laras. Baginya, tekanan dari keluarga jauh lebih menyakitkan daripada prosedur medis yang harus ia jalani berkali-kali.
Tekanan lingkungan toxic ini juga merambah pada pola asuh orang tua yang terlalu dominan atau diktator. Laras menceritakan bahwa banyak rekan sesama penyintas, seperti sahabatnya yang bernama Nana, yang didiagnosis kanker akibat tekanan hebat dari orang tua sejak masa kecil. Hubungan yang penuh kekangan dan minim apresiasi menciptakan stres jangka panjang yang akhirnya bermanifestasi menjadi penyakit fisik yang mengancam nyawa.

Asih selaku Ketua Love Pink Surabaya, menekankan pentingnya memiliki support system yang sehat sebagai penawar racun dari lingkungan yang buruk. Komunitas hadir untuk memberikan ruang aman bagi para penyintas untuk saling berbagi beban yang mungkin tidak bisa mereka ceritakan di rumah. Menurut Asih, dukungan emosional dari sesama penyintas dapat membantu menurunkan tingkat stres secara signifikan dan meningkatkan semangat hidup pasien.
Dalam hal ini memang timbulnya penyakit kanker ini masih menjadi bahan penelitian dari para pakar kesehatan dan masih banyak penyebab lain dari timbulnya kanker seperti Pola makan tidak sehat, tidur yang kurang dan bisa juga faktor gentik.
“Dunia kedokteran belum mengetahui penyebab pastinya kanker payudara. Tapi ada beberapa faktor risiko yg bisa kita ketahui seseorang terdiaknosis kanker payudara. Faktor risiko seseorang bisa terdiaknosis kanker payudara sangat banyak salah satunya adalah stres. Tapi sekali lagi faktor risiko ini tidak serta merta menjadi penyebab utama seseorang terdiaknosis kanker payudara,”urainya.
Dengan memutus rantai lingkungan toxic adalah bagian dari upaya pencegahan kanker. Kesehatan bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi juga tentang apa yang kita pikirkan dan siapa yang berada di sekitar kita. Menciptakan keharmonisan dalam keluarga, terutama hubungan antara mertua, menantu, dan orang tua, bukan hanya soal etika sosial, melainkan investasi nyata bagi kelangsungan hidup dan kesehatan jangka panjang. (js/red)
Tags: Hari Kanker Sedunia, keluarga toxic, love pink, penyintas
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





