Ideologi PDI Perjuangan Jadi Landasan Kepemimpinan Bupati Azwar Anas

Yovie Wicaksono - 9 August 2019
Bupati Banyuwangi Azwar Anas dalam sebuah diskusi di sela-sela Kongres V PDI Perjuangan, Jumat (9/8/2019). Foto : (Istimewa)

SR, Denpasar – Ideologi partai menjadi landasan penting bagi kepala daerah untuk membangun masing-masing daerahnya. Hal ini pula yang turut dipraktikkan oleh dua kepala daerah kader PDI Perjuangan yaitu Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas dan Bupati Boven Digoel, Benediktus.

Bupati Azwar Anas mengungkapkan, ketika ia direkomendasikan PDI Perjuangan maju Pilbup Banyuwangi, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri mengingatkan agar selalu bekerja untuk menggerakkan ekonomi rakyat.

“Saat akan maju Pilbup Banyuwangi, Bu Mega tidak minta uang, hanya perintahkan ke kami untuk memajukan daerah, mengatasi kemiskinan. Dalam setiap diskusi, titik tekan Bu Mega hanya berkisar soal kemajuan daerah dan pengentasan kemiskinan. Beliau detail soal itu,” ujar Anas dalam sebuah diskusi di sela-sela Kongres V PDI Perjuangan, Jumat (9/8/2019).

Untuk menerjemahkan pesan Megawati Soekarnoputri tersebut, Azwar Anas pun merancang sejumlah program yang secara signifikan mampu menurunkan angka kemiskinan dari sebelumnya dua digit menjadi tinggal 7,8 persen pada 2018.

“Ekonomi rakyat bergerak, pendapatan per kapita rakyat Banyuwangi melonjak dari sebelumnya hanya Rp20 juta menjadi Rp48 juta per orang per tahun,” papar Anas yang merupakan bupati Banyuwangi dua periode.

Anas mencontohkan sejumlah program yang digeber di Banyuwangi. Di antaranya “Rantang Kasih” yang mendistribusikan makanan bergizi tiap hari kepada warga lansia kurang mampu. Lebih dari 3.000 lansia yang telah dikirimi rantang berisi makanan bergizi tiap hari secara gratis.

Selain itu juga ada program uang saku dan biaya transportasi setiap hari kepada pelajar SD, SMP, dan SMA. “Sehingga pelajar dari keluarga miskin tidak minder saat sekolah. Saat temannya beli jajan di kantin, dengan uang saku dari pemerintah ini mereka bisa juga ke kantin. Bisa belajar dengan perut kenyang,” ujar Anas.

Anas juga membangun Mal Pelayanan Publik yang mengintegrasi 199 jenis izin/layanan dalam satu tempat. Itu tercatat sebagai Mal Pelayanan Publik pertama di Indonesia yang dikelola pemerintah kabupaten.

Mantan ketua umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) itu menambahkan, Banyuwangi juga membuka aksesibilitas dengan mengoperasikan bandara yang kini telah menjadi bandara internasional.

“Dari dulu tidak ada penerbangan, kini setiap hari ada sembilan rute yang dilayani di Bandara Internasional Banyuwangi, mulai dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, hingga Kuala Lumpur. Sebentar lagi Insya Allah juga ada rute Yogyakarta-Banyuwangi,” pungkas Anas. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.