Cara Unik Seniman Hadapi Corona

Yovie Wicaksono - 6 April 2020
Alifiman Eratama penggagas Virtual Art Exhibition dengan tajuk “Defuse” yang dapat diakses melalui media sosial Instagram dan Facebook sejak Sabtu (4/4/2020) lalu. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Bagi seniman, khususnya pelukis, pameran adalah sebuah siklus hidup. Yakni berkarya lalu menggelar pameran sebagai wadahnya.

Namun di tengah pandemi virus corona (Covid-19) ini aktifitas pelukis menjadi terbatasi. Pameran yang biasa di gelar di galeri sementara waktu harus terhenti, terlebih setelah adanya imbauan dari pemerintah untuk melakukan physical distancing guna mencegah penyebaran virus corona.

Berawal dari kegelisahan inilah, Pendiri Paguyuban Sedikit Masyarakat Seni (PSMS), Alifiman Eratama menggagas sebuah pameran alternatif, yakni Virtual Art Exhibition dengan tajuk “Defuse” yang dapat diakses para pecinta seni melalui media sosial Instagram di @psms_sub dan Facebook di @paguyubanseni sejak Sabtu (4/4/2020) lalu.

“Ini bermula dari kegelisahan saya atas keterbatasan kondisi saat ini. Kemudian muncul ide untuk membuat pameran alternatif yaitu pameran virtual ini,” ujarnya kepada Super Radio, Senin (6/4/2020).

“Defuse yang berarti menjinakkan atau mengurangi bahaya sebuah situasi ini erat kaitannya dengan saat ini. Melalui pameran virtual ini kita ingin terus produktif dan tetap menjalankan imbauan pemerintah terkait physical distancing untuk membantu mengurangi penyebaran Covid-19 ini,” imbuhnya.

Ia mengatakan, pameran virtual ini tetap memperhatikan penataan setiap karya yang di unggahnya. Hal itulah yang membedakan postingan media sosial biasanya dengan konsep pameran virtual ini.

“Jadi mulai frame dan penataan kita buat virtual dan tentunya tidak asal posting. Pameran ini berlangsung sampai waktu dan situasi kembali kondusif, artinya selama masa pameran itu kami tidak menginformasikan kegiatan apapun atau mengunggah apapun,” ujarnya.

Ia menambahkan, pameran ini mendapat respon cukup baik dari pelukis lain yang terlihat antusias untuk bergabung dalam pameran tersebut.

Setidaknya ada 50 pelukis dari berbagai daerah turut berpartisipasi dengan total 60 karya yang beberapa diantaranya menggambarkan situasi saat ini, yakni mewabahnya Covid-19.

Alifiman sendiri menghadirkan dua karya berjudul Pejalan dan Terpilih. Ia mengatakan, dua karya tersebut bercerita tentang ujian atau cobaan hidup.

“Kita ini kan sebenarnya adalah pejalan. Menjalani apa yang sudah digariskan. Setiap pejalan itu sendiri selalu ada cobaannya. Mungkin, dengan adanya wabah ini kita ini manusia sedang dicoba,” ujarnya.

Alifiman mengatakan, 20 persen dari hasil penjualan karya yang dipamerkan akan didonasikan kepada masyarakat yang membutuhkan dengan berupa hand sanitizer dan paket sembako.

“Pameran ini juga digagas untuk saling berbagi, karena seniman sendiri sangat terdampak. Maka pameran ini mewadahi para seniman agar karyanya laku dan menyisihkan sebagian yang laku tadi untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.