TK Maria Montessori Galuh Handayani Terapkan Sistem Belajar Berbeda Tiap Siswa

Yovie Wicaksono - 9 June 2022
Para peserta didik TK Maria Montessori Galuh Handayani saat melakukan kelas memasak. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Taman Kanak-Kanak (TK) memiliki peran penting untuk membentuk karakter anak, karena menjadi fondasi dalam meraih masa depan yang gemilang.

Dengan semangat itulah, Sekolah Inklusif Galuh Handayani, sebagai salah satu unit kerja Yayasan Bimbingan Peningkatan Prestasi Siswa (YBPPS) hadir.

“Semua anak itu wajib dan berhak memperoleh pendidikan, bagaimanapun kondisi anak tersebut mereka harus tetap belajar. Jadi semangat awalnya ya education for all,” ujar Ketua YBPPS, Delta Sauma Rachma, Kamis (9/6/2022).

Ia menambahkan, TK Maria Montessori Galuh Handayani yang terletak di Jalan Manyar Sambongan 83-89 Surabaya ini menggunakan metode Montessori yang dinilai lebih inklusif. Dimana tiap anak adalah berbeda, termasuk cara mereka belajar.

Sementara itu, Kepala TK Maria Montessori Galuh Handayani, Kasiyati menjelaskan, sebagai sekolah inklusi, maka ada pendekatan yang berbeda.

Calon siswa harus melalui identifikasi dan asesmen yang dilakukan oleh unit Assesment Center Galuh Handayani, sehingga didapatkan profil masing-masing peserta didik meliputi kelebihan dan kekurangan untuk menentukan metodologi pembelajaran apa yang sesuai dengan kondisi peserta didik.

“Ada tim terapi, psikolog, dokter, kepala sekolah, guru, semua bergabung disini untuk menentukan anak ini mau diapakan, ditempatkan dimana, ikut terapi apa. Jadi tidak hanya sekolah tetapi kita juga memberikan terapi untuk anak,” kata perempuan yang mengajar di Galuh Handayani sejak 1996 ini.

Untuk mendukung proses pembelajaran peserta didik, TK Galuh Handayani mengembangkan kurikulum menjadi beberapa model sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Mulai dari Kurikulum Eskalasi, Duplikasi, Modifikasi, Substitusi, dan Omisi.

Pembelajaran juga mencakup lima bidang pengembangan, yakni bahasa, kognitif, seni, ketrampilan dan emosional.

“Termasuk kemandirian, itu yang paling penting. Di sini kami menyebutnya bina diri. Karena orang tua maupun kami tidak selalu ada untuk mendampingi mereka. Jadi mereka harus mandiri, paling tidak memakai baju atau makan sendiri. Lalu disusul pengembangan akhlak,” katanya.

Sebelum memulai pembelajaran, tenaga pendidik terlebih dahulu harus mengetahui suasana hati para muridnya, tak jarang mereka memberikan hal-hal yang menjadi kesukaan anak-anak dulu sebelum belajar.

“Kadang kita ajak olah raga dulu, sampai mereka enjoy, nanti baru masuk edukasinya. Jadi bermain sambil belajar. Kita lebih banyak praktiknya juga di sini,” ujarnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.