Cara Atasi Perilaku Sulit Anak Berkebutuhan Khusus

Yovie Wicaksono - 8 July 2023
Ilustrasi. Foto : (Shutterstock)

SR, Surabaya – Setiap anak memiliki caranya tersendiri untuk mengekspresikan diri, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pada ABK diperlukan perlakuan khusus dalam menghadapi setiap perilakunya. Hal ini dikarenakan dalam mengekspresikan diri ABK cenderung tidak sama dengan tuntutan lingkungan. Sebab itu, ABK dirasa memiliki perilaku yang sulit dikendalikan orang tua dan perlu cara efisien untuk mengatasinya.

Setiap larangan yang diberikan orang tua, justru dilakukan sang anak. Bukan karena ia tidak mengerti bahwa itu dilarang, melainkan keingintahuan dari mengapa ia dilarang lebih tinggi daripada cara orang tua melarang. Oleh karenanya, perlu alasan mengapa orang tua melarang. Tidak hanya itu, alternatif atau pengganti dari larangan juga harus disediakan. 

Semisal anak kecanduan bermain games di ponsel, maka orang tua hendaknya mencari tahu apa yang membuat anak kecanduan. Selanjutnya berikan perangkat pengganti yang lebih efisien tanpa harus menggunakan ponsel seperti memberikannya peralatan mainan untuk menyibukkannya tanpa bermain di ponsel.

Perilaku yang sulit diatasi selanjutnya adalah emosi anak. Terkadang orang tua kebingungan untuk bersikap yang tepat ketika perilaku anak yang suka marah hingga bermanja-manja. 

Umumnya, orang tua akan segera menuruti permintaan anak daripada membiarkannya marah. Padahal cara tersebut justru menjadikan anak semakin manja. Bahkan, tanpa disengaja anak akan mampu membaca pola perilaku orang tua kepadanya. Sehingga ketika anak menginginkan sesuatu, ia akan menangis, karena orang tua akan menuruti keinginannya. 

Namun, ketika orang tua tidak memenuhi keinginannya, ia akan menangis lebih keras atau meluapkan emosi negatif hingga orang tua memberikan keinginannya, begitu seterusnya.

Orang tua juga harus membaca pola tersebut agar tidak menjadikan anak sebagai pengatur orang tua. Orang tua juga harus berani mengganti pola dengan cara yang lebih efisien. Contohnya, ketika anak menginginkan sesuatu ia harus membantu pekerjaan rumah, belajar, membaca buku cerita, atau hal positif lainnya. 

Jika ia sudah mengerjakan, maka ia mendapat  apa yang diinginkan. Cara ini tentu harus dikomunikasikan antara orang tua dan anak supaya anak dapat memahami dengan baik dan tanpa sengaja mengikuti pola tersebut. 

Apabila anak ingin mengekspresikan hal buruk dengan tujuan baik, alternatifnya ajarkan anak untuk berekspresi baik supaya memperoleh tujuan yang baik. Contoh ketika anak berlarian tak tentu arah atau bahkan membuat kekacauan. Perilaku tersebut merupakan ekspresi yang bertujuan mencari perhatian. 

Maka komunikasikan dengan mengganti cara berekspresinya. Misalnya dengan memeluk orang tuanya, memperbanyak senyuman, berpenampilan rapi, dan berbagai ekspresi positif lainnya. 

Setiap jengkal perilaku ABK adalah ekspresi yang ingin ia tunjukkan. Perilaku tersebut tentu memiliki tujuan dan fungsi masing-masing. Sebagai orang tua, memahami setiap ekspresi anak akan memudahkan dalam mengatasi perilaku sulit anak. (*/vi/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.