Cara agar Merdeka dari Covid-19
SR, Surabaya – Jika dulu para pahlawan bangsa bersatu, bergotong royong untuk mengusir penjajah, kali ini seluruh warga negara Indonesia harus bergerak bersama dalam menangani pandemi Covid-19 yang menjadi musuh bersama.
Dengan menjunjung tinggi rasa persaudaraan dan kemanusiaan, masyarakat berbondong-bondong memberikan sumbangsihnya untuk bisa menyelamatkan sesama dan bangsa. Dalam hal ini, Kota Surabaya bisa menjadi contoh.
Saat Kota Pahlawan sedang mengalami puncak penyebaran kasus Covid-19, pada Jumat (2/7/2021), Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mendeklarasikan pembentukan tim relawan bernama Surabaya Memanggil yang berisi arek-arek Suroboyo untuk membantu menanggulangi Covid-19.
Tanpa imbalan dan bayaran, arek-arek Suroboyo yang saat itu berjumlah 50 orang dan berasal dari berbagai latar belakang, bersatu demi kesembuhan kota tercinta. Dan jumlah itu terus bertambah seiring dengan tingginya antusias membantu sesama. Kini, anggotanya telah mencapai sekira 1000 orang.
“Awalnya anggota berjumlah 50 orang, lalu setelah dibuka pendaftaran menjadi 2500 tapi seiring berjalannya program, sekarang sisa kurang lebih 1000 relawan yang aktif, karena ada yang mengundurkan diri, ada yang kita masih belum membutuhkan,” kata Koordinator Surabaya Memanggil, Aryo Seno Bagaskoro, Rabu (11/8/2021).
Pria yang akrab disapa Seno ini mengatakan, kehadiran relawan Surabaya Memanggil, ibarat pertandingan yang sedang berada di fase injury time. Dari momentum inilah, anggota yang sebelumnya tidak mengenal satu sama lain, bersatu dan gotong royong memberikan energi kesembuhan yang dahsyat untuk Surabaya.
“Saya juga alumni Covid-19 dua kali, teman-teman juga ada yang menjadi penyintas, tapi saya sudah merasa berteman dengan Covid-19, tubuh saya sudah kenal dengan virusnya dan karena sudah vaksin, imun saya juga sudah terlatih, jadi bukan penghalang untuk tetap di Surabaya Memanggil,” ujarnya.

Setelah program dimulai, para relawan langsung diberikan pembekalan untuk kemudian ditempatkan di berbagai tempat, yakni Rumah Sakit Lapangan Tembak Surabaya (RSLT), Krematorium, Dinas Sosial, Puskesmas, percepatan vaksin, hingga kecamatan.
Setelah itu, mereka dibagi dengan tugas masing-masing, seperti driver ambulans, pemulasaran jenazah, runner oksigen, sosialisasi Covid-19, dan entry data, dengan jam kerja yang menyesuaikan situasi pos penempatan. Misal, pada driver ambulans jenazah dengan penyesuaian 3 shift kerja yang bisa dipilih oleh para relawan. Lalu di Puskesmas dengan 2 shift, dan pada percepatan vaksinasi massal yang membutuhkan waktu sehari penuh.
Tentu dalam hal ini tidaklah mudah untuk melakukan penyesuaian pada pekerjaan yang sebelumnya belum pernah mereka jamah itu. Banyak dinamika yang dialami relawan baik di internal maupun saat terjun ke lapangan. Misal saat berhadapangan dengan masyarkat yang tidak percaya dengan Covid-19, sehingga perlu diberikan pengertian dan berkoordinasi dengan Camat setempat.
“Karena memang kita ini relawan ya, bukan karyawan, jadi menghadapinya juga teman-teman di lapangan banyak dinamika. Bagaimana kita harus menyesuaikan dengan situasi. Misalnya pada saat Surabaya memutuskan untuk membangun Rumah Sehat di tiap kelurahan,” ucapnya.
“Di internal juga karena ada banyak kepala, ya ada satu dua yang rumit, jadi kalau menemui hal itu kita tinggal dulu, kita fokus membantu masyarakat, setelah itu baru diselesaikan bersama,” sambungnya.
Ia mengatakan, para relawan secara inisiatif tergerak dan terdorong untuk memberikan lebih melalui apa yang mereka bisa. Jika tidak bisa menyumbang materi, mereka menyumbang tenaga, pemikiran, ide, dan itu menjadi sebuah energi gotong royong yang luar biasa.
“Sehingga betul-betul semuanya bekerja bareng dan itu luar biasa, karena kebanyakan dari teman-teman ini mungkin baru pertama kenal ya disini, tapi dipersatukan karena satu mimpi akan kemanusiaan yang sama,” ucapnya.
Seno menyebut, selama sekira 1 bulan lebih ini, banyak pengalaman mengharukan yang dialami oleh para relawan. Seperti pada mereka yang bertugas memulasarkan jenazah. Mereka betul-betul merasakan ketika Surabaya mengalami puncak kasus Covid-19. Dimana dalam sehari, mereka mengevakuasi kurang lebih 170-180 jenazah.
“Tidak hanya orang dewasa, bahkan ada anak-anak yang harus meninggal karena Covid-19. Mereka menghadapi situasi itu, dengan keluarganya dan lain sebagainya dan betul-betul sedih saat kemarin puncak itu,” sambung pria yang juga menjabat sebagai Ketua Taruna Merah Putih itu.
Dengan usaha keras dari berbagai pihak, relawan Surabaya Memanggil berhasil meluluskan alumni sekira 19.000 orang dari RS. Asrama Haji, dan penurunan Bed Occupancy Rate (BOR) di Surabaya yang mencapai angka 60-70 persen. Tidak berhenti disitu, mereka akan menggencarkan vaksinasi agar target herd immunity di Kota Pahlawan ini dapat tercapai.
“Alhamdulillah sekali, kita bahagia sekarang ini mulai landai semuanya. Kalau dulu pertengahan Juli itu BOR bisa sampai 100 persen, per Rabu (11/8/2021) kita sudah ada di angka 60-70 persen. Dan di RSLT kemarin kita juga mendapat kabar membahagiakan, BOR nya di RSLT sudah 0 persen, artinya tidak ada pasien sama sekali disana selama beberapa hari terakhir ini,” tuturnya.
Gerakan Surabaya Memanggil ini juga memantik pelajar di Kota Surabaya untuk menginiasi aksi sosial membantu sesama pelajar dan masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 yang dinamai Gotong Royong Sekolah Peduli Suroboyo.
Para pelajar ini datang silih berganti ke sekolah masing-masing dengan didampingi orang tua sambil membawa bahan kebutuhan pokok, seperti beras, mie instan, gula, hingga minyak goreng yang langsung dimasukkan ke dalam drop box yang telah disiapkan di posko bantuan Gotong Royong Sekolah Peduli Suroboyo di halaman sekolah. Seperti yang dilakukan di SD Negeri Airlangga 1 Surabaya.
Salah satu siswi kelas 6 SD bernama Natalia Wahyu Putri mengaku, senang bisa menjadi bagian dalam membantu Kota Surabaya. Ia pun mengajak agar seluruh pelajar se-Surabaya ikut berperan dalam menekan laju penyebaran Covid-19 dengan cara menyisihkan rezekinya untuk warga yang terdampak Covid-19.
“Teman-teman ku di Surabaya, ayo berdonasi ini bermanfaat lho untuk kita semua, kita saling berbagi membantu sesama,” pungkasnya.

Dari hasil gotong royong para pelajar Surabaya itu, terkumpul sejumlah kebutuhan pokok, seperti 134.5 ton beras, 35.628 liter minyak goreng, 42,7 ton gula, dan 11.401 dus mie instan. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan bantuan berupa uang tunai sebesar Rp 1.047.522.500.
Secara simbolis, bantuan tersebut diberikan oleh pelajar kepada sesama pelajar yang kehilangan orang tuanya karena pandemi Covid-19 dengan disaksikan langsung oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi beserta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Surabaya di halaman Balai Kota Surabaya, Jumat (13/8/2021).
Ketua Organisasi Pelajar Surabaya (Orpes) Aloysiana mengatakan, dirinya merasa senang sekaligus iba ketika menyalurkan bantuan secara langsung kepada teman-temannya. Bantuan berupa uang tunai yang diberikan merupakan hasil dari menyisihkan uang saku dan tabungan yang mereka miliki. Ia pun menyampaikan terimakasih kepada seluruh pelajar yang sudah berpartisipasi dan berkontribusi dalam program gotong royong Surabaya peduli.
“Terimakasih kepada seluruh pelajar yang sudah berpartisipasi dan berkontribusi dalam program Gotong Royong Sekolah Peduli Suroboyo. Semoga ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Kalau pelajar Surabaya bisa, warga Surabaya yang lain juga pasti bisa memberikan bantuan yang sama,” sambungnya.
Sementara itu, GUSDURian Peduli bersama dengan sejumlah organisasi juga turut serta memberikan bantuan untuk sesama, khususnya bagi masyarakat yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman) berupa permakanan setiap harinya.
Berkonsep dari warga untuk warga, dalam sehari GUSDURian Peduli menyalurkan 300 paket permakanan yang berisi vitamin, madu, masker, buah-buahan dan makanan untuk siang dan malam hari.
“Ini berjalan sekira satu bulan. Kita ingin mengapresiasi warga yang secara sadar dan mau melakukan isolasi dirumah dan kita mencoba membantu agar mereka sudah tidak lagi berpikir mereka besok makan apa, tapi sudah ada makanan yang bisa mereka santap setiap hari selama masa isoman itu,” ujar Koordinator GUSDURian Jawa Timur, Yuska Harimurti.

Yuska mengatakan, situasi saat ini merupakan momen yang tepat untuk membuktikan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang warganya suka bergotong royong.
“Ayo kita gotong royong. Merdeka dengan membangun solidaritas menyelamatkan bangsa, menuju Indonesia pulih!” tandasnya.
Sama-sama bergerak untuk membantu masyarakat yang sedang menjalani isoman, Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) DPD PDI Perjuangan Jawa Timur lebih berfokus pada penanganan secara medisnya.
Para kader yang terlibat didalamnya membantu pasien Covid-19 yang tidak mendapatkan tempat di Puskesmas maupun Rumah Sakit sehingga terpaksa menjalani isolasi mandiri di rumah. Mereka membantu melakukan pemeriksaan kondisi pasien mulai saturasi oksigen, fisik, dan gejala yang ada dengan dibantu dua dokter dan tim supporting.
“Misal dia butuh oksigen, kita ada stok khusus yang tidak diperjual belikan yang memang untuk dipinjamkan pada warga yang isoman, jadi kita ngirim kesana. Atau waktu isoman dia butuh ambulans untuk mengirim ke Rumah Sakit karena kondisi yang kritis, kita juga melaksanakan dengan nol rupiah,” ujar Sekretaris Baguna DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Bayu Utoro.

Pihaknya juga berkoordinasi dengan RT setempat untuk melakukan pengumpulan data siapa saja warga yang membutuhkan oksigen agar nantinya warga tidak bersusah payah membeli dengan biaya yang tinggi.
Selain itu, pihaknya juga rutin memonitor kondisi pasien melalui pesan singkat, serta terus memberikan edukasi bagaimana cara melakukan isoman di rumah yang benar lantaran masih banyak masyarakat yang keliru dalam penerapan isolasi mandiri.
“Yang terjadi di masyarakat itu isoman nya aja sudah keliru, mereka menutup kamar, menutup rumah sehingga sirkulasi udara juga gak ada, dia juga gak ikut berjemur padahal sudah ada edukasi tentang sinar matahari untuk vitamin D nya. Jadi kita edukasi dan pantau terus,” lanjutnya.
Lalu, ketika pasien berhasil melewati masa isolasi mandiri dan dinyatakan negatif melalui swab antigen, maka pihaknya akan melakukan sterilisasi dengan menyemprotkan cairan disinfektan ke seluruh sudut rumah.
“Setelah isoman pasti kita lakukan penyemprotan. Jadi kalau dia sudah isoman selama 13 hari, dan di swab antigen negatif, ya sudah kita laksanakan untuk penyemprotan disinfektan,” ujarnya.
Pihaknya sementara ini membuka layanan on call 24 jam untuk masyarakat yang membutuhkan. Sejauh ini Baguna DPD PDI Perjuangan Jawa Timur telah membantu sekira 100 orang sembuh dari Covid-19 melalui isolasi mandiri (isoman) dan mengantar kurang lebih 10 jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
“Paling jauh sampai mengirim ke Sampang. Sementara ya kita beberapa kali turun di daerah Waru, Rungkut, Pepelegi dan daerah sekitar kantor DPD,” imbuhnya.
Berkat gotong royong semua pihak, pada Rabu (11/8/2021), Kota Surabaya melepas status zona merah menuju zona orange alias risiko sedang.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, meskipun Surabaya sudah masuk dalam zona oranye, tetapi hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang agar Kota Pahlawan segera terbebas dari Covid-19.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tetap konsisten dalam menerapkan protokol kesehatan dengan mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas yang tidak perlu, sehingga Kota Surabaya dan Indonesia bisa lekas merdeka dari pandemi Covid-19. (hk/fos/red)
Tags: Baguna DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, COVID-19, gotong royong, Gotong Royong Sekolah Peduli Suroboyo, GUSDURian Peduli, Merdeka, Pahlawan bangsa, Surabaya Memanggil
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





