Berbakti kepada Negara dan Leluhur Moral Cerita “Wahyu Catur Pujonggo”
SR, Sidoarjo – Pagelaran Wayang Kulit Gagrak Porongan putaran ke-9 di Desa Jenggot, Kecamatan Krembung, Sidoarjo mendapat sambutan hangat warga, Sabtu (25/10/2025). Terlebih pagelaran akan dimainkan dua dalang secara estafet oleh Ki Dalang Hasan dan Ki Dalang Ngadolah
Di tengah suasana yang penuh tantangan ekonomi dan sosial saat ini, pemerintah perlu membekali masyarakat akan nilai-nilai luhur yang bisa dijadikan tuntunan. Sabtu malam itu, dua dalang kondang itu sepakat melakonkan wayang kulit dengan judul “Wahyu Catur Pujongo”.
Menurut Ki Hasan lakon ini menceritakan pencarian seorang ksatria yang menghadapi tugas berat dengan berbagai hambatan yang harus dilewatinya. Dalam usahanya menuntaskan tugas suci itu, Ki Hasan menyampaikan empat hal yang harus dikerjakan agar sukses meraih apa yang dicita-citakan.
Hal pertama yang wajib dilakukan adalah patuh kepada orang tua. Berikutnya berbakti kepada negara. Ketiga, taat dan patuh kepada guru. Yang terakhir memuliakan leluhurnya. “Berbekal empat itu, maka satria berhasil menghadapai segala rintangan dan bahkan mendapatkan anugerah yang tak terhingga dari raja,” cerita singkat ki dalang.
Dalam pegelaran wayang kulit gagrak porongan di Desa Jenggot, dihadiri dan dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Bahasa Sastra Kabupaten Sidoarjo Kartini SPd MPd. Dalam sambutannya Kartini melaporkan bahwa gelaran wayang 12 titik masih menyisakan 3 putaran lagi. Yakni pagelaran ke-10 pada 1 November di Desa Gedong Rowo, Kecamatan Prambon. Selanjutnya, penampilan ke-11 di Desa Gelam Kecamatan Candi. Yang terakhir, titik ke-12 digelar di Desa Jimbaranwetan, Kecamatan Wonoayu.
“Wayang Gagrak Porongan 12 titik ini sudah berjalan dua tahun. Dinas Kebudayaan sudah usulkan gelaran di 18 kecamatan tapi anggaran belum mencukupi. Mari kita doakan bersama semoga tahun depan bisa digelar di 18 titik (kecamatan),” kata Kartini.

10 Objek Kebudayaan
Dalam kesempatan itu Kartini menerangkan Dinas Pendidikan Kebudayaan Sidoarjo mengemban amanat melestarikan dan mengembangkan 10 objek budaya benda dan non benda, wayang kulit Gagrak Porongan termasuk peninggalan budaya non benda. “Pemerintah pusat menginstruksikan jika ada peninggalan non benda yang hilang atau mati hendaknya digali lagi,” kata Kartini.
Lebih jauh Kartini menyebut peninggalan budaya non benda di antaranya berbentuk kesenian, bahasa, permainan rakyat. “Permainan rakyat itu seperti misalnya dakon, lompat tali, patelele. Apakah permainan ini masih ada? Jika ada, hendaknya dikembangkan agar tidak punah, misalnya dengan cara dilombakan saat hari kemerdekaan,” pesan Kartini.
Budaya non benda lainnya, adalah ilmu pengetahuan tradisional, alat-alat tradisional, manuskrip, cerita-cerita rakyat hendaknya diinventarisir dan dilaporkan ke Dikbud Sidoarjo. “Misalnya ada punden biasanya menyimpan sejarah tutur, ini bisa digali dan diusulkan sebagai cagar budaya,” imbuhnya
Kemudian Kartini menjelaskan pencatatan 10 objek budaya itu nantinya akan dinilai dan dipertimbangkan oleh dinas kebudayaan untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Saat ini Sidoarjo sudah menetapkan sebanyak 33 cagar budaya, salah satunya Candi Pari, bahkan sudah masuk cagar budaya peringkat provinsi Jawa Timur
Untuk warisan budaya pertunjukkan yang telah ditetap seperti Reog Cemandi yang ada di Kecamatan Sedati, kemudian rias pengantin Putri Jenggolo. “Berikutnya mungkin Di desa Jenggot ini ada warisan budaya lainnya bisa didaftarkan, mungkin ada makanan tradisional khas Jenggot itu juga masuk warisan budaya tak benda,” pungkasnya. (ton/red)
Tags: desa jenggot, gagrak porongan, krembung, superradio.id, wayang kulit
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





