BEM ITS Ingatkan 8 Kasus Pelanggaran HAM Tak Kunjung Tuntas

Rudy Hartono - 31 October 2025
Instalasi boneka tertusuk tombak simbol aktivis dibungkam,  dikelilingi delapan kursi, simbol delapan kursi presiden di Indonesia, di pameran "Merajut Ingatan yang Hilang" di ITS Surabaya pada Rabu (29/10/2025). (foto: bima aditya/superradio.id)

SR, Surabaya – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berkolaborasi bersama Humanies Project, KontraS Surabaya, dan LBH Surabaya menggelar pameran pelanggaran HAM bertajuk “Merajut Ingatan yang Hilang” di Plaza Dr. Angka ITS Surabaya, mulai 28 hingga 31 Oktober 2025.

Pameran yang berlangsung setiap hari pukul 09.00 hingga 19.00 WIB ini mengajak masyarakat untuk kembali menengok luka lama bangsa, lewat karya visual dan instalasi yang menggugah kesadaran tentang keadilan yang belum tuntas.

Foto aktivis HAM: Munir, Marsinah, tragedi Kanjuruhan merupakan kasus pelanggaran HAM yang ditampilkan di pameran  pameran “Merajut Ingatan yang Hilang” di ITS Surabaya pada Rabu (29/10/2025) (foto: bima aditya/superradio.id)

Terdapat delapan infografis isu pelanggaran HAM yang ditampilkan, mulai dari kasus penghilangan paksa, kekerasan terhadap aktivis, hingga pelanggaran masa lalu yang hingga kini belum mendapatkan penyelesaian hukum. Tak hanya itu, sebuah instalasi berbentuk pria tertusuk tombak menjadi pusat perhatian pengunjung.

Ketua pelaksana pameran, Wisnu Hari Adji, menjelaskan makna dari karya tersebut adalah seseorang aktivis yang ingin menyuarakan pendapatnya namun dibungkam oleh pemerintah.

Foto-foto aktivis mahasiswa pejuang Reformasi yang hilang hingga kini belum ditemukan di pameran  “Merajut Ingatan yang Hilang” di ITS Surabaya pada Rabu (29/10/2025) (foto: bima aditya/superradio.id)

“Instalasi itu menggambarkan seorang aktivis yang tertusuk tombak karena berani menyuarakan pendapatnya. Di sekelilingnya ada delapan kursi yang melambangkan delapan presiden Indonesia, dan belum satu pun yang benar-benar menyelesaikan kasus pelanggaran HAM,” ungkapnya.

Menurut Wisnu, pameran ini lahir dari keresahan terhadap lambannya penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Melalui karya visual, pihaknya ingin menghadirkan ruang refleksi sekaligus pengingat bagi publik.

“Kami ingin mengangkat isu-isu pelanggaran HAM yang belum terselesaikan sampai saat ini, sekaligus mengajak masyarakat untuk ikut peduli dan memahami persoalannya,” jelasnya.

Sejumlah infografis kasus pelanggaran HAM yang ditampilkan pada pameran “Merajut Ingatan yang Hilang” di ITS Surabaya pada Rabu (29/10/2025). (foto: bima aditya/superradio.id)

Meski menyadari ada potensi tekanan karena tema yang sensitif, panitia tetap berkomitmen menyuarakan isu kemanusiaan ini.

“Kekhawatiran pasti ada, tapi itu tidak menghalangi kami untuk tetap bersuara. Ini bentuk tuntutan kami ke pemerintah agar segera menyelesaikan pelanggaran HAM,” tegas Wisnu.

Pameran ini diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk tidak diam terhadap ketidakadilan yang terjadi. “Kami berharap teman-teman pengunjung bisa terus menyuarakan isu ini sampai benar-benar terdengar oleh pemerintah,” tutupnya. (bmz/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.