BPBD Kabupaten Malang Libatkan Pentahelix Simulasi Erupsi Gunung Kelud
SR, Malang – Pemerintah Kabupaten Malang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar Gladi Lapang atau Field Training Exercise (FTX) penanganan bencana erupsi Gunungapi Kelud di Selorejo Camping Ground, Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Latihan yang berlangsung pada 7-8 Juli 2026 ini digelar untuk menguji kesiapan personel lapangan sekaligus memangkas ego sektoral saat status tanggap darurat bencana ditetapkan. Latihan ini melibatkan unsur pentahelix secara luas, yakni TNI-Polri, BPBD Provinsi Jatim, BPBD Kota Malang, BPBD Kota Batu, akademisi, dan relawan lokal.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Malang Purwoto, dalam rilis yang diterima Superradio.id, Jumat (10/7/2026) menyebutkan alur FTX memakai skenario erupsi Gunungapi Kelud karena merepresentasikan ancaman yang berpotensi memengaruhi wilayah Kabupaten Malang dan sekitarnya yaitu Kecamatan Ngantang, Kasembon dan Pujon. “Ketiga wilayah berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Erupsi Gunungapi Kelud. Untuk itu, memerlukan respons lintas sektor yang cepat, terkoordinasi, dan terintegrasi,” ujarnya.

Berbagai simulasi penyelamatan ekstrem diperagakan di bawah tekanan waktu, di antaranya: Evakuasi mandiri dan massal warga ke titik pengungsian; Penyelamatan korban di jurang oleh tim vertical rescue; Pencarian korban reruntuhan oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) Kabupaten Malang; Manajemen logistik ke daerah terisolir menggunakan metode tension line; Penyelamatan korban tenggelam di air; serta Penyediaan fasilitas dasar seperti rumah sakit lapangan, dapur umum, dan sekolah darurat.
Didukung Penuh Pemerintah Australia
Tak ketinggalan, ditunjukkan bagaimana penanganan di masa transisi hingga pemulihan, wujud aksi berupa pemulihan awal sarana dan prasarana vital berupa pembersihan jalan dari materi erupsi, pembukaan akses dasar transportasi akibat erupsi, dan pemulihan dasar akses listrik.

“Gladi telah berlangsung dengan baik dan lancar. Meski begitu, koordinasi dan kinerja setiap organisasi perangkat daerah yang terlibat penanggulangan bencana tetap perlu ditingkatkan karena tantangan di lapangan terjadi jauh lebih kompleks,” ujar Purwoto usai latihan.
Ditambahkan, latihan itu mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Australia melalui program ketangguhan bencana SIAP SIAGA. “Indonesia adalah salah satu negara dengan risiko bencana terbesar. Maka, kegiatan penanggulangan bencana penting bagi negara ini. Selain itu, Indonesia merupakan negara yang penting bagi Australia,” pungkas Head of Subnational Program SIAP SIAGA, Deswanto Marbun.

Menghapus Ego Sektoral demi Keselamatan Warga
Pada puncak Gladi Lapang, Wakil Bupati Malang Latifah Shohin ikut menyaksikan langsung latihan. Ia mengatakan pentingnya kecepatan mengambil keputusan di saat status tanggap darurat telah ditetapkan oleh kepala daerah.
Latifah mengingatkan bahwa dalam situasi kritis, ego antar-instansi atau organisasi perangkat daerah (OPD) sering kali menjadi penghambat utama pendistribusian bantuan dan mobilisasi personel.
“Sinergi lintas sektor harus terus diperkuat. Jangan sampai ego sektoral menghambat proses penanganan darurat. Latihan ini adalah bentuk investasi keselamatan,” kata Latifah.
Pada kesempatan tersebut, Wabup Latifah juga menyerahkan paket bantuan kedaruratan berupa tenda keluarga, masker medis, dan matras untuk lima desa yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) II Erupsi Gunungapi Kelud, yakni Desa Pagersari, Pandansari, Sidodadi, Ngantru, dan Banturejo.

Gladi Alat Uji Rencana Kontingensi
Sementara itu, Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pangarso Suryotomo, mengapresiasi langkah Pemkab Malang yang berhasil merealisasikan rencana di atas kertas menjadi aksi nyata di lapangan.
Ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan operasi tanggap darurat ditopang oleh tiga dokumen dinamis, yaitu Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana (RPKB) sebagai fondasi strategis, Rencana Kontingensi (RenKon) untuk skenario ancaman spesifik, dan Rencana Operasi (RENOPS) sebagai pedoman teknis di lapangan.
“Gladi bukan sebatas latihan, tapi untuk menguji RenKon. Tugas dan peran dalam gladi harus dihayati dengan baik. Kelak jika ada bencana yang terdampak langsung adalah masyarakat. Mereka harus dilindungi dan diselamatkan,” pungkas Pangarso. (*/red)
Tags: bpbd kabupaten malang, Gunung kelud, simulasi erupsi, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





