Ki Sutikno : Kemerdekaan Berpikir adalah Tujuan Pendidikan Sebenarnya

Yovie Wicaksono - 3 May 2021

SR, Hong Kong – Pegiat Pendidikan Taman Siswa DIY, Ki Sutikno mengatakan bahwa selain semboyan Tut Wuri Handayani yang populer disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, sebenarnya ada empat cara belajar dan bekerja untuk meraih prestasi. Yang pertama, belajar dan bekerja keras untuk menempa fisik.

Hal tersebut disampaikannya dalam webinar yang diadakan Persatuan Mahasiswa Universitas Terbuka (PERMA UT) Kelompok Belajar Hong Kong (Pokjar HK) Hong Kong, dalam rangka memperingati May Day (Hari Buruh Internasional) 1 Mei sekaligus Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei.

“Kedua, belajar dan bekerja cerdas. Maka otak dan kemampuan akan terpacu dengan cepat sesuai dengan tuntutan era milenial. Ketiga, belajar dan bekerja ikhlas. Ini agar kita bisa menjadi orang-orang yang baik. Dan yang keempat, belajar dan bekerja tuntas. Inilah yang bisa menjadikan seseorang menjadi profesional dan akhirnya berprestasi,” ujar Ki Sutikno.

Selain kiat diatas, Ki Sutikno juga mengutip ucapan Ki Hajar Dewantara tentang penting dan mulianya menuntut ilmu.

“Sastra harjendra yuningrat pangruwating diyu. Bagi siapa orang yang memiliki ilmu yang luhur, dia adalah penyelamat dunia dan pemberantas kebiadaban. Itu adalah manusia yang sempurna dan paripurna,” lanjutnya.

Ki Sutrisno memaparkan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara sebenarnya adalah kemerdekaan berpikir.

“Berpikir dan dan berbuat sejauh tidak mengganggu kemerdekaan dan kebebasan orang lain. Serta bertindak swadisiplin. Disiplin atas kesadaran dari diri-sendiri. Itulah tujuan pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara,” ujar pria kelahiran Surabaya ini.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Rudi HB Daman menambahkan bahwa Ki Hajar Dewantara adalah salah satu tokoh inspirator bagi perjuangan kaum buruh di Indonesia. Salah satunya adalah lagu Internasionalisme yang awam dikenal kaum buruh, diterjemahkan dan digubah oleh Ki Hajar Dewantara ke dalam bahasa Indonesia.

“Lagu ini masih banyak dinyanyikan. Selain beliau juga berkontribusi dalam pembangunan semangat rakyat Indonesia, termasuk juga kaum buruh di era revolusi saat itu,” ujar Rudi.

Namun perlu dicatat pula, lanjut Rudi, khusus tentang korelasi pendidikan dengan perjuangan kelas kaum pekerja di Indonesia, tantangannya adalah jenjang pendidikan kelas pekerja yang rerata masih rendah.

“Catatan dari Kementerian Ketenagakerjaan, 56 persen pekerja di Indonesia berpendidikan SD dan SMP. Artinya ini menunjukkan kepada kita semua, tingkat pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Termasuk PMI (Pekerja Migran Indonesia) masih didominasi oleh lulusan pendidikan rendah,” papar Rudi.

Peran serikat atau organisasi buruh, tambah Rudi, menjadi sangat penting menutup celah rendahnya pendidikan. Serikat buruh, lanjut dia, di samping menjadi alat pemersatu dan alat perjuangan, juga bertanggung jawab mengedukasi anggotanya akan pentingnya kesadaran kelas.

“Serikat buruh hakikatnya adalah sekolah demokratis bagi rakyat pekerja. Oleh karenanya ada pendidikan yang berjenjang dan sistematis. Semua menjadi hal fundamental kaum buruh untuk berjuang mendapatkan hak-haknya. Kita juga ada edukasi mengenai teori dan taktik organisasional dan wawasan politik,” kata Rudi.

Pendidikan, menurut Rudi, adalah aktivitas utama bagi gerakan buruh. Dimana keterorganisasian kaum buruh adalah untuk membangun semangat, militansi dan tidak mudah menyerah.

Dilanjutkannya, pendidikan dan pengetahuan bagi buruh menjadi penting untuk memahami dirinya, mengenal permasalahannya, mengenal cara berjuang, memahami situasi obyektif, mengerti masalah dan tahu bagaimana cara mencari jalan keluarnya.

“Apalagi yang dihadapi adalah kapitalisme. Jadi membutuhkan pemikiran yang lebih maju. Makanya ini penting bagi buruh migran, penting untuk menyatukan diri dengan serikat buruh di negerinya,” pungkas Rudi HB Darman. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.