Bahasa Isyarat di Media Populer: Antara Representasi dan Tantangan Nyata

Rudy Hartono - 2 August 2025
Ilustrasi - Belajar bahasa isyarat. (net)

SR, Surabaya – Bahasa isyarat mulai mendapat ruang di layar kaca dan budaya populer. Dari karakter tuli di film hingga penampilan juru bahasa isyarat di panggung musik, kehadiran mereka memberi angin segar bagi inklusi. Namun, apakah ini sudah cukup?

Salah satu contoh yang cukup dikenal adalah serial Netflix Deaf U, yang menyoroti kehidupan mahasiswa tuli di Amerika. Di Indonesia sendiri, film Tegar (2022) sempat menampilkan anak dengan disabilitas dalam peran utama, meski penggunaan bahasa isyarat belum sepenuhnya dominan.

Menurut UNESCO, representasi kelompok disabilitas dalam media punya peran besar dalam membentuk persepsi masyarakat yang inklusif.

Sayangnya, di balik sorotan layar, jumlah aktor dan aktris tuli yang benar-benar terlibat masih terbatas. Sebagian besar hanya diundang untuk tampil sebagai “simbol”, bukan bagian dari narasi yang setara.

Kominfo RI dalam panduan inklusi medianya mendorong rumah produksi untuk menghadirkan tokoh-tokoh tuli secara autentik dan memberi ruang lebih luas pada juru bahasa isyarat dalam tayangan-tayangan publik.

Lebih dari sekadar “hadir”, representasi harus disertai pemahaman. Penonton juga perlu diedukasi bahwa bahasa isyarat bukan hanya bentuk komunikasi, tapi budaya yang khas. Hal ini juga didukung oleh Kemendikbudristek, yang melalui program pendidikan inklusifnya, terus mengupayakan agar bahasa isyarat diakui sebagai bahasa yang utuh dalam pendidikan dan ekspresi budaya.

Jadi, ketika melihat juru bahasa isyarat di layar TV atau aktor tuli bermain di film, mari kita sambut itu bukan sebagai ‘penghias’ semata, melainkan jembatan kesetaraan. (*/dv/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.