Autisme Itu Bukan Penyakit, Banyak Orang Tua Salah Paham

Rudy Hartono - 2 October 2025
Founder & CEO Malang Autisme Center, Mohammad Cahyadi (kanan) dan pemerhati autisme Chusnuer Ismiati (kiri) dalam diskusi bertajuk “Autisme dan Kita”  di Balai RW Rumah Literasi Digital, Senin (29/9/2025). (foto: bima aditya/superradio.id)

SR, Surabaya – Founder & CEO Malang Autisme Center, Mohammad Cahyadi menegaskan bahwa autisme bukanlah penyakit melainkan gangguan perkembangan saraf otak. Pengertian ini banyak disalahpahami oleh masyarakat, termasuk orang tua dari anak penderita autisme.

Sinyalemen Cahyadi dilontarkan dalam diskusi bertajuk “Autisme dan Kita”  di Balai RW Rumah Literasi Digital, Senin (29/9/2025). “Autisme itu bukan penyakit, tapi gangguan, jadi memang tidak bisa sembuh. Namun bisa dilatih jika kita sebagai orang tua terus merawat dan melakukan pendampingan yang tepat,” kata Cahyadi.

Kesalahpaham tentang autisme lantaran masih rendahnya literasi, informasi, dan edukasi di kalangan masyarakat. Indikasinya diketahui karena masih banyak orang tua yang menanyakan apakah autisme itu bisa sembuh.

“Sampai hari ini, setiap hari masih menerima pertanyaan dari orang tua apakah anaknya bisa sembuh. Itu artinya literasi di Indonesia masih rendah, apalagi literasi mengenai autisme. Jangankan masyarakat, orang tua dengan anak autisnya saja literasinya masih kecil sekali, itu sangat menyedihkan,” jelasnya.

Dalam sesi wawancara, Cahyadi menegaskan bahwa pemerintah memiliki peran besar dalam edukasi autisme melalui regulasi pendidikan. “Kalau komunitas jangan ditanya lagi, kami sudah berusaha keras. Yang harus ditanya justru pemerintah. Harusnya dari sekolah ada aturan yang turun dari pemerintah,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, Malang Autisme Center akan menggelar Malang Autisme Color pada 25–26 Oktober 2025 di Malang Creative Center. Acara tersebut menghadirkan lima dokter untuk memberikan edukasi terkait autisme kepada publik.

Imbau Tak Tetapkan Target

Sementara itu, pemerhati autisme Chusnuer Ismiati menekankan pentingnya paradigma sosial dalam mendampingi anak autis. Ia menilai orang tua tidak perlu memberi target terlalu tinggi, namun tetap fokus pada kemampuan anak.

“Kita sebagai orang tua harus menggunakan paradigma sosial. Misalnya anak tidak mampu dididik, maka masih ada mampu latih. Jangan punya target ketinggian, meski melihat anak autis lain bisa ikut lomba atau pidato. Itu bukan pesimis, tapi kita harus pakai paradigma yang tepat,” jelasnya.

Terkait kebutuhan edukasi tentang Autisme, Chusnuer meyakini perkembangan era digital bisa dimanfaatkan dalam pemberian informasi serta penanganan autisme.

“Gadget ini sangat membantu. Misalnya bisa dibuat aplikasi untuk mendeteksi apakah anak terindikasi autisme sebelum ditangani psikolog atau dokter. Jadi orang tua bisa preparing sejak dini dan langsung melakukan intervensi,” pungkasnya. (bmz/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.