Akhir Gagrak Porongan di Candi Pari sebagai Simbol Kemakmuran
SR, Sidoarjo – Di sepanjang 2024, Kabupaten Sidoarjo berhasil menggelar pentas wayang Gagrak Porongan di 12 titik mulai 7 Juni hingga 8 November 2024.
Dimulai dari Desa Watu Golong, Kecamatan Krian, Sidoarjo, yang menampilkan lakon “Sang Gunawan (Bubrah Alengka)” dengan dalang Ki Slamet Darmawan.
Lakon Sang Gunawan, menceritakan sosok Gunawan Kunta Wibisana, adik dari Rahwana, penguasa Kerajaan Alengka. Di latar belakangi kisah penculikan Dewi Shinta dalam kisah Rama-Shinta, Gunawan mengingatkan Rahwana agar mengembalikan Dewi Shinta, tetapi Rahwana menolak bahkan menusuk mata Gunawan hingga buta.
Gelaran wayang Gagrak Porongan ditutup dengan lakon Getih Putih yang dibawakan oleh Ki Yohan Susilo di Candi Pari. Lakon Getih Putih bercerita tentang kegelisahan Prabu Bhirawa Yaksa, raja raksasa di kerajaan Karang Gangsa, akibat munculnya wabah penyakit yang ganas dan luar biasa hingga membuat ratusan nyawa warga melayang setiap harinya. Raja Bhirawa merasa bertanggung jawab atas wabah ini dan dalam ritualnya, ia mendapat petunjuk untuk menumbalkan manusia yang memiliki darah putih agar peristiwa di Karang Gangsa berakhir.
Pemilihan Candi Pari dengan lakon ini, bukannya tanpa sebab, karena candi ini menjadi simbol kemakmuran.
Seperti diketahui, Candi Pari dibangun atas perintah Raja Hayam Wuruk sebagai penghormatan kepada sepasang petani yang telah menyumbangkan hasil panen padi miliknya demi mengentaskan rakyat Majapahit dari bencana kelaparan. Tak hanya itu, candi ini memiliki keunikan sebab mirip dengan candi di daerah Champa atau Vietnam Selatan.
Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo Tirto Adi senang dengan suksesnya acara pentas wayang Gagrak Porongan di 12 titik ini. Terlebih animo masyarakat sangat besar dalam menjaga kelestarian budaya ini.
Ditambahkan, tujuan pentas wayang Gagrak Porongan di 12 titik ini adalah mempromosikan kesenian tradisional asli Sidoarjo, agar lebih dikenal kembali yang sebelumnya kian redup ini.

Apresiasi 12 Dalang
Terkait dengan wayang kulit sendiri, sebelumnya tim ahli kebudayaan setempat telah berhasil mengumpulkan data dan ditemukan ternyata Sidoarjo punya wayang tipikal khusus (Cengkok), yakni wayang Gagrak Porongan. Wayang ini dipadukan dengan campursari wayang yang dipadukan dengan musik kontemporer sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat. “Saya rasa kegiatan ini harus terus dilestarikan,” ujar Tirto kepada superradio.id.
Sementara itu, sebagai bentuk penghargaan, Pemkab Sidoarjo memberikan sertifikat kepada 12 dalang yang turut andil dalam menyukseskan gelaran wayang Gagrak Porongan ini.
Berikut ini adalah daftar 12 nama dalang yang memperoleh sertifikat, disertai dengan tanggal pentas dan lakon yang ditampilkan:
- Dalang Ki Darmawan, di Desa Golong, Kecamatan Krian. (7 Juni 2024)
- Dalang Ki Rochmat Hadi, di Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu. (15 Juni 2024)
- Dalang Ki Surono Tawaar, di Desa Kedondong, Kecamatan Tulangan. (21 Juni 2024)
- Dalang Ki Bambang Sugio, di Desa Wilayut, Kecamatan Sukodono. (13 Juli 2024).
- Dalang Ki Ken Hata/Ki Satriyo, di Desa Urang Agung, Kecamatan Sidoarjo (19 Juli 2024)
- Dalang Ki Sigit Harimurti, di Desa Rangkah, Kecamatan Sidoarjo Kota
- Dalang Ki Hadiyono, di Desa Kedung Sukodani, Kecamatan Balong Bendo. (3 Agustus 2024)
- Dalang Ki Suwaji, di Desa Kedung Peluk, Kecamatan Candi (10 Agustus 2024.
- Dalang Ki Surono Gondo Taruno, di Desa Pabean, Kecamatan Sedati. (24 Agustus 2024).
- Dalang Ki Didik Iswandi, di Desa Wage, Kecamatan Taman. (31 Agustus 2024)
- Dalang Ki Joko Supriyanto, di Desa Waru, Kecamatan Waru. (6 September 2024).
- Dalang Ki Johan Suilo, di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong. (8 November 2024). (ng/red)
Tags: candi pari, gagrak porongan, sidoarjo, superradio.id, wayang kulit
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





